
Aku masih menikmati tehku saat kedua gadis ini berbicara satu sama dengan obrolan ringan, aku tidak tahu harus berbicara apa? Yang bisa kurasakan sekarang hanyalah perasaan canggung.
Pertama mereka membahas soal gaya hidup di desa dan di kota, kemudian makanan favorit mereka, dan terakhir ukuran tubuh mereka.
Pembicaraan seperti ini memang sangat khas terjadi di kalangan perempuan, aku ingat saat di masion Selly dan Sella juga selalu membahas hal ini. Karena mereka kembar keduanya berusaha untuk menjaga berat tubuh serta lekuk tubuh mereka tidak terlalu jauh satu sama lain.
"Nah, menurut Tuan Kazuya siapa yang memiliki tubuh bagus aku atau Helfina?"
Air teh menyembur dari mulutku.
Wanita di dunia ini tidak pernah membuatku tenang.
"Kalian harus telanjang agar aku bisa menilainya," balasku demikian hingga keduanya menatapku seperti melihat seekor serangga.
"Tidak punya akhlak."
"Aku juga berfikir begitu yang mulia ratu."
"Kalianlah yang menanyakan hal aneh-aneh padaku, dibanding itu... Felisa apa kau melakukan apa yang kuminta?"
"Ah, soal itu."
Felisa mengangkat satu tangannya lalu pelayan di belakangnya dengan cekatan memberikan dokumen ke tangannya yang mana setelah itu diberikannya padaku.
"Di sana tertulis nama para bangsawan yang turut berkerja sama dengan kerajaan Artana, sampai sekarang aku belum mengambil keputusan untuk mereka."
"Jika dibiarkan mereka akan melarikan diri," tambah Helfina.
"Helfina bisakah kau memimpin beberapa pasukan untuk menangkap mereka."
"Aku tidak keberatan soal itu, hanya saja bukannya ratu Felisa yang harusnya memberi perintah."
__ADS_1
"Tidak apa Helfina, mau aku atau tuan Kazuya keduanya sama saja.. lagipula kami akan menikah nanti."
Buakh.
"Aku tidak pernah tahu akan hal itu," teriakku.
"Eh, apa aku tidak mengatakannya," dengan malu-malu Felisa mengalihkan pandangannya dariku selagi menggaruk pipinya.
"Jangan bilang dari awal kau merencanakan ini?"
"Aku sudah mengatakan hal itu pada semua orang hingga mereka setuju memberikanmu kekuasaan setara denganku... sudah terlambat untuk menolak."
Aku hanya bisa mendesah pelan.
"Wanita itu sangat menakutkan."
Helfina menyentuh bahuku lalu berkata bagaikan seorang kakak perempuan.
"Pernikahan politik memang sering terjadi, jadi tak perlu dipikirkan.. pasti ratu Felisa menjebakmu haha."
"Oi, aku tidak seburuk itu, lagipula aku mencintai tuan Kazuya."
Hari ini penuh kejutan.
"Syukurlah Haru."
Awalnya aku menerima kekuasaan ini setelah dibujuk oleh Felisa untuk membantu kerajaan karena aku sendiri juga bertanggung jawab dengan kerusakan yang terjadi di negara ini, tapi entah kenapa aku malah berakhir seperti ini.
Felisa berusaha menenangkanku dengan senyuman menghiasi wajahnya.
"Jangan khawatir tuan Kazuya, meski kita menikah kau masih bisa tinggal di desamu... urusan kerajaan biar aku tangani, kau juga bisa menikahi wanita lain, tolong jangan bersedih."
__ADS_1
Yah, bukan itu masalahnya.
Kupikir setelah urusanku dengan Dewi Ristal selesai aku bisa kembali ke kehidupan damaiku, tapi sekarang itu malah akan terasa sulit.
Setelah kepergian Helfina dengan pasukannya, aku kini berada di atap menara istana selagi melihat pemandangan jauh di depanku, besok hari kami akan pergi ke perbatasan kerajaan Weisvia untuk berperang selagi ada waktu aku ingin melihat mata hari terbenam di sini.
Tak lama kemudian Felisa berdiri di sampingku dengan tatapan berbinar.
"Indah sekali bukan? Ketika kecil aku sering berada di sini bersama orang tuaku."
"Begitu."
"Apa kau memikirkan soal tadi, aku benar-benar minta maaf.. apa sebaiknya aku membatalkan pernikahannya?"
Itu akan mempermalukannya.
"Kurasa tidak perlu."
"Heh?"
Felisa memandangku heran.
"Yah.. aku mungkin sedikit menyukaimu."
"Cowok murahan."
Aku menarik pipinya.
"Uwaah... sakit, sakit."
"Memangnya kau memintaku untuk bersikap seperti apa?"
__ADS_1
"Aku cuma bercanda."
Aku melepaskan tanganku lalu kembali menatap matahari terbenam selagi mendesah pelan, karena sudah sejauh ini kurasa aku tidak perlu memikirkannya lagi.