
Bahkan setelah bekerja aku tetap saja tidak bisa tenang, salah satu pria muncul selagi bertanya padaku.
"Apa kau melihat pria jelek, dengan pakaian jelek, sandal jelek, serta rambut jelek, nasibnya juga jelek."
Orang ini hanya ingin mengatakan jelek kah?
"Dia sudah menunggak cicilan tiga bulan dan belum bayar."
"Dia tukang kreditnya," teriakku dalam hati.
Aku menunjuk ke arah orang itu pergi.
"Kalau tidak salah dia pergi ke arah sana."
"Thank you, mas bro.. Otw gue."
"Pergi sono."
Apa dia tidak lihat diriku sedang sibuk, batu bata di sini tidak bisa menyusun dirinya sendiri.
Skill kuli bangunan diaktifkan, teknik tangan dewa.
Aku menyusun batu bata dengan sangat cepat sebelum terhenti karena orang yang lain muncul untuk bertanya.
"Kawan, kau menemukan sebuah kunci tidak sekitar sini, aku tidak bisa kembali ke rumahku jika kuncinya belum ketemu.. bentuknya seperti ikan dengan rantai, harganya cukup mahal aku mendapatkannya dari pacarku yang merupakan tukang kunci terkenal di sekitar kota ini, bukan, sekitar wilayah ini."
Satu hal yang ingin kukatakan padanya.
"Bodo amat."
Saat dipikirkan lagi aku melihatnya.
"Seekor kucing menggigitnya, kukira dia sedang diintrogasi di kantor penjaga."
"Apa?"
__ADS_1
Dia segera berlari dengan cepat, setidaknya katakan terima kasih napa. Aku sudah membuang waktuku yang berharga.
Baru menyusun dua batu bata orang yang lain muncul. Sekarang yang datang wanita bahenol.
"Anu, apa kau melihat kakekku."
"Dia ada di kantor penjaga," kataku demikian.
"Hebat aku bahkan belum mengatakannya kau sudah tahu ciri-cirinya, seperti peramal."
"Cepat jemput kakekmu."
"Benar, terima kasih."
Dia juga berlari seperti atlit maraton.
Orang-orang sekarang suka berlari rupanya.
Tak lama kemudian dua orang suami istri kembali menggangguku.
"Ayah dan ibuku belum kembali apa kau melihatnya? Mereka sudah tua, mengenakan pakaian tua, serta mengenakan rambut tua."
Mungkin yang dimaksud ada di sana.
"Di kantor penjaga."
Yang pria berteriak.
"Apa? Bagaimana kau bisa mengetahuinya, seperti... itu penari ronggeng, tukang, odong-odong, tukang debus, bukan tukang asongan atau mungkin tukang sate, tukang beras?"
Dia hanya mengatakannya seperti apa yang dia lihat sekarang di sekitar kami.
"Lu ngajak berantem, kemarilah."
"Maksudku peramal, kami harus bergegas ke kantor penjaga, ayo."
__ADS_1
"Ba-baik."
Keduanya melesat mirip landak di dalam permainan game itu.
Selanjutnya yang bertanya adalah seekor kucing.
"Meong, meong, meong."
"Di kantor penjaga," jawabku dengan wajah bermasalah, dan kucing itu berlari dengan dua kaki.
Aku hanya bisa berteriak.
"Muke gile, kucing di dunia ini bisa lari dua kaki."
Walau banyak gangguan akhirnya aku bisa menyelesaikannya dengan baik, aku duduk di atas bambu yang dijadikan mirip seperti tangga, dari sini aku bisa melihat orang-orang yang baru kutemui termasuk tukang kredit dan seekor kucing juga.
Lain kali kurasa aku tidak ingin berbuat usil lagi pada orang lain.
Seorang penjaga memintaku turun, sepertinya aku akan ditangkap namun anggapanku ternyata salah.
"Ada apa ?"
"Kami akhirnya telah menemukan dalang sesungguhnya."
"Dan siapa itu?"
"Orang itu, dia menggunakan cangkul untuk merubah semua benda jadi pasir."
Aku mengalihkan pandangan ke arah pria yang ditunjuk si penjaga.
Tunggu, bukannya itu cangkulku.
Aku melirik ke arah cangkul yang kutinggalkan sebelumnya dan benar-benar sudah hilang.
Pada akhirnya aku dan penjaga itu berlari dengan cepat seperti flash.
__ADS_1
Sepertinya skill penambang pasirku merubah cangkul itu menjadi benda sihir.
Aku khawatir jika cangkulnya juga bisa mengeluarkan petir nantinya.