
Tarantula memuntahkan isi perutnya untuk mengeluarkan laba-laba lebih kecil dari sana, mereka mulai merayap di sekitar rumah untuk menyergapku dari segala arah, mereka bergantian melompat ke arahku dan aku menebas mereka selagi terus menjaga jarak dari yang besar.
Dua ekor pertama berhasil kukalahkan, laba-laba besar pun turut mengikutiku seperti predator yang tak pernah melepaskan mangsanya.
Aku berkelok-kelok di antara jalanan kemudian menyebarkan asap racun di sekelilingku, laba-laba kecil itu mulai lumpuh hingga tak bergerak kembali, Tarantula itu lebih pintar dari yang kuduga hingga dia memilih untuk diam tak memasuki asap tersebut.
Di saat itu, aku berlari memutar ke arah belakang tubuhnya, menebas secara diagonal untuk memotong beberapa kakinya hingga tumbang.
Tarantula berbalik ke arahku selagi menyemburkan zat asam dari mulutnya, setiap benda yang tertimpa cairan semuanya meleleh.
Aku melompat ke belakang bersamaan itu, kaki yang terpotong kembali tumbuh. Dan segera menyerangku dengan gerakan cepat, merusak dinding di belakangku dengan ledakan dahsyat.
Aku berguling ke samping lalu berlari selagi membawa pedang di tanganku.
Bayangan menyelimuti tanganku, dengan satu ayunan aku mampu menciptakan bilah hitam raksasa merobeknya menjadi dua bagian.
Daging bercampur darah menyebar ke tanah.
Saat aku berbalik, kedua potongan itu menjadi tubuh yang baru, kini ada dua laba-laba yang harus kuhadapi.
"Curang sekali."
Aku menangkis satu laba-laba namun laba-laba lain mengenai tubuhku hingga aku terlempar menabrak dinding, dengan hantaman keras tangan dan wajahku terluka, lebih dari itu, tubuhku mulai perlahan berubah menjadi tengkorak.
__ADS_1
Jika terlalu lama, aku benar-benar akan menjadi tengkorak seutuhnya.
Aku bangkit dan melompat ke bangunan saat kedua laba-laba menerjang ke arahku. Kurubah Grandbell menjadi busur lalu melesatka panah api hitam yang membakar salah satu laba-laba hingga tak bersisa.
Aku melompat ke bawah lalu menarik busur untuk menciptakan panah kedua, laba-laba yang tersisa berlari dengan kecepatan tinggi.
Jaraknya sekitar sepuluh meter...
Delapan meter...
Lima meter.
Tepat satu meter, kulesatkan panah dan langsung menghantamnya dengan bunyi "Bam"
Hembusan angin menerpa wajahku bersama api yang membara ke udara.
Setelahnya di luar kota kami semua berpamitan pada wanita yang kuselamatkan di Colosseum, dia akan kembali ke kampung halamannya dengan kereta yang sebelumnya membawanya kemari.
Dia datang kemari berdua, sayangnya dia akan pulang sendirian.
Rin memberikan sepasang kelelawar untuk melindunginya.
"Terima kasih atas semuanya, aku pergi."
__ADS_1
"Hati-hati di jalan."
"Kalian juga."
Aku hanya melihat kepergiannya dari kejauhan sampai sosoknya menghilang seutuhnya.
Gabriela berkata ke arah Rin.
"Aku sedikit penasaran, memangnya kelelawar milikmu sangat kuat."
"Satu saja sudah cukup untuk membunuh naga."
"Yang benar, di masa depan mungkin bisa mengambil alih dunia hanya dengan beberapa ekor saja."
Aku lebih baik diam tanpa mengatakan apapun lagi.
Sesampainya di pelabuhan, Gabriela dengan senang memainkan air laut di tangannya, ia juga bahkan mencicipinya berulang kali.
"Jadi ini yang dinamakan laut, Amnestha coba rasakan juga?"
"Aku tidak mau melakukannya."
"Sayang sekali."
__ADS_1
Gabriela hanya seorang yang terkurung dalam sumurnya karena itu, tidak ada yang berani menegurnya.
Karena akan ada badai kami baru bisa pergi keesokan harinya, kamipun memutuskan untuk mengambil salah satu penginapan untuk beristirahat.