Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 428 : Persiapan Perang


__ADS_3

Di lapangan yang luas itu, aku mengumpulkan beberapa pasukan di ibukota Weisvia kedua.


Lawan yang dihadapi kami adalah robot, karena itu melawannya dengan cara biasa tidaklah semudah yang bisa dilakukan.


Istilah senjata otonom lebih tepat untuk menggambarkannya.


Berbeda dengan pakaian mereka biasanya, mereka sekarang menggunakan pakaian anti peluru yang kubuat sendiri.


Untuk memaksimalkan daya pelindungnya aku menambahkan perisai di punggung tangan mereka, ukurannya kecil akan tetapi saat diaktifkan itu menciptakan lingkaran sihir yang berguna sebagai pelindung.


Untuk senjatanya sendiri mereka menggunakan dua pedang yang ketajamannya bisa memotong baja sekalipun, karena berbahaya senjata ini hanya akan digunakan dalam peperangan ini.


Gabriela dan Rin yang terbang untuk mengawasi mendaratkan dirinya di sampingku, sayap keduanya membentang lebar di mana bulu hitam dan putih berjatuhan ke tanah.


Amnestha pun turut muncul dari belakangku.


"Kalian semua akan dibagi beberapa titik dan ketiga pelayanku akan memimpin pasukan ini."


Salah satu orang mengangkat tangannya.


"Bagaimana dengan komandan kami?"


"Mereka akan ditugaskan di tempat berbeda, bagaimanapun beberapa serangan telah terjadi di beberapa titik berbeda.... satu hal yang akan kukatakan kita tidak berperang dengan kerajaan itu melainkan berperang melawan Garius."


Mendengar nama itu semua orang saling menukarkan pandangan satu sama lain, sementara aku melanjutkan hingga pandangan mereka kembali dialihkan kepadaku.


"Jika keadaan sulit, kalian dibebaskan untuk mundur serta tidak akan ada orang yang disalahkan.. nyawa lebih penting dari apapun dan ingat orang-orang yang menunggu kalian di rumah."

__ADS_1


"Baik yang mulia."


Persiapan pertama telah dibuat selanjutnya aku menciptakan tiga gerbang sekaligus yang mana masing-masing menuju lokasi musuh.


"Amnestha, Gabriela dan Rin, aku serahkan sisanya."


"Serahkan pada kami tuan, aku tidak tahu seberapa kuat Mr.A atau Mr.B itu tapi akan kuhabisi mereka."


"Aku juga berfikiran sama."


"Akan kuhabisi."


Aku hanya melihat kepergian mereka semua saat aku menghilangkan gerbangnya Rara muncul.


"Aku belum terbiasa menggunakan tubuh ini, tapi tolong balaskan dendam desaku."


Rara mengepalkan tinju ke arahku selagi tersenyum lebar dan aku pun membalasnya dengan kepalan tinju yang sama hingga saling bersentuhan.


Kugunakan sihir teleportasi dan muncul di atas langit sebuah ibukota yang luas. Mengandalkan gaya gravitasi, tubuhku jatuh dengan kecepatan tinggi menembus beberapa awan yang menghalangi sampai akhirnya mampu mendaratkan kakiku di tanah dengan bunyi dentuman keras.


Ketika semua pasukan dikerahkan aku bisa menyelinap masuk tanpa perlu diketahui pikirku demikian namun sayangnya hal itu jelas tidak mungkin.


Para robot bermunculan atau lebih tepatnya mengepungku dari segala arah yang mana masing-masing dari mereka menembakan Gatling Gun di tangan mereka tanpa henti sementara aku hanya diam selagi menahan rentetan peluru itu dengan satu tangan.


Butiran peluru hanya bisa berjatuhan di sekelilingku tanpa menghasilkan damage sedikitpun, sebagai serangan balasan aku menciptakan deretan pedang es lalu menusuk mereka satu persatu hingga meledak.


Bersamaan itu dari balik bangunan sebuah robot raksasa muncul, dia berlari ke arahku dan siap untuk menendangku dengan kekuatannya.

__ADS_1


Aku menangkap kakinya lalu melemparkannya ke atas, di dalam pertarungan ukuran bukanlah segalanya, kutembakan api hingga robot raksasa itu meledak di langit sedangkan puing-puingnya berjatuhan di sekitarku.


Aku bisa melihat seseorang dengan santai duduk di atas atap rumah selagi tersenyum senang.


"Yo, jadi kau Beaufort Reymond itu... aku sudah menantikan kedatanganmu."


"Garius."


"Benar, namaku Garius... sekarang kau bisa mati setelah mendengar namaku."


"Maaf saja aku tidak pernah berniat untuk mati bahkan untuk ribuan tahun ke depan."


Dia menciptakan lubang hitam di langit untuk memunculkan sebuah senjata laras panjang yang dia tangkap baik dengan tangannya lalu mengarahkannya kepadaku.


"Namanya adalah Railgun, bahkan tank baja sekalipun tidak akan bisa menahannya."


Dia menarik pelatuknya dan dalam seketika pelindungku hancur berkeping-keping, aku hanya bisa melihat tubuhku yang berlubang yang perlahan meregenerasi sendiri.


"Guakh."


Darah menyembur dari mulutku.


"Yang barusan hanya salam saja... Area Field, Zona Kehancuran," tepat saat Galius mengatakan itu seluruh kota langsung hancur dengan api membumbung tinggi.


"Bagaimana bisa, bukannya itu teknik orang itu."


"Entahlah tapi dengan ini keabadianmu hanya akan berakhir sia-sia."

__ADS_1


Garius melompat selagi mengarahkan ujung Railgun.


"Pertarungan sesungguhnya baru dimulai," katanya menyeringai.


__ADS_2