Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 130 : Kedua Pendeta Dari Kota Suci


__ADS_3

Di bar itu seperti biasa aku duduk di depan Elona yang dengan anggun mengeringkan gelas-gelas yang telah dicucinya, beberapa orang tampak berisik di belakangku hingga dia menjelaskan.


"Belakangan ini ada sebuah fenomena aneh yang disebut kabut kematian yang tiba-tiba muncul di salah satu desa, kabut itu mengeluarkan para Undead dari sana kemudian menyerang penduduk desa, hal ini baru terjadi kemarin."


"Jadi semua orang itu sedang membicarakan hal itu," balasku demikian.


"Aku tidak yakin tapi ada kemungkinan kabut itu akan berpindah tempat ke desa lain, itulah yang dipikirkan semua orang tapi jangan khawatir para pendeta pasti akan mengatasinya."


"Aku pikir begitu."


Dua hari kemudian di bar yang sama.


Dua pendeta wanita menerobos masuk ke bar dengan pakaian tampak sobek di sana sini, aku yang sedang meminum tersedak hingga menyemburkan air dari mulutku.


Salah satu pendeta berambut pirang berkata pada Elona.


"Boleh aku meminjam ruang ganti dan meminta pakaian."


Meminta? Dengan kata lain mereka tidak akan mengembalikannya.


"Tentu saja, tolong bantu mereka berdua."


"Baik," kata salah satu pelayan Succubus membawa mereka berdua, sementara pendeta wanita berambut hitam membungkuk sekali.


"Cepatlah Cleo."


Beberapa saat menunggu pendeta itu kembali dengan pakaian pelayan.


"Hanya itu yang aku punya, kupikir kalian tidak mungkin ingin berpenampilan sepertiku," kata Elona.


Keduanya tertawa pahit.


"Tidak masalah, kami benar-benar sangat terbantu.. sejujurnya uang kami terjatuh, aku akan membayarnya nanti."


"Jangan khawatir, kalian pasti lapar aku akan buatkan kalian Omelet."

__ADS_1


"Terima kasih banyak."


Kedua pendeta itu duduk di kursi sebelahku.


"Memangnya apa yang terjadi dengan kalian?"


"Kau?"


"Benar juga. Namaku Haru Kazuya, semua orang memanggilku Kazuya aku tinggal di desa dataran tinggi."


"Begitu.. Namaku Olien dan Cleo kami dari kota suci Imperal, kami datang kemari untuk mengatasi kabut kematian tapi sayangnya tanpa terduga kabut itu malah bertambah luas dan pasukan tengkorak dari dalamnya sangat banyak hingga kami berdua bertarung sampai pakaian kami tersobek-sobek, kami harus segera melaporkan hal ini ke pusat dan mengirim pasukan yang lebih banyak," atas pernyataan Olien, Cleo hanya menganggukkan kepalanya sekali.


"Itu memang sangat gawat."


Tak lama Elona muncul lalu meletakkan dua piring omelet di dekat keduanya bersama segelas air putih.


"Silahkan."


"Aku akan membayarnya nanti."


"Cleo?"


Cleo menganggukkan kepalanya hingga keduanya berdoa lalu memakannya dengan lahap.


"Apa Cleo jarang bicara?"


Olienlah yang menjawabnya.


"Sejak kecil Cleo sudah dilarang berbicara karena itu dia hanya berkomunikasi dengan tulisan, ah benar.. buku dan alat tulismu pasti ketinggalan. aaahh...."


"Dilarang?" aku dan Elona memiliki pertanyaan yang sama.


"Kekuatan Cleo adalah merubah semua kata-katanya menjadi kenyataan, di kota suci Imperal dia sudah dilarang bicara karena sangat berbahaya."


"Apa dia baik-baik saja?" aku sedikit mengkhawatirkannya hingga Cleo menulis sesuatu di buku yang baru diberikan oleh Elona.

__ADS_1


Tentu itu hanya buku kecil yang biasa digunakan untuk menulis pesanan.


(Aku tak apa) dengan gambar senyuman di sampingnya.


Hidupnya pasti cukup sulit.


"Terima kasih atas makanannya, semoga Dewi Ristal memberikan semua orang dengan keberkahan."


Kedua orang ini ternyata pengikut istriku.


Elona berkata ke arah keduanya selagi mengisi gelas kosong mereka dengan air.


"Ngomong-ngomong soal kota suci bagaimana tentang patung yang kalian buat? Apa sudah selesai?"


"Heh, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"


(Aku sama sekali tidak pernah melihatmu di sana) tulis Cleo.


"Sebenarnya orang ini yang membuat desainnya."


"Itu aku."


Keduanya menatapku dengan mata terbelalak.


"Maafkan kami telah berperilaku tidak sopan, Anda pasti orang suci itu.. sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda."


(Aku juga)


"Kalian terlalu berlebihan, tolong jangan memanggilku begitu," kataku ragu, sepertinya di kota itu aku disebut demikian


"Anda sangat murah hati."


(Aku juga setuju)


Keduanya menatapku dengan pandangan bercahaya kalau melihat dari wajahnya mereka mungkin baru menginjak usia 15 tahunan.

__ADS_1


Gadis di usia itu sangat bersemangat yah.


__ADS_2