Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol

Tidak Ada Salahnya Memulai Kehidupan Di Dunia Lain Dari Nol
Chapter 497 : Langit Indah


__ADS_3

Aku menengadah ke langit saat sebuah laser dilesatkan ke atas langit, aku tidak tahu siapa yang melakukannya akan tetapi itu bukanlah kekuatan kecil.


Ledakannya di langit dan getarannya sampai bisa kurasakan di bawah kakiku.


"Kemana kau melihat?"


Deron menyerangku dari atas dan aku menahan serangannya, dia telah memakan sesuatu mirip obat dan kini dia telah berubah jadi iblis.


Kekuatannya jelas sepuluh kali lipat dari sebelumnya hingga aku sudah tidak bisa menghitung berapa kali aku terdorong olehnya.


"Hora, hora, kau masih belum serius, aku akan membunuhmu loh."


Aku menebaskan pedangku dan dalam hitungan detik membuat Deron mundur menjaga jarak.


Kuarahkan tanganku untuk menyapunya dengan api hitam hingga dia kehilangan kata-katanya.


Di saat dia kebingungan aku memposisikan diriku secara menyamping.


"Himitsu no ugoki... Tsukuyomi."


Bilah pedang berbentuk bulan sabit menerjang ke arahnya, kendati demikian dengan sayap dipungungnya Deron bisa menghindarinya selagi mengirim belati ke arahku.


Aku menangkapnya dengan tangan kosong agar belati tersebut tidak kembali padanya, itu menembus pergelanganku dengan baik.


Di saat yang sama kuarahkan pedangku ke arahnya, pedang di tanganku mulai terselimuti api hitam membentuk dirinya menjadi sebuah busur.


"Himitsu no ugoki.. Susanoo."


Tepat saat aku mengatakan itu panah api menebus tubuh Deron.

__ADS_1


"Mustahil, aku kalah... padahal aku sudah menjadi iblis."


Tubuhnya lenyap terbakar di udara.


Kurasa aku sudah selesai di sini, aku mengalihkan pandangan ke arah buku yang melayang tak jauh dariku sebelumnya, Akane dan wanita itu terserap dalam buku tersebut, apa mereka akan bisa keluar?


Tepat saat aku memikirkannya wanita sebelumnya keluar dari buku lalu terbang ke langit dengan sosok iblis bersayap, dia tampak ketakutan karena sesuatu.


Saat aku mengalihkan pandangan kembali ke arah buku, Akane juga keluar dari sana, tapi bukan sebagai gadis yang kukenal melainkan sosok kegelapan yang mengerikan, sekujur tubuhnya diselimuti api hitam serta matanya berwarna merah terang.


Dia menggunakan kutukan tingkat tiga dan sepertinya kehilangan kendali.


"Dasar monster, bagaimana kau bisa lolos dari ledakanku."


Akane menghilang dalam sekejap dan muncul di depan iblis yang melarikan diri tersebut, dengan sekali tebasan dia membunuhnya hingga bilah yang dilayangkannya membuat jurang di tengah kota.


Dengan kuat Akane mendaratkan kakinya di tanah lalu menghancurkan buku tersebut dengan api hitam sebelum menatap ke arahku.


Aku berguling ke samping saat beberapa bilah menyerangku secara bersamaan.


"Sadarlah Akane, kutukanmu telah menelanmu seutuhnya."


Tanpa menjawab pertanyaanku Akane telah muncul di depanku, dia menendang perutku hingga aku memuntahkan darah dari mulutku.


Sudah jelas ini merepotkan, satu-satunya yang harus kulakukan hanyalah membenturkan pedang ini dengan pedangnya, dengan efek kutukan Grandbell akan jauh mudah, akan tetapi jika kulakukan kedua pedang ini akan hancur.


"Apa yang harus kulakukan?"


Aku membuang semua pikiran bodoh itu.

__ADS_1


Meski tidak ada pedang terkutuk atau kutukan Garandbellku dunia ini ataupun duniaku tetap aman. Setelah membulatkan tekad aku menerjang ke depan.


Kukeluarkan seluruh energi dalam pedang ini hingga saat berbenturan dengan pedang Akane itu menciptakan pilar hitam yang menembus langit.


Langit yang sebelumnya cerah telah berubah menjadi kegelapan total di antara itu kilatan petir menyambar ke segala arah.


Kedua pedang kami mulai retak selanjutnya hancur berkeping-keping dan lenyap seutuhnya.


Pilar menghilang bersamaan langit yang menjadi cerah kembali, Akane terbaring menengadah langit sementara aku duduk di sampingnya.


Aku melihat dua sosok jiwa yang terperangkap di pedangku menundukan kepalanya sesaat sebelum menghilang ke langit.


Kurasa keinginan mereka telah tercapai, dari awal mereka memang ingin menghancurkan pedang terkutuk.


Akane membuka matanya.


"Apa yang terjadi? Tubuhku mati rasa."


"Istirahat saja di sana, kau kehilangan kendali."


"Mustahil. Bagaimana pedangku?"


"Pedang kita sudah menghilang selamanya."


"Begitu."


Akane hanya melihat ke atas langit dan berkata.


"Langitnya terlihat indah."

__ADS_1


"Aah," jawabku singkat.


__ADS_2