
Kim Kim yang berjalan dengan kepala tertunduk sambil melamun, dia tidak sadar didepan nya ada yang berdiri menghalangi jalannya.
Sehingga tanpa bisa di cegah, dia langsung membentur sesuatu yang keras seperti tembok.
Hingga dia jatuh terduduk di atas tanah.
Dalam kondisi gelap, Kim Kim tidak bisa melihat dengan jelas, siapa orang yang menghadang jalannya.
Dia hanya tahu di hadapannya ada 5 orang bertubuh tinggi besar, yang sedang menatapnya sambil tertawa tawa.
Salah satu diantara mereka maju mendekati Kim Kim dan berkata,
"Manis jangan takut,.. asal kamu menurut dan tidak melawan, atau membuat keributan.."
"Setelah kamu temani kami bersenang-senang malam ini, kami pasti akan menjamin keselamatan mu, untuk kembali kerumah mu besok pagi.."
ucap pria berkepala botak itu, sambil mengulurkan tangannya, ingin memegang dagu Kim Kim yang runcing dan menawan.
Tapi sebelum niatnya kesampaian, sebuah tangan lain, tiba-tiba muncul menangkisnya.
Sehingga tangan si botak terpental kesamping, lalu sebuah tangan lainnya, muncul di depan dadanya dan mendorongnya dengan kuat mundur menjauh kebelakang.
Sehingga si botak yang bertubuh tinggi besar hampir 2,5 meter itu, tubuhnya terpental kebelakang menimpa keempat rekannya yang lain.
Tapi keempat rekannya yang berdiri di belakangnya lebih siap.
Mereka dengan ringan menahan tubuh si botak, lalu membantunya berdiri dengan stabil.
Salah satu dari keempat orang itu langsung bertanya pada rekannya yang terlempar mundur itu,
"Adik kelima kamu tidak apa-apa ?"
Si botak yang bertubuh tinggi besar, yang di panggil adik kelima langsung menggelengkan kepalanya, dengan cepat dan berkata,
"Aku baik baik saja, terimakasih kakak ketiga dan kakak yang lainnya."
Setelah memberi hormat dengan sikap Anjali ke pada keempat orang di belakangnya.
Dengan ekspresi wajah penuh kemarahan, yang membuat wajahnya yang pada dasarnya sudah seram menjadi semakin menyeramkan.
Dia melangkah maju mendekati seorang pemuda tampan berperawakan sedang dan tegap,
Pemuda itu berdiri menghadang, didepan gadis incaran nya tadi.
Pemuda itu adalah Fei Yang, yang tadinya sengaja pura pura kembali ke kamarnya, lalu dia lewat jendela kamar, melayang keluar mengikuti langkah Kim Kim secara diam-diam.
Saat melihat Kim Kim dalam bahaya, Fei Yang pun muncul menghalangi niat buruk si botak, dan keempat temannya yang lain.
__ADS_1
Si botak meski sangat marah, tapi akal sehatnya masih jalan.
Seseorang yang bisa muncul tiba-tiba, tanpa terdeteksi oleh nya dan keempat kakak seperguruannya.
Apalagi sanggup membuat tubuhnya yang tinggi besar terpental kebelakang, dalam satu gerakan yang begitu cepat.
Tentu bukan seorang pemuda yang mudah di hadapi dan boleh dia anggap remeh.
Sambil mempelototi Fei Yang dengan sepasang matanya yang terbuka lebar menyeramkan.
Dengan suara berat, si botak berkata,
"Anak muda ku peringatkan pada mu, jangan suka usil mencampuri urusan orang lain.."
"Cepat menyingkir dari hadapan ku, sebelum aku berubah pikiran."
Fei Yang sendiri seolah olah tidak memperdulikan si botak yang berjalan menghampirinya dan menegurnya di belakang.
Dia malah memunggungi si botak, membantu Kim Kim untuk berdiri dan berkata,
"Nona Kim kamu tidak apa-apa..?"
Tapi Kim Kim tidak menjawab nya, dia malah dengan sepasang mata terbelalak berteriak,
"Tuan muda awas,..!!!"
"Bocah tengik, mampuslah kau..!!"
Fei Yang sendiri merespon teriakan Kim Kim dan teriakan suara menggelegar dari Si botak dengan senyum dingin.
Dengan sekali kelebat dengan jurus pertama burung Phoenix api membelah gunung.
Tubuh sibotak yang tinggi besar langsung terbelah dua oleh pedang api, yang berada di tangan kanan Fei Yang.
Sebelum sepasang kepalan tangan si botak sempat menyentuh punggung Fei Yang.
Sedangkan pedang es di tangan kiri Fei Yang di silangkan di depan dada, di gunakan sebagai pertahanan.
Memang begitulah cara kerja jurus tarian Pedang Phoenix api dan Naga Es, sangat teratur rapi tapi juga ganas tanpa ampun.
Sekali di keluarkan lawan yang tidak kuat atau kurang siaga, pasti akan tewas.
Sinar bulan purnama yang tertutup awan, tersapu bersih oleh angin yang berhembus.
Sehingga sinarnya kini menerangi tempat dimana Kim Kim, Fei Yang dan kelima penjahat itu berada.
Keempat orang yang juga berkepala botak mengenakan jubah merah, menatap dengan kaget kearah pemandangan mengerikan di hadapan mereka itu.
__ADS_1
Mereka tidak pernah menyangka saudara kelima mereka akan tewas dengan begitu mudah dan begitu mengenaskan di depan mata kepala mereka sendiri.
Keempat orang itu, segera maju mengepung Fei Yang dan Kim Kim dari empat penjuru.
Masing masing langsung mengeluarkan senjata Cakra emas di tangan mereka.
Kim Kim terlihat pucat ketakutan dengan tubuh gemetar, hingga sulit bersuara, hanya terdengar suara gigi beradu dari mulutnya.
Sedangkan Fei Yang terlihat berdiri tenang dengan sepasang pedang api dan es ditangannya.
"Bocah tengik,.. serahkan nyawa mu,!"
ucap orang pertama dari keempat lhama jubah merah, yang melakukan pengepungan terhadap Fei Yang.
Sambil berteriak, dia langsung melepaskan serangan kedua Cakra emas di tangannya, yang bisa terbang kearah Fei Yang.
Di susul dengan keempat rekannya yang lain, juga melakukan hal yang sama.
Susul menyusul Cakra emas di tangan mereka, berterbangan menyerang Fei Yang dari segala arah.
Fei Yang yang berdiri ditengah tengah bersama Kim Kim, tidak bisa bebas bergerak.
Fei Yang dengan sigap merangkul pinggang Kim Kim, lalu dia melesat menghilang dari posisinya.
Dengan ilmu terbang di udara tanpa bayangan.
Fei Yang kemudian muncul ditempat yang cukup jauh dari tempat nya tadi, dia menurunkan Kim Kim, lalu tanpa berkata apa apa.
Dia sudah kembali maju untuk menyambut 8 Cakra yang terbang mengejar dirinya dan Kim Kim.
Cakra itu harusnya berjumlah sepuluh dan di mainkan oleh 5 orang, dengan formasi 5 unsur.
Tapi berhubung satu diantara mereka sudah tewas, mereka terpaksa merubahnya menjadi formasi 4 arah mata angin.
Menyerang Fei Yang dari 4 sisi, meski masih rapi teratur, tapi tentu saja tidak sekuat formasi 5 unsur mereka.
Fei Yang bergerak cepat menangkis dan mementalkan ke 8 Cakra emas, yang terus bergerak mengepungnya dari empat penjuru.
Tapi setelah berulang kali berbenturan, Fei Yang pun sadar, kedelapan Cakra emas itu, hanya bagian luarnya saja, berlapis emas.
Dibalik lapisan emas itu sendiri, ada bahan logam khusus yang sangat kuat.
Sehingga mampu menahan tebasan pedang pusaka api dan es nya, yang mampu memotong bahan logam baja sekalipun dengan mudah.
Kedelapan Cakra emas itu tidak berhenti mengepung Fei Yang, setiap kali di pentalkan oleh Fei Yang.
Ke delapan Cakra emas itu akan otomatis bergerak kembali, menyerang Fei Yang dengan kekuatan jauh lebih besar.
__ADS_1