PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PU TUO SAN


__ADS_3

Tubuh Fei Yang yang terbaring tak bergerak dalam pelukan Xue Lian.


Sebentar mengeluarkan cahaya biru, sesaat kemudian mengeluarkan cahaya merah.


Warna merah biru silih berganti menyelimuti seluruh tubuh Fei Yang secara bergantian.


Sebagai penutup muncul sebuah gambar Pat Kwa di udara tepat di mana Fei Yang dan Xue Lian terbaring.


Pat Kwa itu berputaran di udara, mengeluarkan panca warna dari 5 elemen, menerangi di mana Fei Yang dan Xue Lian terbaring.


Seiring dengan memudarnya cahaya 5 elemen dan gambar Pat Kwa diudara.


Xue Lian mulai bergerak gerak pelupuk matanya, begitu pula dengan jari jarinya.


Perlahan-lahan kesadarannya mulai pulih.


Hal yang sama juga di alami oleh Fei Yang, sepasang matanya mulai bisa terbuka, meski wajahnya masih pucat.


Melihat dirinya sedang dalam pelukan istrinya, Fei Yang sambil tersenyum nakal kembali memejamkan matanya.


Xue Lian setelah seluruh ingatan nya pulih, dia menatap Fei Yang dengan airmata, kembali jatuh berderai.


"Yang ke ke, benarkah kamu sudah tiada..?"


"Secepat inikah kebersamaan kita..?"


"Yang ke ke,..kamu jawab aku ."


"Jangan diam saja.."


ucap Xue Lian sedih.


Lalu dia kembali memeluk Fei Yang dengan erat, dan menciumi wajah Fei Yang dengan lembut.


Fei Yang hanya mengintip sedikit, sambil berusaha menahan senyumnya.


Dia menikmati kehangatan pelukan istrinya.


Xue Lian terus memeluk tubuh Fei Yang dengan sedih dan airmata bercucuran.


Beberapa saat kemudian dengan lembut dia memberikan sebuah ciuman panjang di bibir Fei Yang.


Setelah itu dia berkata,


"Baiklah,.. mungkin ini sudah merupakan suratan nasib ku,.."


"Aku akan menerimanya, setidaknya masih ada abu mu yang menemani di sisi ku.."


"Biarlah aku akan membawa abu mu menemani ku berkeliling kedunia barat.."


"Aku akan penuhi keinginan terakhir mu.."


ucap Xue Lian sambil kembali memeluk Fei Yang dan menangis lebih sedih lagi.


"Sayang,..aku belum mau jadi abu, aku masih mau berbulan madu seumur hidup dengan mu.."


bisik Fei Yang pelan.


Xue Lian sangat terkejut, mendengar suara bisikan itu.


Dia buru-buru melepaskan pelukannya, dan menatap kearah wajah suaminya.


Melihat Fei Yang sedang menatapnya, sambil tersenyum nakal.


Sadarlah dia, dirinya telah di kerjai oleh Fei Yang.


"Kau... dasar tak berjantung,..!"


ucap Xue Lian kesal sambil memukuli dada Fei Yang.

__ADS_1


"Plakkkk,..!"


"Aduhhhh,..!


"Uhukk..! Uhukk..! Uhukk..!"


Fei Yang sedikit meringis menahan nyeri, saat menerima pukulan pelan Xue Lian.


Lukanya belum pulih, pukulan itu memicu Fei Yang batuk batuk dan memuntahkan seteguk.


"Ehh Yang ke ke maaf.."


"Aku tidak sengaja.."


ucap Xue Lian panik dan cemas, melihat kondisi Fei Yang.


Fei Yang tersenyum setengah meringis dan berkata,


"Tidak apa-apa, itu darah beku, memang harus di keluarkan.."


"Pukulan tidak sengaja mu, malah membantu memecahkan darah beku, di dalam dadaku.."


"Kini aku jauh lebih lega.."


"Kamu jangan khawatir aku baik baik saja.."


ucap Fei Yang sambil membelai kepala Xue Lian dengan lembut.


Xue Lian tersenyum lega bercampur bahagia, melihat suaminya baik baik saja.


"Sayang bantu aku, aku mau lihat keadaan senior Wu.."


ucap Fei Yang sambil menoleh kearah Wu Song yang masih belum sadarkan diri.


Xue Lian mengangguk, dia memapah Fei Yang berjalan pelan mendekati Wu Song.


Lalu memberikan beberapa pil yang terbuat dari teratai salju Thian San.


Beberapa saat kemudian perlahan lahan kondisi Wu Song mulai membaik.


Dia bisa membuka kembali matanya, lalu bangkit untuk duduk bermeditasi sebentar.


Untuk memulihkan kondisi nya, setelah stabil Wu Song membuka kedua matanya menatap kearah Fei Yang dan Xue Lian.


"Terimakasih anak muda, kalian bukan hanya berjasa, membantu umat manusia."


"Tapi kalian juga membantu menyelamatkan nyawa ku.."


"Selain ucapan terimakasih, aku sudah tidak tahu, bagaimana harus membalas Budi baik kalian berdua."


ucap Wu Song sambil tersenyum lembut menatap Fei Yang dan Xue Lian.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Tak perlu sungkan senior Wu, ini cuma jasa sekalian saja, tak perlu terlalu di permasalahkan.."


"Kami sudah cukup gembira, bila senior baik baik saja."


"Sayangnya senior Lu, dia sudah berkorban demi keselamatan kita dan umat manusia.."


"Kita bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih pada nya "


ucap Fei Yang sedikit prihatin saat teringat dengan Lu Fan.


Wu Song menghela nafas panjang, dan berkata,


"Mungkin ini adalah cara pelepasan terbaik baginya, dari kehidupan yang penuh kesepian ini.."


"Semoga saja setelah ini, dia bisa berkumpul kembali dengan jodoh yang dia inginkan.."

__ADS_1


ucap Wu Song yang sedikit banyak memahami apa yang di rasakan oleh adik seperguruannya.


Sepeninggal Lin Lin yang pergi lebih dahulu, menjalani takdirnya di alam lain.


Fei Yang mengangguk, di dalam hati dia berpikir.


Suatu hari dia dan Xue Lian pun akan alami hal itu.


Dia juga tidak tahu bagaimana menghadapinya bila hari itu tiba.


Mereka bertiga sesaat termenung dan larut dalam pikiran masing masing.


Hingga akhirnya Wu Song buka suara dan berkata,


"Anak muda terimakasih banyak, senang berkenalan dengan kalian."


"Sayangnya aku masih harus pulang melapor pada Thian Cun.."


"Jadi perjumpaan kita hanya bisa sampai di sini saja."


"Semoga lain kali bisa bertemu dalam suasana yang lebih menyenangkan.."


"Selamat tinggal..."


ucap Wu Song.


Lalu dia menghilang dari hadapan Fei Yang dan Xue Lian, setelah mereka saling memberi hormat.


Fei Yang dan Xue Lian saling pandang mereka sama sama mengangguk.


Pasangan suami istri tersebut juga meninggalkan tempat tersebut.


Mereka berdua berdua berjalan sambil berangkulan mesra.


Di tempat lain di puncak gunung


Pu Tuo San, terlihat Roh Lu Fan sedang berlutut di hadapan Dewi Kwan Im.


"Putra ku kamu sudah menyelesaikan tugas mu dengan baik.."


"Sesuai janji ku, kamu boleh pergi menemukan dia, dan menjalankan takdir baru kalian.."


"Tapi aku harus ingatkan pada mu, dari awal."


"Di tempat baru itu, semua kemampuan mu saat ini, akan hilang."


"Bagaimana ?"


Lu Fan mengangkat kepalanya dan berkata,


"Bukan masalah, asalkan bisa kembali bersama dengan nya, aku rela kehilangan semuanya."


Dewi Kwan Im mengangguk sambil tersenyum dan berkata,


"Putra ku ditempat baru itu, bukan hanya kemampuan mu saja yang hilang."


"Tapi semua kenangan kamu dan dia juga akan hilang.."


"Kalian akan terlahir kembali sebagai orang yang tidak saling kenal.."


"Meski kalian akan saling berdekatan, tapi tidak ada yang saling mengingat hubungan masa lalu kalian lagi."


"Bisa atau tidak berjodoh dan kembali bersama, itu semua tergantung takdir kalian lagi.."


"Bagaimana.?"


"Pergilah Putra ku.."


ucap Dewi Kwan Im sambil membuat sebuah portal cahaya, yang langsung menarik roh Lu Fan yang sedang berlutut masuk kedalam..

__ADS_1


__ADS_2