
"Tap..! tap..!"
Sekali lagi tanduk kerbau itu di tangkap oleh sepasang telapak tangan Nan Thian.
"Hiaaatt..!"
Sekali ini Nan Thian bertindak lebih serius karena kerbau yang terus bersikap keras kepala itu.
Tubuh kerbau itu terangkat keatas, lalu di hempaskan keatas tanah.
"Blukkkkk,..!"
Tanah sampai melesak kebawah,
"Krakkk..!"
Tanduk kerbau itu kini patah menjadi dua potong.
Debu beterbangan semakin tinggi, memenuhi tempat itu.
Hingga tubuh Nan Thian dan kerbau itu sesaat tertutup oleh kepulan debu tak terlihat lagi.
Kerbau itu melenguh keras, berusaha berdiri, dengan sempoyongan kerbau besar itu berhasil bangkit.
Dia terus melenguh keras, dan menggeleng gelengkan kepalanya.
Tapi kedua kakinya gemetaran, tidak kuat menyangga berat tubuhnya.
Akhirnya kerbau itu terguling kembali melenguh panjang, sebelum kepalanya terkulai kebawah.
Dengan sepasang mata mendelik keatas tidak sadarkan diri.
Masyarakat di sekitar sana, begitu melihat Nan Thian melangkah ringan keluar dari balik kabut asap.
Tepuk tangan membahana langsung bergemuruh di sekitar tempat.itu.
Sorak Sorai langsung memenuhi tempat itu.
Nan Thian sendiri tanpa menghiraukan sambutan heboh masyarakat sekitar.
Dia sudah kembali ke atas kereta nya, bersiap meninggalkan tempat tersebut.
Tiba-tiba ada seorang pria setengah tua dengan senyum canggung menghampiri Nan Thian dan berkata,
"Tuan pendekar,..maaf.."
"Bagaimana dengan nasib kerbau saya..?"
"Itu adalah harta saya satu satunya, bila dia terjadi sesuatu bagaimana dengan nasib kami sekeluarga..?"
tanya pria itu dengan wajah memelas mohon di kasihani..
Nan Thian menghela nafas menahan rasa kesalnya.
Lalu dia berkata,
"Tuan,.. kerbau anda hanya pingsan, keadaan nya baik baik saja.."
"Permisi .."
ucap Nan Thian malas berdebat.
"Tapi tuan pendekar, anda setidaknya harus membantu saya menyadarkan nya dulu dan melihat situasi selama beberapa hari.."
"Bila anda pergi begitu saja, ternyata kerbau saya mengalami luka dalam, lalu beberapa hati kemudian meninggal.."
"Saya mau cari siapa bertanggung jawab..?"
__ADS_1
Karena pria itu maju menarik tali kekang nya, Nan Thian terpaksa menghentikan gerakannya.
Tapi sebelum Nan Thian sempat melakukan sesuatu
Siau Yen sudah melompat turun dari kudanya dan berkata,
"Tuan kerbau anda mengamuk di keramaian, itu adalah salah anda tidak bisa menjaga dan mengurusnya."
"Hewan tidak punya otak, tuan sebagai manusia tidak mungkin tidak punya otak kan..?"
"Anda berani membawa da datang di pusat keramaian..tentu tuan harusnya, tahu akan resiko ini.."
"Bila anda bicara mau menang sendiri tidak pakai aturan jangan salahkan saya,"
"Singggg..!"
Siau Yen mencabut pedangnya, bersikap penuh ancaman.
Dua sudah tidak bisa menahan emosi melihat sikap pemilik dan kerbaunya yang sama sama keras kepala.
"Ehhh,..! lihat pendekar mau bunuh orang..!"
teriak pria itu berkoar koar, memutar balik fakta.
Melihat masalah menjadi besar, Nan Thian pun melempar sekantung uang kearah pria itu.
"Ini untuk mu, pergilah..kerbau itu kini milik ku."
"Nona Siau Yen kembali lah kedalam kereta, masalah sampai di sini saja.."
"Kakak Nan tapi ini namanya pemerasan..jelas jelas dia yang salah mengapa kita..?"
Protes Siau Yen merasa kurang puas.
Nan Thian tersenyum sabar dan berkata,
"Nona Siau Yen tenanglah, naiklah dulu.."
Dengan mengomel panjang pendek kurang puas, tapi Siau Yen kembali juga kedalam kereta.
Nan Thian memberi hormat ke masyarakat sekitar dan berkata,
"Kerbau itu sudah ku beli, kini aku berikan kesemua orang, yang mengalami kerugian di tempat ini.."
"Potonglah kerbau itu, dagingnya bagi bagi saja, anggap saja sebagai ganti rugi kekacauan ini.."
ucap Nan Thian sambil memberi hormat kesekitarnya.
Tanpa menunggu reaksi orang orang di sekitar sana.
Nan Thian sudah menarik kendali kereta nya meninggalkan tempat tersebut, menuju kebagian lain.
Mencari restoran untuk mereka ber 6 bersantai beristirahat sambil makan minum.
Sepeninggal Nan Thian, kerbau itu langsung di urus oleh masyarakat di sekitar sana dengan gembira.
Sedangkan pria paruh baya yang licik itu, dengan senang hati dia meninggalkan tempat itu, dengan wajah tersenyum puas.
Tapi dia tidak akan pernah menyangka tingkah lakunya yang licik itu.
Langsung mendatangkan karma buruk baginya.
Beberapa orang pengangguran yang sedang duduk di sekitar tempat kejadian.
Melihat kantung uang yang di terima oleh pria paruh baya itu.
Sepasang mata mereka langsung berbinar.
__ADS_1
Mereka saling pandang, saling mengangguk diantara mereka.
Lalu mereka bergerak meninggalkan tempat itu, dengan cara menyebar mengikuti langkah pria paruh baya itu.
Hingga saat pria paruh baya itu sedang berjalan di tempat yang sepi.
Dia orang pemuda pengangguran, memanggilnya dari arah belakang,
"Pak tua berhenti..!"
Pria paruh baya itu, sempat menoleh kebelakang.
Tapi begitu melihat tanda tanda tidak beres dari orang yang memintanya berhenti.
Dia langsung mengambil langkah seribu melarikan diri.
Tapi sebelum dia berhasil melarikan diri,.dari arah depan gang sepi, muncul dua orang lain, yang merupakan teman dari dua orang pemuda di belakangnya.
Pria paruh baya itu dengan wajah pucat, terpaksa menghentikan langkahnya dan berkata,
"Kalian mau apa,..jangan macam macam,..! petugas keamanan kota tidak akan mengampuni kalian bila berani..!"
"Singggg..!"
"Jangan banyak bacot, dan bikin gaduh..!"
"Bila ingin selamat, serahkan kantung itu ke kami secara baik baik..!"
"Tidak, tidak akan..!"
Teriak pria paru baya itu tidak rela, mencoba berkeras.
"Sratttt,.."
Golok salah satu penghadang itu bergerak cepat, melintasi leher pria paruh baya itu.
Belum sempat dia mengeluarkan suara jeritan, tubuhnya sudah jatuh berkelenjotan diatas tanah, dengan bagian leher terluka parah
Darah langsung menyembur deras dari lukanya yang menga nga..
Tubuh pria itu berkelenjotan, seperti ayam di sembelih, tak lama kemudian.
Dia sudah diam tidak bergerak, dengan sepasang mata terbelalak lebar.
Menatap dengan tatapan mata tak percaya dan penasaran.
Keempat pemuda itu tidak ambil pusing dengan keadaan pria setengah tua itu yang menyedihkan.
Mereka langsung menggeledah kantong di pakaian pria tua itu.
Saat ditemukan oleh mereka apa yang di cari, mereka mencoba mengeluarkan isi dua kantong yang mereka temukan.
Mereka sambil tertawa gembira, mengambil isinya, lalu kantung kosongnya mereka lempar begitu saja kearah wajah pria paruh baya yang mati penasaran.
Menuai karmanya sendiri, kerbau lenyap nyawa pun melayang.
Sambil tertawa gembira keempat pemuda itu meninggalkan jasad korban mereka, sambil tertawa-tawa gembira.
Di tempat lain, Nan Thian sudah tiba di salah sebuah restoran besar yang bernama Hung Sin (Hati Merah).
Restoran ini adalah restoran tertua dan paling terkenal di kota tersebut.
Kedatangan rombongan Nan Thian, langsung di sambut gembira.
Pemilik restoran dan pelayan pelayan di rumah makan itu,
Karena kini popularitas Nan Thian menjadi sangat tinggi dikota pelabuhan tersebut.
__ADS_1
Setelah dia berhasil menjinakkan kerbau mengamuk, menyelamatkan banyak orang, bahkan dengan besar hati membagikan kerbau tersebut untuk penduduk di sekitar lokasi kejadian.
Gosip itu dengan cepat sudah menyebar di seluruh pelosok kota tersebut.