
Fei Yang sebelum kehilangan kesadarannya, dia sempat mendengar semua nasehat kakek Wu.
Tapi dia memilih bertahan, dia tidak mungkin menyerah.
Dia sudah tidak punya jalan mundur.
Menyerah berarti, dia akan kehilangan kebebasan, begitu pula dengan Xue Lian yang menaruh harapan besar padanya.
Untuk membantu membebaskan kedua orang tuanya.
Fei Yang tak mungkin menghancurkan impian kecil istrinya.
Dia lebih baik mati, hancur menjadi abu, daripada menyerah, kata menyerah tidak ada dalam kamusnya.
Fei Yang setelah kehilangan kesadaran, justru muncul pencerahan di dalam pikirannya.
Di depan matanya, seolah olah di tampilkan tayangan secara lambat, apa yang harus dia lakukan.
Dalam menghadapi serangan irama suling pualam kakek Wu, yang hampir tiada celah.
Setelah muncul pencerahan tayangan bagaimana dia memecahkan ilmu irama pembetot Sukma milik kakek Wu.
Dahi Fei Yang memancarkan 6 cahaya kebajikan, kemudian menyebar menyelimuti seluruh tubuhnya.
Semua luka dalam yang dialaminya sembuh seketika, begitu sepasang mata Fei Yang terbuka.
Matanya yang tadinya sebelah merah sebelah biru, kini sudah kembali normal dan terlihat tenang.
Selain terlihat tenang dan lembut, sepasang matanya juga mengeluarkan 6 cahaya kebajikan sama seperti dahinya.
Fei Yang kini menggenggam pedang Mestika Panca Warna yang memancarkan 5 cahaya.
Di dasar laut efek suara irama, tidak lagi terdengar pikir Fei Yang.
Fei Yang tidak tahu, suara tidak terdengar bukan karena dia berada di dasar laut.
Suara irama itu, tidak akan pernah bisa terhalangi oleh apapun, bila sudah di keluarkan.
Meski Fei Yang bersembunyi di dasar laut, atau bahkan di perut bumi sekalipun.
Irama itu tetap akan mengejarnya, dan menekannya hingga dia musnah ataupun si pemilik, menghentikan tiupan nya.
Dalam hal ini, situasi yang terjadi adalah si pemilik suling, kakek Wu memang menghentikan tiupannya.
Karena dia mengira Fei Yang telah kalah, Fei Yang telah gugur dengan jasad tenggelam kedasar laut.
Baru setelah dia melihat ada pancaran cahaya muncul dari bawah laut naik ke atas permukaan.
Dia baru menyadari dirinya keliru, kakek Wu buru buru membuat pelindung seperti sebelumnya.
Kemudian kembali menempelkan suling pualam di bibirnya.
Dia kembali memainkan irama pembetot Sukma, untuk menyerang Fei Yang yang berada di kedalaman laut.
__ADS_1
Irama itu kini menembus hingga kedasar lautan, Fei Yang kembali mulai merasakan pengaruhnya.
Kini Fei Yang sepenuhnya sadar, ternyata laut tidak mampu membatasi irama menyesatkan itu.
Fei Yang buru buru mencabut pedang Mestika Panca Warna nya, sebelum dirinya kembali di bawah kendali irama itu sepenuhnya.
Fei Yang buru buru menebaskan pedang Mestika Panca Warna nya keatas sambil melesatkan jurus pertama dan kedua di gabungkan jadi satu.
"Tebasan Pedang Tanpa Wujud Rupa dan Bentuk..!"
"Tebasan Pedang Tanpa Perasaan..!"
Tebasan Pedang Tanpa Wujud Rupa dan Bentuk, menghasilkan serangan dahsyat membelah laut tanpa terlihat energi serangannya.
Tahu tahu lautan terbelah ada energi dahsyat yang tiba-tiba sudah meledakkan kekuatan pertahanan kakek Wu.
Tebasan jurus kedua Tebasan Pedang Tanpa Perasaan, sebaliknya adalah tebasan pedang yang akan mengincar siapapun yang masih memiliki setitik perasaan.
Tebasan ini tidak akan bisa tertahan dan akan meledakkan nya.
Kakek Wu yang terkena jurus pertama dan kehilangan cahaya pelindungnya.
Di mana energi pelindung 30 matahari bulan dan cincin lintasan elektron nya.
Telah pecah hancur tak berbekas, dirinya juga terpental ke atas langit.
Kakek Wu buru buru melepaskan jurus pedang naga siluman semesta.
Terlihat seekor Naga hijau raksasa melesat keluar dari ujung suling pualamnya.
Meski tidak bisa menghasilkan kekuatan seperti pedang Naga Siluman Asli yang telah tersegel.
Tapi suling pualam itu tetap mampu mengeluarkan jurus ke 10 dengan daya serang sekitar ,70%nya.
Menurut Wu Song, itu sudah lebih dari cukup bagi keturunannya, untuk mempertahankan diri bila berada dalam situasi terdesak.
Kini saat kakek Wu berada dalam situasi terdesak hebat, tidak punya cara lain untuk mempertahankan diri.
Dia dengan sangat terpaksa harus melepaskan jurus pamungkas ini.
Raungan Naga Siluman Semesta, membuat cuaca berubah gelap gulita.
Langit terbuka lebar menampilkan ruang tanpa gravitasi yang gelap gulita.
Energi angkasa raya masuk kedalam Naga Siluman Semesta yang siap menelan semesta dan apapun yang berada di hadapannya.
Tapi pergerakan Naga Siluman Semesta itu terhenti oleh tebasan pedang tanpa perasaan Fei Yang.
Di mana tebasan tersebut, di isi oleh kekuatan cahaya panca warna.
Saat Naga Siluman Semesta di lewati oleh tebasan pedang Mestika Panca Warna.
Naga Siluman Semesta terdiam di udara, sedetik kemudian dari dalam tubuh Naga hijau itu, muncul cahaya lima warna membias keluar.
__ADS_1
Detik selanjutnya tubuh Naga Siluman Semesta meledak hancur berkeping-keping.
Suasana gelap menjadi terang, langit kembali menutup dan cerah kembali.
Kakek Wu tubuhnya terpental bagaikan layangan putus, rambutnya yang tersanggul rapi kini terurai berantakan.
Dari mulutnya menyemburkan darah segar yang cukup banyak, pakaian atasnya hancur.
Dari perut hingga ke bahu muncul sebuah garis tebasan memanjang yang menimbulkan luka yang pecah cukup dalam.
Darah mengucur deras tanpa henti.
Tubuh kakek Wu yang terpental keluar dari dunia dimensinya, yang sudah habis tak bersisa.
Kini jatuh terlentang di atas tanah dalam kondisi tak berdaya, sambil terus batuk batuk dan memuntahkan beberapa teguk darah segar.
Dia terlihat sudah kehabisan energi untuk melakukan perlawanan.
Suling giok pualamnya, terlihat tergeletak begitu saja di atas tanah,.
Fei Yang sendiri kini sudah kembali ke sisi Xue Lian, pedang Mestika Panca Warna sudah dia simpan kembali kedalam cincinnya.
Meski pakaiannya terlihat compang camping dengan rambut putih terlihat terurai berantakan.
Tapi dari wajahnya, bisa terlihat jelas Fei Yang dalam keadaan baik baik saja.
"Sayang kamu tidak apa-apa ?"
tanya Xue Lian sambil menyentuh kulit dada suaminya, yang sedikit tertutup bulu halus dengan lembut.
Fei Yang melirik kearah istrinya, kemudian sambil tersenyum menggoda dia berbisik.
"Sayang bila kamu terus begini, aku pasti akan lepas kontrol sebentar lagi.."
Xue Lian menangkap maksud ucapan suaminya yang berbau a nonoh, wajahnya sesaat langsung merah padam.
Dia menarik bulu dada itu dengan gemas.
"Aduhhh,..!"
jerit Fei Yang kaget.
Xue Lian sambil menahan senyum , dia meniup bulu ditangannya.
Lalu berkata,
"Rasakan,..berani bicara tidak pada tempatnya.."
"Dasar tidak tahu malu.."
tegur Xue Lian sambil menahan senyum.
Fei Yang sambil meringis menahan nyeri, sambil mengomel tidak jelas.
__ADS_1
Dia buru-buru menjauh dari istrinya, Fei Yang bergegas mendekati kakek Wu.
Memberikan dua butir pil ajaib dari tabib dewa, yang langsung dia masukkan kedalam mulut Kakek Wu.