PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEADAAN DI DALAM GUA


__ADS_3

Bibir Meng Yu menyunggingkan senyum puas, karena di saat terakhir dia berhasil membalas dendam untuk wanita yang sangat dia cintai.


Dia mengincar raja Kyantha bukan Vijaya, atau yang lainnya, karena Yu Shu kekasihnya, memang meninggal bunuh diri di bawah ancaman raja biadab itu.


Seluruh pasukan kerajaan Pagan menjatuhkan diri berlutut mengikuti putri Shanti Dewi, yang terlihat sedang menangis sedih, sambil berlutut di hadapan jasad ayahnya, yang terbujur kaku, dengan kepala terpisah dari badannya.


Semua kejadian berlangsung begitu cepat kedua kakek itu juga tidak bisa berbuat banyak.


Raja Vijaya sendiri juga terbelalak tak percaya melihat akhir nasib tragis yang di alami oleh kakaknya.


Tapi begitu sadar, dia langsung perintahkan pasukannya, cepat ledakan pintu itu..


Para pasukan Vijaya, berbondong bondong maju membawa tong berisi bubuk hitam.


Semua mereka tumpahkan di depan gerbang pintu batu tebal itu.


Kemudian mereka semua bergerak mundur menjauh, masing masing menutupi telinga sendiri dengan kedua telapak tangan mereka.


Shanti Dewi sudah di totok jalan darahnya dan di pondong oleh salah satu kakek itu, untuk bergerak mundur menjauhi pintu gerbang batu, yang di perkirakan itulah tempat harta Karun di simpan.


Begitu panah api di lepaskan kearah gerbang pintu batu yang sudah di taburi oleh bubuk hitam.


"Bang,....!!"


terdengar suara ledakan dahsyat mengguncang seluruh tempat itu, suara ledakan nya, sampai membuat telinga semua yang hadir di sana berdenging.


Debu pasir batu berhamburan kemana mana, sehingga gerbang pun tidak terlihat semua tertutup kepulan debu.


Tapi setelah semua kepulan debu hilang, mereka semua terbelalak tak percaya dan terlihat kecewa.


Karena pintu batu itu terlihat tetap berdiri kokoh di sana, tak bergeming sedikitpun.


"Sialan,.. bangsat,..!!"


teriak Raja Vijaya mengumpat marah.


"Cepat taburkan lebih banyak lagi, jangan pernah berhenti, sebelum tembok sialan itu jebol..!!"


teriak Raja Vijaya kesal.


Pengorbanan nya sudah begitu besar, semua sudah direncanakan dengan begitu rapi..


Bila tidak berhasil membuka gerbang itu, semua usaha mereka semuanya akan jadi sia sia.


Harta Karun di dalam nya, selamanya akan tinggal kenangan.


Mereka malah menanam bom waktu di kemudian hari, begitu Fei Yang sampai pulih dan keluar dari dalam sana.


Tidak akan ada satupun di antara mereka yang bisa melihat matahari terbit.


Baru Jendral Meng Yu yang terluka parah saja mereka sudah kocar kacir, apalagi bila harus hadapi Fei Yang.


Itu sama dengan menggali lubang kuburan sendiri.


Berpikir sampai di sini, Raja Vijaya menjadi paranoid, dan berteriak,


"Ledakan terus, biar tebing ini runtuh aku juga tidak perduli..!!"

__ADS_1


Apakah daya nya para prajurit itu, bila perintah sudah keluar, biar setidak masuk akal apa pun.


Mereka tidak akan punya pilihan apapun, selain menjalaninya.


"Bang,...!!"


"Bang,...!!"


"Bang,...!!"


"Bang,...!!"


"Bang,...!!"


"Bang,...!!"


"Bang,...!!"


"Brukkk,..!


"Boommm,.!"


Ledakan beruntun terus berulang ulang di lakukan, tapi hasilnya tetap sama dinding batu itu kokoh bukan main.


Ledakan beruntun terus dilepaskan hingga Akhirnya tebing tinggi itu pun ambruk kebawah, menutupi seluruh pintu gerbang yang sama sekali tidak terlihat lagi.


Kecuali timbunan batu batu sebesar gajah yang menutupi seluruh area pintu batu itu.


Melihat hal itu, para prajurit hanya bisa melapor ke atasannya,.atasan mereka pun melapor ke Raja Vijaya


Shinta Dewi terlihat masih terus menangis sedih di dekat jasad ayahnya, yang kini sudah di pindahkan ke tengah ruangan belairung istana.


Mendengar laporan dari perwira yang bertugas di lapangan, Shinta Dewi pun memberi hormat kearah pamannya dan berkata,


"Paman situasi sudah seperti ini, aku akan memimpin pasukan kami kembali kerajaan kami.."


"Jasad ayah ku, perlu di upacara kan dan di lakukan pemakaman secara layak, agar arwahnya bisa tenang di sana.."


"Kami tidak bisa menunggu lebih lama lagi.."


ucap Shanti Dewi sedih.


Raja Vijaya di luar menghela nafas kecewa, tapi di dalam hati dia malah gembira.


Dengan mundurnya Shanti Dewi, berarti bila kelak berhasil.


Maka seluruhnya akan menjadi hak kerajaan champa.


"Baiklah keponakan ku, paman mengerti, kamu silahkan saja.."


ucap Raja Vijaya dengan mimik wajah berduka.


Padahal di dalam hati, dia sedang bersorak girang.


Beginilah kenyataan dari sebuah hubungan yang di bangun atas kepentingan politik.


Memang seperti itulah kenyataannya, orang orang yang hidup di dunia politik.

__ADS_1


Sangat kejam dan jahat, orang suci sekalipun akan terbawa kotor, bila sudah terjun ke dunia politik, apalagi orang awam.


Semua tindak tanduk di lakukan, hanya untuk keuntungan pribadi ras dan golongan saja.


Antara ucapan perbuatan dan pikiran tidak pernah sejalan, mulut berkata A pikiran berkata B perbuatan yang di lakukan bisa jadi C, semua tergantung kepentingan.


Setelah Shanti Dewi pergi dari sana, Raja Vijaya langsung bersama perwiranya dan di iring oleh kedua kakek aneh meninjau ke lokasi.


Begitu melihat lokasi sudah berubah menjadi lautan batu besar, Raja Vijaya pun melihat kearah kedua kakek itu meminta pendapat.


"Gunakan gelondongan kayu, pindahkan batu, coba diledakkan lagi dengan jumlah bubuk hitam yang jauh lebih besar."


"Yang diledakkan coba bagian atasnya pintu, siapa tahu bisa berhasil..'


ucap kakek pertama.


"Kalau tidak bisa terpaksa gali terowongan mencoba menembus kedalam lewat jalur lain.."


ucap kakek kedua menambahkan.


Selagi mereka sedang sibuk di luar, Wei Wen yang sudah terlepas dari tali yang mengikatnya.


Kini duduk termenung menatap Fei Yang yang sedang berusaha memulihkan kekuatannya kembali.


Karena suara ledakan di luar sangat keras, Fei Yang dan Wei Wen memilih menjauhi pintu batu itu sejauh mungkin.


Mereka berdua kini berada di ruangan yang penuh bergelimang harta.


Tapi baik Wei Wen maupun Fei Yang mereka tidak tertarik sama sekali dengan harta Karun itu.


Yang menjadi pikiran mereka, adalah bagaimana caranya, agar segera bisa meninggalkan tempat yang sangat membosankan itu.


Untungnya di dalam gua itu ada tersedia buah dan air berlimpah, sehingga mereka berdua tidak perlu takut kelaparan ataupun kehausan.


Wei Wen yang hanya bisa menatap Fei Yang duduk diam seperti sebuah Arca.


Merasa sangat jenuh dan bosan, karena sudah tidak tahan akhirnya dia tidak bisa menahan diri untuk buka suara.


"Kakak Yang kita mau di sini seperti ini sampai kapan..?"


Fei Yang yang merasa terganggu mengerutkan alisnya dan berkata,


"Ssstt,..!!"


"Semakin kamu berisik, kita akan semakin lama di sini.."


"Carilah kegiatan mu sendiri, jangan mengusik ku.."


"Tapi aku bosan kak,..!!"


"Aku bisa gila, bila seperti ini terus,..!"


teriak Wei Wen dengan wajah cemberut dan membanting kakinya.


Lalu dia pun membalikkan badannya dengan hati mangkel meninggalkan Fei Yang.


Setelah gadis itu menjauh, Fei Yang pun menghela nafas lega.

__ADS_1


__ADS_2