PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
BIKSU TUA


__ADS_3

"Kakak Yi ayo kita lihat kesebelah sana, apa gerangan yang sedang terjadi. ?"


ucap Fei Yang sambil maju menggandeng tangan Hong Yi.


Hong Yi hanya mengangguk kecil, dia pun mengerahkan ilmu ringan tubuh nya, agar bisa bergerak ringan mengikuti gerakan Fei Yang.


Fei Yang hanya menggunakan ilmu Meniti diatas daun, sehingga gerakannya masih termasuk normal.


Mereka berdua lalu mendarat ringan di atas sebatang pohon besar, berdaun lebat yang bisa menutupi kehadiran mereka berdua disana.


Hong Yi hanya menggunakan pendengarannya, untuk mewakilinya melihat apa yang sedang terjadi di bawah sana.


Sedangkan Fei Yang melihat dengan jelas pertarungan seru seorang biksu tua, dengan alis putih panjang.


Melawan keroyokan 4 orang yang Fei Yang kenali sebagai Hung Chi, Hei Chi, Pai Chi, Ce Chi.


Melihat keberadaan Ce Chi di sana, Fei Yang sangat gembira, mencari orang ini bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami.


Kini dia malah berada di sini, ini benar-benar kesempatan yang sangat baik.


Hanya saja Fei Yang tidak langsung turun tangan dia ingin tahu dulu, apa yang sedang terjadi di bawah sana.


Mengapa biksu tua yang sangat sakti ini, bisa bentrok dengan keempat tetua Hei Mo Pang.


Dari kedahsyatan pukulan yang dia lepaskan dengan jurus jurus sederhana, kekuatan biksu tua ini jelas masih diatas kemampuan Khong Ti dan Khong Sim, yang pernah Fei Yang temui 6 tahun yang lalu.


Hung Chi sudah mengeluarkan senjata pedang berkait nya,. sedang kan Hei Chi menggenggam sebilah pedang bersinar kehitaman.


Pai Chi menggunakan sepasang tombak yang bisa di lepas pasang di tangan kanan dan kirinya.


Ce Chi menggunakan sebuah selendang yang di kedua ujungnya di pasangi dengan dua buah bola berduri kecil, yang bersinar keunguan.


Sekilas lihat Fei Yang pun tahu, iblis wanita berbaju ungu itu, menggunakan racun jahat melumuri senjatanya.


Keempat orang itu mengandalkan kelincahan, mereka bergerak dari 4 arah mata angin, dengan teratur mengepung dan menyerang si biksu tua yang sakti itu.


Biksu tua itu berdiri tenang diam di tempat, menanti serangan yang datang dari empat penjuru.


Begitu serangan keempat orang itu mendekat, biksu tua yang tadinya berdiri diam dengan tubuh setengah berjongkok, dengan sepasang telapak tangan di satukan di depan dada.


Biksu tua itu diam menunggu hingga serangan keempat orang itu tinggal beberapa puluh centi jaraknya dari tubuh biksu tua itu.


Tiba-tiba dia berteriak keras, sambil merentangkan sepasang tangan kesamping, tubuhnya berputar-putar seperti gasing.


"Cahaya Buddha menerangi Dunia..!"

__ADS_1


Cahaya keemasan yang muncul mengelilingi tubuh biksu tua itu, tiba-tiba meledak kesegala arah.


Ribuan sinar keemasan seperti jarum emas, melesat kemana mana, menembus tubuh keempat tetua Hei Mo Pang, yang langsung pada terpental keempat penjuru.


Tapi meski mereka terpental mundur, tidak ada satupun di antara mereka yang mengalami cedera.


Karena saat terpental, mereka masing-masing membentuk perisai diagram kuno, untuk melindungi tubuh mereka dari lesatan energi cahaya, yang di lepaskan oleh Biksu tua itu.


Melihat ke 4 orang lawannya itu, berhasil.mematahkan serangannya.


Biksu Tua itu, tubuhnya melayang ke udara, mengambil posisi memunggungi arah barat.


Sesosok Bayangan Buddha, yang sedang tersenyum, muncul di belakang punggungnya.


Saat tubuh biksu tua itu melayang turun dari langit barat,.dia berteriak


"Buddha Datang Dari Surga Barat.!"


Dari sepasang telapak tangan nya, muncul 4 cahaya telapak tangan, yang mengeluarkan sinar keemasan, melesat keempat penjuru.


Keempat tetua Hei Mo Pang tidak berani menyambutnya, mereka memilih melompat mundur menjauh, menghindari serangan dahsyat tersebut.


Meski sudah melompat mundur, mereka berempat masih terpental hingga bergulingan, terkena efek ledakan kekuatan dahsyat itu.


Seluruh pakaian mereka berempat jadi compang camping.


Ce Chi setelah topeng dan kain penutup kepalanya pecah, ternyata dia adalah seorang yang memiliki kecantikan luar biasa dengan rambut keemasan.


Fei Yang langsung mengenali Ce Chi sebagai orang wilayah barat kekuasaan ayahnya.


Ternyata Ce Chi adalah wanita suku Turfan, yang merupakan suku keturunan bangsa Turki, yang lebih dekat ke wilayah perbatasan Eropa dan timur tengah.


Ce Chi setelah ketahuan penampilan aslinya, menjadi sangat marah, kedua alisnya langsung berdiri menandakan dirinya sangat kesal.


"Biksu monyet tua, kamu begitu suka menelanjangi ku, baiklah aku akan membiarkan mu lihat dengan puas...!!"


teriaknya dengan marah.


Dengan sekali hentakan hancurlah semua sisa pakaian, yang melekat di tubuhnya.


Sesosok tubuh yang putih mulus bagaikan patung Giok putih, yang terlihat sangat indah dan sempurna, kini terpampang jelas di hadapan semua orang.


Tanpa memperdulikan tatapan terkejut semua orang, dia langsung melesat kearah biksu tua itu,


lalu dia memainkan selendangnya seperti seorang penari, yang sedang menari erotis mengelilingi tubuh Biksu tua itu.

__ADS_1


Biksu tua itu sempat terkejut melihat pemandangan tidak tahu malu yang terpampang jelas di hadapannya.


Sehingga dia buru-buru menutup matanya dan berkata,


"Omitofo...!, sancai...! sancai...!


Sebagai seorang biksu tulen yang sejak kecil sudah menjadi biksu, dia termasuk perjaka tua yang belum pernah berhubungan dengan wanita seumur hidupnya.


Melihat pemandangan seperti ini di depan mata, meski dia sudah tua, gelora itu tetap muncul mempengaruhi ketenangan hati dan pikirannya.


Sehingga pergerakan nya pun menjadi terganggu dan kacau balau.


Untuk mengurangi kekacauan pikirannya, biksu tua itu terpaksa memejamkan sepasang matanya.


Tentu saja hal ini menjadi sangat tidak menguntungkan posisinya, yang bukan seorang ahli silat buta .


Dengan hanya mengandalkan pendengaran, tentu saja kemampuannya menjadi jauh menurun di banding sebelumnya.


Di tambah lagi dengan hati, pikirannya, yang terlanjur mengalami guncangan hebat, gerakannya menjadi kacau.


Dia bahkan kesulitan berkonsentrasi untuk melepaskan jurus tapak Buddha andalannya.


Ce Chi yang mengetahui dengan jelas kelemahan biksu tua itu, dia menjadi bersemangat dan semakin menjadi jadi.


Dia bahkan kini mulai mengeluarkan suara suara ******* yang menggoda.


Hal ini membuat biksu tua itu menjadi semakin kacau dan kusut.


Celah celah kelemahannya pergerakan nya mulai terlihat di mana mana.


"Bajingan tua, kalian tunggu apalagi, ? bukannya cepat membantu ku membereskannya, malah menjadi penonton disana..!"


tegur Ce Chi keki.


Karena dirinya malah menjadi tontonan gratis ketiga rekannya.


"Awas bila sampai gagal membereskannya, aku pasti akan meminta Xuan Hei menghukum kalian..!"


teriak Ce Chi keki.


Mendengar teguran dari Ce Chi, keempat orang itu kembali tersadar.


Mereka bertiga tanpa berani berayal, buru buru maju membantu Ce Chi dan lebih fokus menyerang dan mencecar kearah titik lemah biksu tua yang sedang kelabakan.


Biksu tua itu semakin terdesak, akibat konsentrasi dan pikirannya terganggu, dia tidak mampu mengeluarkan ilmu tapak sakti andalan nya.

__ADS_1


Dalam sekejap mata tubuhnya mulai terluka di sana sini.


Fei Yang yang menonton dari tempat persembunyiannya, juga sempat terbelalak kaget, melihat kenekadan yang di tujukan oleh Ce Chi.


__ADS_2