PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SUN ER YANG BERUNTUNG


__ADS_3

Fei Yang dengan gerakan cepat menancapkan satu persatu deretan jarum, di dalam bungkusan tersebut.


Satu persatu jarum itu dia tancapkan dengan cepat di dada di perut ditangan hingga di kening.


Tinggal satu jarum terakhir, yang harus di tancapkan di ubun ubun bayi itu.


Tangan Fei Yang terlihat gemetaran, wajahnya penuh keringat.


Seluruh pakaiannya basah, seolah olah dia habis tercebur kedalam kolam.


Fei Yang dua kali ingin menancapkan jarum tersebut, tapi selalu dia tarik kembali.


Untuk yang ketiga kalinya, Fei Yang mencoba mengambil nafas dalam dalam dan membuangnya, secara berulang ulang.


Dia sejenak memejamkan matanya mengumpulkan titik fokusnya.


Begitu sepasang matanya kembali, dengan gerakan sangat cepat.


Dia menancapkan jarum terakhirnya, tepat di ubun ubun bayi itu.


Saking cepatnya, selain Xue Lian tidak ada yang sempat melihat pergerakan Fei Yang.


Tahu tahu jarum sudah menancap di ubun ubun bayi itu.


Bayi yang tadinya diam dengan nafas terhenti, tiba tiba menangis nyaring.


Wajahnya yang membiru, perlahan lahan normal kembali.


Tangisannya semakin lama semakin nyaring.


Li Dan yang ingin mendekat tengkuknya di tekan oleh Xue Lian, sehingga dia tidak bisa bergerak.


"Anak manis,..Sun er sayang jangan menangis ya.."


"Paman sedang berusaha menolong mu.."


ucap Fei Yang pelan.


Tapi tangannya dengan cepat bergerak mencabut semua jarum, yang dia pasang ke tubuh keponakannya itu.


Fei Yang hanya menyisakan bagian dadanya masih tertancap jarum.


Semua lokasi di mana jarum tercabut tidak terlihat setetes pun darah yang keluar.


Ini menunjukkan Fei Yang sudah memasang jarum jarum itu di titik titik paling tepat.


Semua jarum yang di pergunakan, di lempar oleh Fei Yang kesebuah mangkuk putih berisi air panas mendidih.


Air di dalam mangkuk itu adalah air biasa, tapi saat tersentuh oleh Fei Yang.


Air itu langsung mendidih di buat nya.


Bayi itu terlihat masih terus menangis keras, hingga Fei Yang menempelkan sepasang tangannya di pusar dan di dada bayi itu.


Perlahan lahan bayi itu menghentikan tangisannya, dia malah kini tersenyum dengan mata terpejam.


Sesaat kemudian bayi itu sudah tenang, dia tertidur dengan nafas yang sangat teratur.


Dari ubun ubun kepala Fei Yang terlihat muncul kabut asap tipis.

__ADS_1


Baru setelah Fei Yang melepaskan kedua tangannya, kabut tersebut hilang tak berbekas.


Fei Yang sedikit terhuyung-huyung kebelakang hampir rubuh, bila dia tidak di topang oleh Xue Lian sontak dia pasti akan terguling.


"Bagaimana keadaan mu, Yang ke ke...?"


"Fei Yang memaksa tersenyum tipis dan berkata,


"Tolong papah aku kembali ke kamar kita.."


Saat melewati Li Dan yang masih mematung, Fei Yang menyentuh tengkuknya dan berkata,


"Kakak Dan dan Sian Sian rawatlah Sun er dengan baik.."


"Kelak Sun er pasti akan menjadi seorang yang luar biasa.."


"Saat Sun er memasuki usia 3 tahun berikan 2 kitab ini untuk dia pelajari."


"Ini akan sangat membantunya.."


ucap Fei Yang sambil memasukkan 2 buah kitab kuno kedalam saku baju Li Dan.


"Adik Yang terimakasih banyak, bagaimana keadaan mu..?"


tanya Li Dan cemas.


Fei Yang tersenyum tipis dan berkata,


"Ada dia kalian tak perlu cemas, lebih parah dari ini pun."


"Selama ada dia, dia tidak akan biarkan sesuatu terjadi pada ku ."


ucap Fei Yang sambil menoleh kearah Xue Lian dengan senyum lembut.


Dia menariknya kembali, dan menyimpan di dalam hati.


Dia lebih memilih berjalan kearah ranjang, di mana Sun er sedang tertidur pulas, dengan nafas teratur dan wajah tersenyum.


Sian Sian diam diam harus akui wajah anak itu sangat tampan.


Sangat mirip dengan Fei Yang.


Mungkin karena masih ada pertalian darah di antara mereka, pikir Sian Sian dalam hati.


Sian Sian tiba tiba merasakan ada perasaan hangat dan sangat akrab dengan bayi tersebut.


Tanpa sadar Sian Sian menyunggingkan senyum, yang sangat lembut.


Sebuah senyum yang sudah sangat lama menghilang dari wajahnya.


Sejak Afei berubah menjadi Fei Yang, selain airmata yang terus mengalir, dia bahkan sudah lupa punya senyum itu.


Fei Yang yang melihat hal itu dari jauh sambil tersenyum, Fei Yang berkata,


"Sian Sian adalah gadis yang baik, dan bisa di percaya.."


"Dia pantas menjadi permaisuri negeri ini.."


"Tapi semua ini terserah pada kakak, tolong jangan sakiti perasaannya lagi."

__ADS_1


"Jangan tiru aku, kakak nanti akan menyesal.."


"Ayo Lian mei, kita kembali ke kamar.."


ucap Fei Yang lembut.


Xue Lian sambil membantu memapah Fei Yang meninggalkan tempat tersebut, dia berkata.


"Apa kakak masih ada menyimpan penyesalan terhadap mantan tunangan kakak itu.?"


"Bila ada, sekarang masih sempat nanti bisa sekali jalan dua sekaligus.."


"Agar tidak menjadi penyesalan di kemudian hari.."


Fei Yang menoleh kearah Xue Lian, meski ucapan nya penuh dukungan dan pengertian.


Tapi Fei Yang jelas menangkap ada nada cemburu di sana.


Sambil tersenyum Fei Yang berkata,


"Harusnya 3 bukan 2 jangan lupa masih ada dia yang belum kehitung."


"Kamu..ngelunjak ya..!"


bentak Xue Lian sambil melotot.


Fei Yang sambil menahan tawa berkata,


"Aku suka kamu terlihat cemburu dan marah, itu artinya kamu masih perduli dengan ku.."


"Lian mei,.. aku katakan sejujurnya pada mu..seumur hidup ku, baik kehidupan ini, maupun bila ada kehidupan mendatang."


"Aku hanya akan memilih mu seorang tidak akan ada lagi yang lain.."


ucap Fei Yang sambil menatap sepasang mata Xue Lian dengan serius.


Xue Lian dengan bibir cemberut berkata,


"Dasar tukang gombal, siapa yang tahu apa yang ada di otak dan hati mu.."


"Ayo kita pulang.."


Mulutnya mengomel tapi pelukannya pada Fei Yang mengerat, itu tandanya dia sangat nyaman dengan ucapan suaminya.


Fei Yang menyadari hal itu, dia tidak berkata-kata lagi, hanya mengikuti tarikan tangan istrinya, sambil tersenyum gembira.


Saat kembali kedalam kamar Fei Yang buru buru menyerap hawa di sekitarnya untuk membantu pemulihan keadaan nya.


Demi menolong keponakannya yang sedang kritis, di mana pembuluh darahnya banyak tersumbat.


Syaraf di dalam tubuhnya banyak yang rusak, Fei Yang terpaksa menggunakan hawa sakti nya.


Dengan hati hati memperbaikinya, bila sekedar menyalurkan saja itu mudah, tapi ini membuka dan memperbaikinya.


Apalagi ponakannya masih sangat kecil, setiap bagian tubuhnya sangat rentan.


Jadi Fei Yang memerlukan pengendalian hawa tingkat tinggi untuk itu.


Baru dia berhasil menyelamatkan keponakannya.

__ADS_1


Sun er yang beruntung selain mewarisi sebagian kekuatan Fei Yang, seluruh nadi di tubuhnya pun sudah di buka oleh Fei Yang.


Tanpa perlu berlatih di dalam tubuh anak itu kini sudah ada tenaga sakti, yang bila di latih dengan normal perlu waktu 100 tahun dengan bakat alami terbaik sekalipun.


__ADS_2