PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SITUASI DI RUANG SIDANG ISTANA


__ADS_3

Fei Yang tersenyum melihat Yi Wen atau putri Wei yang pergi dengan muka kesal.


"Yi Wen,..! ini untuk mu..!"


ucap Fei Yang sambil melempar sebuah tusuk konde batu Kumala berhias batu mulia berwarna biru.


Sama persis dengan baju yang di kenakan oleh Yi Wen.


Yi Wen menoleh dengan kaget sambil memegang rambut di kepalanya.


Dia merasa ada sesuatu yang baru tertancap di sana.


Saat dia menyadari itu adalah hiasan tusuk konde.


Sambil tersenyum gembira dia berkata,


"Terimakasih hadiahnya kakak' Yang, nama ku bukan Yi Wen, nama ku Zhao Wei Wen.."


Setelah berkata, dia langsung berlari kecil meninggalkan tempat itu sambil memegangi hiasan rambut di kepalanya.


Putri Wei terlihat sangat gembira dan ceria, wajah kesalnya sudah hilang tak berbekas.


Melihat kegembiraan putri Wei Wen, Fei Yang pun tersenyum lebar.


Dia tidak serius mengajak Putri Wei Wen bertengkar dan membuatnya marah marah.


Bagaimana pun Fei Yang sadar, jasa putri Wei Wen terhadap dirinya tidak lah kecil.


Sebenarnya dia sangat merasa berterima kasih pada Putri Wei Wen.


Dia berbuat begitu, hanya tidak ingin diri nya di bawah kontrol, putri yang cerdas, manja, keras kepala, dan suka semaunya sendiri itu.


Bila dia dari sekarang tidak bersikap tegas, kelak dia sendiri yang akan kesulitan menghadapinya.


Karena kedepannya hari hari mereka bersama masih panjang, dia tidak mungkin mengingkari kata kata yang sudah dia keluar kan.


Selagi Fei Yang sedang duduk termenung seorang diri


Tiba tiba Siau Cui pelayan Wei Wen sudah berdiri di sampingnya dan berkata,


"Tuan saya di tugaskan oleh tuan Putri Wei, untuk mengatur semua keperluan tuan selama berada di istana.."


"Kamar buat Tuan sudah siap, bagaimana bila saya antar tuan kesana sekarang ?"


tanya Siau Cui penuh hormat.


Fei Yang pun tersadar dari lamunannya dan buru buru berkata,


"Ehh ohh baik baik,.."


Siau Cui mengangguk penuh hormat, kemudian dia berjalan di depan membawa Fei Yang meninggalkan paviliun itu.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan berkelok-kelok meninggalkan taman.


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah halaman yang cukup luas, dan sepi.


Di sana berdiri sebuah bangunan besar dengan sederet kamar yang berbaris rapi.


Fei Yang di antar menuju salah satu kamar yang terletak di bagian paling tengah.


Kamar itu adalah kamar yang paling besar, bila dibandingkan dengan deretan kamar yang berada di lokasi tersebut.


"Silahkan tuan, bila perlu apa apa panggil saja Siau Cui, kamar Siau Cui terletak di kamar yang paling ujung sana.."


"Makan sore dan malam nanti akan ada yang antar ke kamar tuan langsung."


"Siau Cui permisi dulu tuan,.. besok pagi Siau Cui baru kembali kemari, selamat beristirahat tuan.."


ucap Siau Cui penuh hormat.


Kemudian dia pun mengundurkan diri dari sana.


Fei Yang tidak banyak berucap, setelah Siau Cui pergi, Fei Yang pun masuk kedalam kamar nya.


Agar tidak menimbulkan masalah yang tidak perlu, Fei Yang memilih bersembunyi di dalam kamar tersebut, dan tidak pergi kemana pun.


Fei Yang memilih duduk bermeditasi di atas kasurnya, sambil menunggu waktu yang di janjikan tiba.


Sesuai yang di janjikan oleh Putri Wei Wen, di saat cuaca di luar masih gelap.


Dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada orang yang mengenali Fei Yang lagi.


Siau Cui kemudian membawa Fei Yang menemui putri Wei Wen yang sudah bersiap di depan kamarnya.


Melihat penampilan Fei Yang dia mengangguk puas dan berkata,


"Maaf kakak Yang sedikit menyulitkan mu, tiada pilihan lain.


"Hanya dengan cara begini, baru ada harapan, musuh mu bersedia keluar menghadapi mu.."


ucap Wei Wen sambil menahan senyum melihat tampang Fei Yang.


Fei Yang mengangguk dan berkata,


"Bukan masalah adik Wen, ayo kita berangkat sekarang.."


Wei Wen mengangguk dan berkata,


"Kak Yang, nanti saat tiba di ruang sidang istana, kak Yang tidak perlu banyak bicara.."


"Semua serahkan pada ku saja."


"Kak Yang cukup ikut di belakang ku saja."

__ADS_1


"Saat seleksi berlangsung, kak Yang juga tidak perlu tampilkan kemampuan sebenarnya.."


"Asal bisa lewat sudah cukup.."


ucap Wei Wen berpesan.


Fei Yang mengangguk mengerti, lalu dia bergerak mengikuti langkah putri Wei Wen dari belakang.


Sewaktu berangkat rombongan Wei Wen cukup ramai, tapi saat tiba di depan ruang sidang istana yang besar dan megah.


Hanya terlihat Wei Wen yang menaiki anak tangga, di ikuti oleh seorang pria gendut berwajah jelek di belakang nya.


Kehadiran Wei Wen di sana, langsung di sambut cemoohan saudari saudarinya yang lain .


Di sana selain hadir para putra raja, para putri raja pun semua turut hadir.


Masing masing di kawal oleh pengawal pribadi andalan mereka, yang berjalan mengikuti di belakang mereka.


Dari pengamatan Fei Yang, yang memiliki pengawal berkemampuan tinggi hanya putra mahkota saja.


Sisanya hanya pengawal pengawal yang memiliki kemampuan biasa biasa saja.


Seluruh putra putri Zhao Kuang Yi, yang lahir dari permaisuri dan selir selir yang berbeda beda,


Bila seluruhnya di total jumlahnya, tidak kurang dari 16 orang, dengan 8 putra dan 8 putri, tentu saja putra ketiganya Zhao Heng tidak termasuk hitungan, karena sedang menjalani hukumannya di Xiang Yang.


Wei Wen tidak memperdulikan cemoohan dari saudaranya yang lain, hubungan nya dengan mereka juga tidak akrab.


Wei Wen hanya akrab dengan Kakak ketiganya Zhao Heng, yang saat ini sedang di buang dari istana.


Fei Yang hanya diam dan terus mengikuti langkah Wei Wen, menaiki tangga menuju ruang sidang istana.


Memasuki ruang sidang istana, di mana terlihat di dalam ruangan yang luas dan megah tersebut.


Para pejabat sipil dan militer sudah terlihat banyak yang hadir di sana.


Diam diam Fei Yang harus akui, ruang sidang istana kerajaan Song ini, jelas jauh lebih besar megah dan mewah daripada ruang sidang kerajaan ayahnya.


Kursi tempat duduk kaisar yang terletak di paling ujung dan paling tinggi tempat nya.


Terlihat masih kosong, karena kaisar Zhao Kuang Yi sendiri belum hadir.


Fei Yang terus melangkah kedepan mengikuti Wei Wen, yang berjalan bergabung dengan saudara saudarinya yang lain.


Mereka terus bergerak menuju bagian undakan tangga baris ketiga.


Bila di hitung dari undakan anak tangga pertama yang ditempati oleh kursi kebesaran milik kaisar dan permaisuri.


Maka undakan tangga kedua ditempati oleh para selir kesayangan kaisar, dan ibu kandung dari para putra putri nya ini.


Sedangkan undakan tangga ketiga adalah tempat khusus untuk para putra putri kaisar.

__ADS_1


__ADS_2