PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
SIKAP KAKEK WU


__ADS_3

"Begini senior, sebelumnya kami minta maaf, bila kedatangan kami ini telah mengganggu ketenangan senior bertiga.."


ucap Nan Thian sambil memberi hormat dengan sikap segan.


Kakek Wu tersenyum lembut dan berkata,


"Bukan masalah, kalian adalah teman Zi Zi, ini berarti kalian adalah tamu di sini.."


"Tidak perlu sungkan, bila ada yang kalian perlukan katakan saja.."


ucap kakek Wu tersenyum penuh pengertian.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Terimakasih senior, bila begitu junior tidak akan sungkan lagi.."


"Sebenarnya kedatangan kami kemari adalah demi mencari informasi tentang seekor Naga Hijau, yang berasal dari tempat di luar dunia kita.."


Kakek Wu mengerutkan alisnya, dia berpikir mengingat ingat, sesaat kemudian dia berkata,


"Anak muda setahu ku, baik di pulau pelangi maupun di pulau ikan tempat tinggal cucu kami Fei Hsia.."


"Selain burung bangau Dewata, hadiah dari leluhur kami, kami sama sekali tidak pernah melihat mahluk legenda, seperti yang anak muda sebutkan barusan.."


Nan Thian dan Kim Kim saling bertatapan sejenak.


Nan Thian lalu mengangkat bahunya tanda tak berdaya.


Kim Kim kini maju sendiri dan berkata,


"Maaf senior tolong bantu ingat ingat lagi, ini sangat penting bagi ku.."


"Kami ras naga dari tempat yang sangat jauh, kini hanya tersisa kami berdua saja.."


"Aku sangat ingin bertemu dengan saudara ku itu, mohon di bantu senior.."


ucap Kim Kim sambil menatap kakek Wu dengan penuh harap.


Zi Zi yang sedang memegang tangan gurunya, berbisik pelan.


"Guru bantulah mereka, nanti mereka akan bantu guru temukan ayah.."


"Hanya mereka lah yang tahu di mana ayah ibu ku bersembunyi.."


"Mereka juga yang telah menolong ku menghadapi Lang Ge Er.."


"Lang Ge Er, penghianat itu, kini sudah di musnahkan oleh kakak Nan Thian.."


"Mereka termasuk berjasa bagi ku, juga bagi nama baik pulau pelangi ."


"Bukankah guru pernah bilang, perguruan kita pantang berhutang Budi dengan orang.."


ucap Zi Zi cepat membujuk Fei Hsia gurunya ikut angkat bicara.


Fei Hsia tersenyum lembut menatap muridnya.


Sambil menggelengkan kepalanya menahan senyum.


Dia menggunakan ujung jarinya menyentuh ujung hidung muridnya dengan gemas, dan berkata setengah berbisik,


"Guru benar-benar, tahluk pada mu.."

__ADS_1


"Baiklah, guru akan mencobanya.."


Fei Hsia kemudian angkat bicara,


"Kakek, memang di pulau kita ini tidak ada mahluk itu.."


"Tapi apa kakek lupa dengan Naga Hijau Siluman Semesta, yang rohnya bersemayam di dalam tubuh pedang pusaka leluhur kita Wu Song..?"


Ucapan Fei Hsia membuat kakek Wu tertegun, dia menatap cucunya dengan terkejut dan berkata,


"Fei Hsia itu adalah rahasia turun temurun yang belum sempat aku ceritakan pada mu.."


"Bahkan nenek mu juga tidak tahu, bagaimana kamu bisa..?"


tanya kakek Wu kaget.


Fei Hsia tersenyum dan berkata, "Apa kakek lupa leluhur Lu Fan, pernah tinggal beberapa saat di pulau ku ."


"Ohh itu,.."


ucap kakek Wu sambil mengangguk angguk tanda mengerti.


Sesaat kemudian dia menoleh kembali kearah Kim Kim dan Nan Thian lalu berkata,


"Begini, aku hanya bisa katakan pada kalian.."


"Pedang Pusaka Naga Siluman Semesta, di simpan oleh leluhur kami Wu Song.."


"Leluhur kami Wu Song kini tinggal di tempat di luar dunia ini, beliau kini menjadi murid Tiga Dewa Agung, ikut tinggal di San Ching Kuan..."


"Senior,..di mana itu San Ching Kuan ? siapa tiga Dewa agung..?"


tanya Kim Kim berbinar, tidak bisa menahan rasa penasarannya.


"San Ching Kuan, adalah nama istana di langit tingkat pertama.."


"Untuk bisa mengakses kesana, manusia seperti kita tidak akan pernah bisa.."


"Hanya manusia setengah dewa yang bisa terbang bebas di udara dan mencapai keabadian yang bisa.."


"Itu pun harus melapor dulu dan mendapatkan ijin dari kaisar langit yang tinggal di langit lapis keempat.."


"Itulah sedikit informasi yang di turunkan secara turun temurun oleh leluhur kami."


ucap kakek Wu tersenyum sabar.


Kim Kim dan Nan Thian saling pandang.


"Kakak kita harus bisa kesana, apapun caranya.."


ucap Kim Kim berkeras.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Kalau begitu, kita urus masalah paman Fei Yang dulu, bila sudah beres.."


"Kita nanti bisa konsultasikan dengan paman Fei Yang, siapa tahu paman punya atau tahu cara akses kesana ."


Kim Kim mengangguk lesu dan berkata,


"Kelihatannya memang hanya bisa begitu.."

__ADS_1


Nan Thian menepuk lembut pundak sahabatnya dan berkata,


"Hal begini ingin cepat juga tidak bisa, jadi adik Kim Kim, kamu bersabarlah sedikit.."


"Aku janji apapun caranya, aku pasti akan membantu mu menemukan nya.."


ucap Nan Thian serius.


Kim Kim menatap Nan Thian, lalu mengangguk dan berkata,


"Terimakasih kak.."


Nan Thian tersenyum lembut dan mengangguk kecil, menanggapi ucapan Kim Kim.


Setelah menenangkan Kim Kim Nan Thian kembali menghadap kearah kakek Wu.


"Senior disini kami berdua mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya, atas informasi yang sangat berharga ini.."


"Semoga Thian yang akan membalas semua Budi baik senior pada kami.."


"Di sini kami sekalian mau pamit, karena kami masih punya pekerjaan penting yang harus segera diselesaikan.."


"Maaf bila kedatangan kami sedikit menganggu ketenangan di pulau ini.."


ucap Nan Thian sambil membungkuk memberi hormat, Kim Kim pun mengikutinya.


Kakek Wu tersenyum lembut dan berkata,


"Anak muda anda terlalu sungkan, justru kami pihak pulau pelangi yang harus ucapkan terima kasih banyak.."


"Pertama kalian telah menyelamatkan murid cucu kami Zi Zi."


"Kedua kalian telah membantu kami, membereskan masalah murid pengkhianat kami Lang Ge Er, yang merupakan ancaman serius, yang bisa merusak nama baik perguruan kami.."


ucap kakek Wu sambil membalas penghormatan Nan Thian dengan tulus.


Nan Thian pun buru buru membalasnya dan berkata,


"Semua hanya terjadi secara kebetulan, mungkin ini yang di namakan jodoh.."


Kakek Wu tersenyum, lalu mengangguk angguk setuju, sambil mengelus jenggot putihnya yang panjang, dia berkata pelan.


"Benar,..kamu benar sekali anak muda.."


"Kakek,.. Nenek,.. Fei Hsia ingin pergi bersama mereka, untuk mengantar Zi Zi kembali ke orang tuanya.."


ucap Fei Hsia memberitahu kakek neneknya.


Dari nadanya, itu hanya memberitahu bukan meminta ijin.


Dari intonasi nadanya sudah jelas,


dapat atau tidak dapat ijin, suara yang tegas dan penuh tekad itu, jelas tidak mau di ganggu gugat keputusan nya.


Kakek Wu mengerutkan alisnya menatap kearah cucunya dengan tidak senang dan berkata,


"Kamu harus ingat posisi dan batasan mu, jangan mencoba merusak rumah tangga orang lain.."


"Dia adalah tuan penolong yang berbudi pada keluarga kita, bila kamu berani punya niat tidak benar padanya.."


"Kakek juga tidak Sudi hidup di dunia ini melihat mu lagi.."

__ADS_1


Setelah berkata tegas sambil mendengus kesal, kakek Wu menoleh kearah istrinya dan berkata,


"Ayo kita kedalam.."


__ADS_2