PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERTANDINGAN SAYEMBARA DI LANJUT


__ADS_3

"Bagaimana, kamu mau kan .?"


tanya Siau Yen sambil tersenyum lembut.


Gadis kecil itu mengangguk penuh semangat, dia lalu menoleh kearah Nan Thian dengan tatapan mata penuh harap.


Sepasang matanya yang indah dengan bola mata kecoklatan menatap kearah Nan Thian dengan penuh harap.


Nan Thian mencoba tersenyum lembut dan menggelengkan kepalanya kearah bibi kecilnya.


Nan Thian bukan tidak mau kesana, tapi melihat sikap dan tatapan mata Siau Yen.


Dia sadar betul apa yang sedang di pikirkan dalam benak gadis itu.


Tatapan mata itu sama persis, dengan tatapan mata Siau Semei nya dulu, ketika pertama kali sedang berusaha mendekatinya.


Waktu itu dia memilih terseret kedalam pusaran kasih sayang Siau Semei nya.


Memberikan dengan tulus, dan membalas perasaan Siau Semei nya dengan cinta sepenuh hati nya.


Dia membiarkan dirinya terikat oleh belenggu asmara dari Siau Semei nya.


Sehingga kini harus berakhir seperti ini, tidak bisa mencintai juga tidak bisa memilki..


Hanya tersisa kenangan indah, sekaligus menyedihkan, yang sulit di lupakan.


Di mana kini hanya tinggal dirinya seorang, yang hidup dalam bayangan kenangan tersebut.


Nan Thian belum siap untuk menerima duka dan luka untuk kedua kalinya.


Jadi dia tidak ingin menerima dan membalas perasaan Siau Yen padanya.


Nan Thian tidak ingin terlalu dekat dengan Siau Yen, memberinya harapan palsu, yang pada akhirnya hanya akan menyakiti perasaan gadis itu.


Cara halus Siau Yen menarik perhatian bibi kecilnya, dia juga bukan tidak tahu.


Sebagai pemuda paling berbakat dan paling tampan di perguruannya.


Di mana dirinya dulu menjadi idola semua murid wanita di sana, bagaimana dia bisa tidak paham dengan trik kecil Siau Yen.


Tapi saat Nan Thian menghadapi tatapan mata kecewa bibi kecilnya.


Lalu bocah itu membuang mukanya dengan bibir cemberut.


Nan Thian menjadi luluh, tidak sanggup menolak dan mengecewakan perasaan bibi kecilnya.


Nan Thian mencoba menoleh kearah paman kecilnya, untuk melihat pendapat nya.


Di sana dia kembali melihat Sun er juga terlihat sangat berharap ingin bisa pergi kesana.


Melihat hal ini, Nan Thian semakin tak berdaya.


Nan Thian sambil tersenyum pahit, dia menatap kearah kakek Chu dan berkata,


"Baiklah senior, kalau begitu aku hanya bisa ucapkan terimakasih atas undangannya.."


"Kami bertiga akan memenuhi undangan tersebut."


Sepasang mata Siau Yen langsung berbinar gembira.

__ADS_1


Sedangkan Zi Zi sambil tertawa riang, dia kembali menggandeng tangan Nan Thian dan berkata,


"Terimakasih kakak tampan, aku tahu kakak tampan adalah yang terbaik.."


Nan Thian tersenyum tak berdaya, sambil menggelengkan kepalanya.


Dia membelai kepala Zi Zi dan berkata,


"Bibi kecil sudah berkehendak, keponakan hanya bisa menurut.."


"Kakak tampan ini, suka bicara aneh aneh Zi Zi gak ngerti.."


ucap gadis kecil itu polos.


Nan Thian tersenyum lembut dan berkata,


"Nanti bila Zi Zi sudah besar, Zi Zi akan mengerti dengan sendirinya.


"Ayo kalian berdua biar kakak gendong saja.."


ucap Nan Thian sambil tersenyum gembira.


Lalu dia menggendong kedua bocah itu bergerak meninggalkan gua kelelawar tersebut.


"Dasar bodoh, mengapa kakak tidak coba gendong dia, dan berikan kedua anak ini ke tua Bangka itu.."


ucap Kim Kim kembali menggoda Nan Thian.


"Bawel..!"


umpat Nan Thian dalam.pikiran nya .


Sambil menahan tawa, Kim Kim pun kembali memejamkan matanya, melanjutkan tidurnya.


Untuk naik keatas gua kakek Chu sambil menggendong Siau Yen di punggungnya.


Dia kembali naik keatas, dengan merambat akar akar tanaman, yang tumbuh subur di bibir tebing.


Sedangkan Nan Thian memilih membiarkan kakek Chu naik lebih duluan keatas.


Dia kemudian menyusul dengan terbang ringan keatas sambil menggendong kedua anak kecil itu.


Dengan menendang beberapa kali tonjolan batu di bibir tebing, Nan Thian terus melesat keatas.


Nan Thian naik belakangan, tapi dia justru tiba lebih dulu diatas bibir tebing.


Tapi baru saja Nan Thian mendarat di pinggir tebing, kedua orang tua Siau Yen yang salah paham dan mencurigainya.


Langsung mencabut pedang mereka menatap Nan Thian dengan penuh ancaman dan berkata,


"Mana ayah dan putri kami, kenapa kamu naik sendirian !?"


Nan Thian tersenyum sabar dan berkata,


"Jangan khawatir, sebentar lagi mereka juga akan naik keatas."


"Harap paman bibi bersabar sejenak."


ucap Nan Thian tenang.

__ADS_1


Baru saja Nan Thian selesai berucap, terdengar suara dari arah tebing.


"Kalian jangan bersikap tidak sopan.."


"Jaga sikap kalian, aku dan Siau Yen sedang menuju keatas.."


Mendengar suara ayah dan ayah mertuanya, pasangan itu langsung menyimpan pedang mereka.


Memberi hormat kearah Nan Thian,


"Maafkan sikap kami yang kurang sopan dan kurang hormat pendekar muda.."


"kami.."


Nan Thian mengangkat tangannya dan berkata,


"Tidak apa apa paman bibi, aku mengerti situasi dan perasaan paman dan bibi sebagai orang tua..'


"Bila aku berada di posisi itu, aku juga akan bersikap sama.."


ucap Nan Thian sambil tersenyum penuh pengertian.


Pasangan itu saling pandang, mereka berdua merasa tidak enak hati.


Sekaligus sangat kagum dengan sikap Nan Thian yang dewasa sabar dan penuh pengertian.


Mereka berdua sama-sama berpikir bila Nan Thian bisa bersanding dengan putri mereka, ini adalah hal yang sangat baik.


Ketimbang meneruskan acara sayembara pertandingan yang tidak jelas itu.


Tidak butuh waktu lama, Kakek Chu dan Siau Yen sudah tiba di atas dengan selamat.


Siau Yen setelah di turunkan dari gendongan kakeknya.


Dia langsung berlari menghampiri Nan Thian.


Nan Thian sempat tertegun berpikir apa yang akan di lakukan oleh gadis itu padanya.


Ada ayah ibunya di sana, bukan menghampiri ayah ibunya, malah menghampiri dirinya.


Ini akan menimbulkan salah paham dari orang tua gadis itu lagi pada dirinya.


Tapi Nan Thian akhirnya bisa tersenyum lega, saat Siau Yen tiba di dekatnya.


Dia hanya tersenyum malu melirik dirinya, kemudian dia maju menggandeng tangan Sun er dan Zi Zi mengikutinya.


Bukan langsung di tujukan ke Nan Thian.


Nan Thian menghela nafas lega, lalu berjalan mengikuti rombongan kecil itu kembali ke kota Lan Zhou.


Saat tiba di kediaman kakek Zhu, kakek Zhu sendiri, menggandeng Nan Thian di ikuti oleh anak dan menantunya.


Mereka duduk di kursi kehormatan, sebagai rombongan keluarga dekat kakek Zhu.


Kehadiran Nan Thian di antara keluarga Chu, bahkan duduk dengan akrab bersama kakek Chu.


Sempat mengundang perhatian dari tamu yang hadir.


Perhatian mereka baru teralihkan, ketika Siau Yen yang cantik kini kembali berdiri diatas mimbar.

__ADS_1


Dengan menggunakan cadar tipis penutup muka, dia maju menggantikan bibi kecilnya.


Di mana bibi kecilnya, kini terlihat ikut hadir duduk dalam rombongan keluarga, diam diam juga sering mencuri pandang melihat kearah Nan Thian.


__ADS_2