PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PENJELASAN FEI YANG


__ADS_3

Nan Thian mengangguk kagum dengan kemampuan pamannya yang banyak ragamnya.


Dia sewaktu kecil memang sering mendengar cerita tentang pamannya ini, dari ibu dan ayahnya.


Kini dia baru bisa membuktikan sendiri mengapa kedua orang tuanya begitu mengagumi pamannya ini.


Pamannya memang pantas di sebut legenda dari ilmu silat, pengobatan, hingga perilaku dan sikapnya semua sangat sempurna.


Dari kesabaran dan kesetiaan nya merawat kedua anak kembar dan istrinya seorang diri saja.


Sudah terlihat sikap pamannya yang sangat jauh berbeda.


Dari ketenangannya, menanggapi hilangnya Zi Zi, tidak mengalami kekacauan dalam bertindak.


Ini juga menunjukkan sikap betapa bijak nya sang paman dalam mengambil keputusan.


Setelah diam sesaat, mendengar penjelasan pamannya.


Akhirnya Nan Thian teringat dengan permintaan Kim Kim tadi.


"Paman Naga Emas, di dalam Dan Thian ku ini, sebenarnya punya saudara.."


"Saudaranya adalah seekor Naga Hijau, yang nyasar ke dunia kita."


"Apa paman pernah dengar tentang itu ?"


Fei Yang termenung, beberapa saat baru berkata,


"Aku tidak yakin, tapi aku rasa dua manusia setengah dewa, yang pernah membantu ku menghadapi Raja iblis asura.."


"Mungkin mereka tahu tentang Naga Hijau itu.."


ucap Fei Yang pelan.


"Siapa mereka paman,.? di mana aku bisa temukan mereka..?"


tanya Nan Thian bersemangat.


Fei Yang tersenyum lembut, melihat antusiasme keponakannya tersebut.


"Aku tidak tahu tempat tinggal mereka, masih ada atau tidaknya mereka di dunia ini.."


"Aku sendiri juga kurang paham, nama mereka adalah senior Lu Fan dan Wu Song."


Nan Thian menghela nafas kecewa, karena satu satunya petunjuk itu, kembali sirna.


Tapi sesaat kemudian dia kembali bertanya,


"Bila paman tidak tahu, apakah ada orang lain yang tahu, atau setidaknya punya sedikit informasi lebih tentang mereka..?"


Fei Yang tersenyum pahit, dia tentu tahu, tapi mengucapkan nama orang itu dia sedikit segan.


Di dalam hati kecilnya, ada rasa bersalah dan penyesalan karena telah melukai nya dengan sangat dalam.


Meski itu semua terjadi bukan atas kehendaknya, tapi setelah apa yang terjadi diantara mereka di pulau ikan.


Setidaknya sedikit banyak dia juga ikut terlibat di dalamnya.


Tapi melihat tekad kuat di mata keponakannya yang ingin mencari tahu tentang informasi itu.


Fei Yang akhirnya berkata,


"Thian Er kamu bisa coba cari ke pulau pelangi atau ke pulau ikan, pemilik pulau itu mungkin tahu informasi yang kamu butuhkan.."


"Di mana itu tempatnya paman ? siapa nama pemilik pulau itu.?"


tanya Nan Thian kembali.


Fei Yang memilih pura pura menundukkan kepalanya, menatap kearah Fei Yung yang sedang asyik menyusu dari induk kambing hutan.


Sambil tersenyum kecut Fei Yang berkata pelan,


"Kedua pulau itu terletak berdekatan, keduanya terletak di laut timur sana, bila ingin kesana ambil arah matahari terbit, kamu akan menemukan nya."


"Pemilik pulau pelangi adalah kakek Wu, masih keturunan dari senior Wu Song, dan masih ada hubungan keluarga dengan senior Lu Fan ."


"Sedangkan pemilik pulau ikan adalah Wu Fei Hsia, dia adalah cucunya kakek Wu."


ucap Fei Yang sedikit pelan dan suaranya sedikit bergetar saat menyebut nama Fei Hsia.


Kim Kim di dalam sana langsung berkata,


"Kelihatannya paman tampan mu itu, juga adalah seorang petualang cinta.."


"Dia dan Wu Fei Hsia, yang aku tebak pasti seorang gadis, mereka pasti punya hubungan khusus.."


ucap Kim Kim bersemangat.


"Dasar betina, tukang gosip berisik, kalau berani bicara sembarangan lagi, percaya tidak aku akan abaikan informasi ini.."


"Tidak jadi pergi mencari tahu.."


tegur Nan Thian yang tidak suka membicarakan utusan pribadi orang.


Dasar pria menyebalkan, ya sudah sana, terserah deh.."


jawab Kim Kim kurang puas, lalu dia menyelam kedalam lautan.


Fei Yang menghela nafas pelan dan berkata,


"Cukup kurasa, Fei Yung dan Fei Lung sudah tertidur, ayo kita kembalikan mereka kedalam kamar.."


Nan Thian mengangguk, dengan hati hati, dia membenarkan posisi tidur Fei Lung di dalam gendongannya.


Setelah itu dia baru bangun dari posisinya, mengikuti Fei Yang kembali kedalam pondoknya melewati pintu samping.


"Terimakasih banyak Thian Er, sekarang kamu boleh bebas melihat lihat keadaan sekitar sini, ataupun mau berlatih juga bukan masalah.."

__ADS_1


"Aku mau mengurus bibi mu dulu, kalau sudah selesai, kita baru ngobrol lagi ."


ucap Fei Yang setelah dia menidurkan kedua putra kembarnya kedalam keranjang bayi yang bisa di ayun ayun.


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Baik paman, kalau begitu Thian Er, pergi berlatih saja di dekat telaga sana.."


Fei Yang mengangguk pelan, setelah Nan Thian pergi.


Fei Yang baru menghampiri Xue Lian yang masih duduk diam di sana.


"Putra kita sudah tidur, sekarang giliran mu.."


"Sebentar ya, aku pergi mengurus , perlengkapannya dulu."


ucap Fei Yang sambil tersenyum penuh arti.


Xue Lian wajahnya sedikit memerah, menanggapi ucapan suaminya.


Dia hanya mengangguk pelan, sebagai tanggapan atas ucapan suaminya.


Sesaat kemudian terlihat Fei Yang meninggalkan kamarnya, pergi menyiapkan segala sesuatunya.


Setelah semua sudah siap di kamar mandi yang dulu sengaja dia bangun khusus buat istrinya.


Fei Yang segera bergegas kembali ke kamarnya, menyiapkan pakaian ganti bersih, lalu dia menggendong Xue Lian dengan hati hati menuju kamar mandi.


Setelah membantu melepaskan pakaian istrinya, Fei Yang dengan hati hati memasukkan tubuh Xue Lian berendam di sebuah Ting besar.


Berisi air hangat yang bercampur berbagai bahan obat obatan yang bisa menyehatkan kulit otot dan daging, juga menguatkan tulang.


Selain itu biar tetap wangi, airnya Fei Yang menaburkan kelopak bunga, diatas air tersebut


Seperti kebiasaan mandi yang sangat di sukai oleh istrinya, selama ini.


Fei Yang hanya bisa berharap dengan cara ini, sesuai dengan pengetahuan pengobatan yang dia bisa.


Perlahan lahan membantu istrinya pulih kembali kesehatannya seperti semula.


Setelah Xue Lian berendam di dalam Tong, Fei Yang dengan hati hati menggunakan kain lap berbahan lembut, membantu mandikan Xue Lian.


Sambil memandikan Xue Lian, Fei Yang bercerita, semua yang bagus bagus, tentang kegiatannya hari ini, kepada istrinya.


Fei Yang berharap dengan cara ini dia bisa mengurangi rasa jenuh dan bosan, yang di hadapi oleh Xue Lian Karena kondisinya yang seperti ini.


Xue Lian sendiri hanya bisa tersenyum bahagia, dengan air mata berlinang.


Menanggapi perlakuan suaminya pada dirinya yang penuh kasih sayang dan kesabaran.


Hal ini sudah menjadi kegiatan kebersamaan mereka secara rutin, selama berbulan-bulan.


Sebenarnya sangat banyak yang ingin di ungkapkan oleh Xue Lian, tapi karena keterbatasannya..


Dia akhirnya hanya bisa menyimpan semuanya di dalam hati nya.


Terkadang ingin rasanya, dia segera mengakhiri hidupnya, agar tidak menjadi beban bagi Fei Yang.


Tapi di sisi lain berpikir tentang nasib kedua putranya, juga nasib putri nya yang tidak tahu keberadaan dan kabarnya.


Hatinya menjadi tidak rela untuk menyerah dan pergi dari mereka semua.


Selain itu, dia juga sulit membayangkan apa yang akan terjadi dengan Fei Yang bila dia pergi.


Tidak tahu Fei Yang bisa menerimanya atau tidak, bila sampai Fei Yang sampai tertekan dan stress.


Bukankah dia akan menjadi pendosa yang mencelakai suami juga nasib ketiga anak nya.


Bila berpikir sampai di sini, keingin Xue Lian untuk mengakhiri semua penderitaan nya saat ini, langsung sirna dengan sendirinya.


Semangat untuk bertahan hidup, dan keinginan untuk sembuhnya akan meningkat.


Mungkin Fei Yang juga menyadari apa yang menganggu pikiran istrinya, makanya dia selalu berusaha menghiburnya dengan segala cara dan memberinya semangat secara terus menerus.


Setelah menyelesaikan tugas merawat istrinya, termasuk membantu Xue Lian, makan minum obat dan membantu mengalirkan tenaga sakti untuk melancarkan peredaran darah dan Chi nya.


Fei Yang baru menyusul kearah telaga untuk melihat hasil latihan keponakannya.


Melihat Nan Thian yang sedang berlatih 8 Tapak Naga Langit dengan dukungan tenaga sakti 9 matahari dan Ih Jin Jing.


Fei Yang tersenyum dan mengangguk puas melihat pergerakan Nan Thian yang cepat ganas dan kuat.


Nan Thian menghentikan latihannya dan menoleh kearah Fei Yang.


"Ehh paman sudah datang, maaf Thian Er hanya menunjukkan kebodohan di hadapan paman.."


ucap Nan Thian merendah.


Fei Yang tersenyum lebar dan berkata,


"Bagus, kamu mewarisi sifat rendah hati ayah mu, yang pandai menyimpan kemampuan sejatinya.."


"Tidak memalukan sebagai keturunan Yue Fei yang namanya sudah terkenal hingga 4 penjuru dunia.."


Nan Thian mengangguk dan berkata,


"Kakek memang memilki prestasi yang sangat banyak yang membuatnya terkenal.."


"Tapi aku dan ayah ku, kami minim prestasi, takutnya hanya membuat malu saja, bila di sebut sebut ."


ucap Nan Thian kembali merendah


"Kalau itu pemikiran mu, kamu salah Thian Er, ke beritahukan kepada mu.."


"Ayah mu bukan orang biasa, bila satu lawan satu tanpa pedang Mestika Panca Warna dan ilmu warisan manusia dewa, aku dan ayah mu mungkin akan imbang."


"Kalau kami berdua beradu tanding, paling hebat aku unggul pengalaman bertarung saja.."

__ADS_1


"Ayah mu mampu menandingi dan mendesak ketua Hei Mo San Ming Wang, yang sempat menjadi penguasa dunia persilatan, Itu bukan hal remeh."


"Selain itu, biang kekacauan dunia persilatan berikutnya Xiong Pa dan ketiga murid nya, juga di hajar tunggang langgang melarikan diri oleh ayah mu."


"Itu bukan sembarang orang bisa melakukannya.."


ucap Fei Yang menjelaskan dengan serius.


Fei Yang menghembuskan nafas panjang dan berkata,


"Kamu harus tahu satu hal, ayah mu rela melakukan semua ini karena dia sangat menyayangi dan mencintai keluarganya.."


"Dan itu ternyata berhasil, tidak seperti aku yang suka mengejar nama dan kekuasaan,.."


"Akhirnya kamu lihat sendiri, apa yang aku berikan pada keluarga ku..anak istri Ku.."


ucap Fei Yang penuh sesal.


Nan Thian terbelalak menatap Fei Yang agak kurang percaya.


Dia tidak menyangka, ayahnya ternyata diam diam memiliki kemampuan setinggi itu.


Padahal selama ini, dia mengira kemampuan ayahnya dan ibunya, mungkin hanya sejajar, kalau pun lebih hanya sedikit.


Sedangkan ketiga ilmu andalan yang ayahnya wariskan kepada nya, dia pikir ini semua karena bantuan Kim Kim ilmu itu jadi terkesan hebat.


Tapi kini setelah mendengar penjelasan pamannya, dia akhirnya baru paham, ilmu yang di pelajari nya bukan ilmu sembarangan.


Nan Thian mendengar keluhan pamannya, dia segera berkata,


"Ayo paman kita duduk di sana saja, mengobrol nya.."


"Paman jangan terlalu menyesalinya, ini semua adalah ujian, yakinlah badai pasti akan berlalu. "


ucap Nan Thian mencoba memberikan semangat ke Pamannya.


Fei Yang tersenyum lembut dan berkata dengan tenang,


"Kamu tenang saja Thian Er, paman bisa menerimanya, itu tadi hanya karena sedangkan membicarakan ayah mu.."


"Bahkan sebelum semua ini terjadi, paman jauh jauh hari juga sudah di ingatkan oleh guru paman.."


"Agar siap menerima musibah yang akan menimpa paman.."


ucap Fei Yang sambil mengambil tempat duduk bersandar di pohon persik yang tumbuh tidak jauh dari telaga.


Siau Huo tahu tahu sudah muncul ikut duduk setengah berbaring manja di dekat Fei Yang.


Fei Yang menanggapinya dengan membelai kepala dan leher Siau Huo.


Nan Thian mengangguk dan tersenyum lega.


Lalu dia juga mengambil bagian membelai belai Siau Huo.


Siau Huo diam saja tidak menolak belaian lembut Nan Thian.


"Paman apa tidak ada solusi lain untuk membersihkan racun di tubuh paman dan mengembalikan kemampuan paman..?'


tanya Nan Thian sambil menatap kearah Fei Yang dengan serius.


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Caranya bukan tidak ada, tapi untuk itu tentu harus bisa meninggalkan tempat ini.."


"Kamu juga lihat kondisi bibi mu dan kedua adik adik mu yang masih sangat kecil itu.."


"Meski aku pulih sekali pun, aku juga tidak mungkin pergi membawa bawa mereka, apalagi sampai meninggalkan mereka di sini.'


ucap Fei Yang serius.


Nan Thian menatap Fei Yang dan berkata dengan penuh ingin tahu,


"Paman sebenarnya bagaimana cara untuk meninggalkan tempat ini..?"


Fei Yang tersenyum dan berkata,


"Untuk bisa keluar dari tempat ini memerlukan ilmu ringan tubuh tingkat tinggi."


"Dalam artian bisa terbang bebas di udara, tapi kondisi ku kini, tidak memungkinkan aku bisa membawamu terbang keluar dari tempat ini."


"Bagaimana bila aku mempelajarinya, ? agar aku bisa antar paman bibi dan kedua adik kecil keluar dari sini..?"


tanya Nan Thian serius.


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Untuk bisa menguasai ilmu itu kamu harus punya tenaga api dan es yang imbang di dalam tubuh mu.."


"Selain itu, aku juga tidak bisa sembarang mewariskan nya pada mu.."


"Karena ilmu ini adalah warisan leluhur dari bibi mu, selain keluarga dalam dan garis keturunannya.."


"Ilmu ini di larang di wariskan ke orang luar, dulu bibi mu memaksa mewariskan nya pada ku.."


"Melanggar sumpah dari ibunya, makanya hidupnya mengalami banyak cobaan kesulitan.."


"Aku tidak bisa memintanya untuk kembali melanggar sumpahnya lagi.."


ucap Fei Yang serius.


Nan Thian mengangguk paham, dia sama sekali tidak kecewa, karena tujuannya belajar bukan untuk kepentingan pribadinya.


Tujuan dia ingin belajar justru ingin membantu paman dan bibinya.


Bila malah mencelakai mereka, tentu saja lebih baik tidak.


"Paman Yang, apakah burung burung besar dan aneh di tempat ini, tidak bisa membantu kita keluar dari sini ?"

__ADS_1


tanya Nan Thian lagi.


__ADS_2