
"Maaf, mengapa aku justru tidak merasa ada bayangan apapun di sini..?"
ucap kakek itu tersenyum ramah.
Lalu kakek itu kembali berkata,
"Anak muda, terimakasih atas perhatiannya.."
"Tapi urusan keamanan tempat kami, biar kami yang urus sendiri.."
"Tapi bila anak muda tertarik untuk mengikuti acara perayaan ku, dan sayembara cucu ku."
"Kami tetap akan merasa sangat senang, dan akan menyambut kehadiran anda dengan tangan terbuka..."
"Silahkan.."
ucap kakek itu sambil memberi kode mempersilahkan Nan Thian meninggalkan tempat tersebut.
Nan Thian menghela nafas kecewa, karena bayangan tersebut benar menghilang di sana.
Tidak tahu kenapa dia selalu merasa bayangan hitam itu, pasti menyimpan niat tidak baik, terhadap tempat ini.
Tapi dia sulit membuktikannya, atau memberikan argumen apapun, agar tidak terjadi bentrokan tidak perlu.
Nan Thian terpaksa memberi hormat kearah kakek itu dan berkata,
"Baiklah senior, bila seperti itu saya permisi dulu.."
"Saya tidak akan menganggu waktu senior lebih lama lagi."
ucap Nan Thian memberi hormat.
Kemudian dia melayang meninggalkan tempat itu, dengan ringan.
Kakek itu menatap bayangan punggung Nan Thian hingga menghilang dari pandangan nya.
Kakek itu menghela nafas pelan dan berkata pelan,
"Pemuda yang sangat menarik, sayangnya yang seperti ini justru belum juga muncul dalam sayembara.."
"Semoga saja besok dia bisa hadir.."
ucap kakek itu penuh harap.
Kakek ini bukan orang sembarangan, dia adalah seorang jagoan yang sudah lama pensiun.
Di dunia persilatan puluhan tahun silam, orang orang mengenalnya sebagai pendekar akar dewa..Chu Eng Lai
Dia terkenal dengan ilmu pedang akar dewa nya, yang jarang bertemu tanding.
Disebut akar dewa adalah karena, pedangnya terlihat seperti sebatang akar tanaman, dengan bagian ujung depan runcing dan tajam.
Dahulu kakek Chu sejak masih berumur dua puluh tahun, dia sudah terjun kedalam dunia persilatan.
Dia malang melintang dengan ilmu pedangnya, melewati berbagai pertempuran besar kecil.
Dari Utara hingga selatan dan akhirnya menetap di kota Lan Zhou.
Seumur hidupnya Kakek Chu belum pernah sekalipun, bisa di kalahkan oleh lawan ataupun musuhnya.
__ADS_1
10 tahun yang lalu, dia memilih pensiun dari dunia persilatan, lalu dia membawa seluruh keluarganya.
Menetap dikota Lan Zhou.
Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 80, keturunannya dan murid muridnya membuatkan acara pesta perayaan ulang tahunnya.
Dengan mengadakan pesta ulang tahun 3 hari 3 malam dan menyebarkan undangan keseluruh penjuru.
Mengundang semua tokoh dunia persilatan, baik dari kalangan hitam.maupun putih.
Semua yang pernah menjadi kenalan Kakek nya, semua di undang ke pesta tersebut.
Untuk meramaikan acara, cucunya yang cantik bahkan membuat mimbar mengadakan sayembara mencari suami.
Hal ini semakin menambah kemeriahan suasana pesta, karena banyak kalangan generasi muda khusus hadir kesana.
Hanya sekedar ingin menyaksikan dan mencari peruntungan, untuk bisa bersanding dengan Chu Siau Yen.
Gadis jelita 17 tahun, yang kabar nya kecantikannya, bahkan mengalahkan rembulan dan bunga bunga yang sedang bermekaran.
Kakek Chu mengedarkan pandangannya melihat ke sekitar, setelah memastikan kediamannya aman aman saja.
Dia baru menghilang dari tempat tersebut, kembali ke kamar nya untuk beristirahat.
Tapi tidak lama setelah kakek itu pergi, dari balik rerimbunan tanaman di taman sana.
Melesat sesosok bayangan hitam sambil menggendong sebuah bungkusan hitam di punggungnya.
Sosok itu bergerak dengan sangat cepat dan ringan, sekejab saja dia sudah menghilang dari tempat itu.
Nan Thian sendiri setelah meninggalkan kediaman kakek Chu.
Pagi pagi sekali Nan Thian sudah keluar dari kamarnya, dia terlihat sudah mandi bersih dan rapi.
Duduk di salah satu meja restoran yang sepi, sambil sarapan Mie seorang diri di sana.
Setelah menyelesaikan sarapannya, dan membayar semua tagihan nya.
Nan Thian lalu meninggalkan penginapan tersebut.
Nan Thian berjalan santai diantara para pedagang yang ingin mulai membuka usahanya.
Juga ibu ibu yang hendak berbelanja untuk keperluan memasak di rumah.
Nan Thian membelok kearah timur, menuju pintu gerbang timur.
Tapi saat Nan Thian tiba di gerbang timur langkahnya langsung di hadang oleh 3 orang berpakaian ringkas.
Salah satu diantara mereka langsung mundur dan melepaskan kembang api ke udara.
Sisa yang dua lagi salah satu diantaranya berkata,
"Harap tunggu sebentar anak muda, ketua kami ingin bertemu dengan anda.."
Nan Thian sambil tersenyum berkata,
"Kalau boleh tahu, siapa ketua kakak kakak di sini,?"
"Kira kira ada keperluan apa ya, sehingga ketua kalian repot repot mencari ku..?"
__ADS_1
tanya Nan Thian sambil memberi hormat dengan sopan.
"Maaf itu bukan wewenang kami, untuk menjawabnya.."
"Silahkan di tunggu saja, ketua kami nanti yang akan menjelaskan lebih lanjut.."
ucap kedua pemuda itu, sambil membalas penghormatan Nan Thian.
Tak perlu menunggu lama, dari jauh terlihat 3 orang dengan langkah cepat sedang menghampiri Nan Thian.
Nan Thian yang memilki penglihatan tajam, dari jauh dia sudah langsung mengenali,.salah satu di antara mereka adalah kakek semalam.
Dari wajahnya yang terlihat muram, juga kedua orang yang menyertainya, terlihat cemas.
Nan Thian menduga pasti telah terjadi sesuatu di kediaman mereka semalam.
Kini mereka menyebar orang di setiap pintu gerbang, menanti kemunculan dirinya.
Kelihatannya masalahnya tidak kecil, entah apa yang di lakukan oleh bayangan hitam itu semalam.
pikir Nan Thian menebak nebak di dalam hati.
Setelah mendekat kakek itu sambil tersenyum pahit berkata,
"Anak muda di antara kita tidak saling kenal, juga tidak pernah ada masalah.."
"Jadi kembalikan lah cucu ku, atau suruh komplotan mu kembalikan cucu ku.."
Nan Thian sedikit melengak mendengar tuduhan tersebut, tapi sesaat kemudian dia buru buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Senior, semalam kita baru berjumpa satu kali.."
"Diantara kita tidak saling kenal, juga tidak ada permusuhan, aku juga tidak mengenal cucu senior.."
"Jadi aku tidak punya alasan untuk itu..?"
"Lagipula bila aku pelakunya, apakah aku akan tunggu hingga saat ini, baru meninggalkan kota ini..?"
"Harap senior bisa pertimbangkan lagi dengan lebih sabar dan teliti.."
Ucap Nan Thian berusaha meyakinkan.
Agar orang orang di hadapannya mau mengerti dan percaya dengan nya.
Sehingga bentrokan tidak perlu bisa terhindar kan.
Nan Thian tidak mau jadi kambing hitam, orang lain yang berbuat dia yang di suruh bertanggung jawab.
Nan Thian yakin pelakunya, pastilah bayangan hitam, yang diikuti oleh nya semalam.
"Ayah tak perlu banyak bicara lagi dengan nya, kita ringkus dan paksa dia bicara..!"
"Jangan sampai dia kabur..!"
teriak seorang wanita berusia 40 an yang terlihat masih sangat cantik dan menarik.
Pria di sebelah nya juga mengangguk dan berkata,
"Lian mei benar ayah, dia pasti terlibat, jangan sampai dia lolos."
__ADS_1