
"Mau kabur jangan harap,..!"
Bentak Orang pertama Qi Lian San Koai.
Tengkuk Nan Thian berada dalam cengkraman tangan kiri orang pertama Qi Lian San Koai.
Tubuh Nan Thian tergantung tak berdaya di udara, pusat syaraf motorik tubuhnya terkunci.
Dia tidak bisa bergerak sama sekali,
"Apa yang kalian inginkan,? lepaskan aku cepat..!"
Bentak Nan Thian sambil mencoba meronta.
Tapi dia hanya bisa bergerak gerak lemah, tidak mampu berbuat apapun.
Bahkan pedang di tangannya pun sudah ikut terlepas dari pegangan tangannya.
Terjatuh kedalam danau dan tenggelam kedasar dasar danau hilang tak berbekas.
"Masih berani bertanya, tentunya gadis cilik itu yang kami inginkan.."
"Tapi kamu bocah bangsat, di suruh pergi malam mengacau hal baik kami.."
"Sekarang tidak ada rotan akar pun jadi, gak ada hawa Im sejati, hawa Yang sejati pun boleh lah..daripada tidak.."
ucap Orang pertama Qi Lian San Koai sambil tersenyum sadis.
Dia mencengkram rahang Nan Thian dengan kuat sehingga mulut Nan Thian terpaksa terbuka.
Orang pertama itu membuka mulutnya melakukan sedotan panjang'.
Perlahan-lahan hawa merah keluar dari mulut Nan Thian, masuk kedalam mulut orang pertama Qi Lian San Koai.
Nan Thian berusaha menggelengkan kepalanya agar rahangnya terlepas dari cengkraman tangan orang pertama Qi Lian San Koai.
Tapi usahanya sia sia, orang pertama Qi Lian San Koai, menanggapi usaha Nan Thian dengan tatapan mata mengejek.
Dia malah memperkuat sedotannya, sehingga hawa Yang yang keluar dari mulut Nan Thian, semakin banyak yang mengalir masuk kedalam mulut orang pertama Qi Lian San Koai.
Bagaimana pun Nan Thian berusaha meronta-ronta tapi semuanya sia sia.
Di seperti seekor capung yang terperangkap di jaring laba laba, semua usahanya sia sia.
Nan Thian sadar bila hawa Yang nya habis di sedot oleh kakek jangkung itu.
Dia akan kehilangan seluruh hasil latihannya selama ini, kedepannya nasibnya akan menjadi seorang pecundang.
Tak ada bedanya dengan manusia cacat.
Memikirkan hal ini Nan Thian semakin lama semakin takut, wajahnya mulai pucat.
Matanya mulai menyiratkan rasa takut nya.
Bagi seorang ahli bela diri, kehilangan energi sejati, itu lebih menakutkan daripada kematian sekalipun.
__ADS_1
Nan Thian terus berusaha meronta tapi usahanya semakin lama semakin lemah.
Akhirnya Nan Thian hanya bisa pasrah, membiarkan si kakek jangkung melaksanakan niatnya.
Setelah puas, tubuh Nan Thian di lempar kearah si gendut, selesai dari si gendut di lanjut oleh si banci.
Si banci yang paling menjijikkan, dia menempelkan bibirnya mencium bibir Nan Thian dengan kuat.
Lalu dia menyedot semua hawa yang Nan Thian miliki hingga kering kerontang.
Nan Thian hanya bisa terbelalak kaget, menanggapi apa yang di lakukan oleh si banci padanya.
Setelah puas si banci sambil tersenyum sadis berkata,
"Bocah sombong berani kamu mengacau, aku akan membuat mu menyesal terlahir kedunia ini."
Selesai berkata, dengan sadis si banci, mengunakan telapak.tangannya yang mengeluarkan cahaya kemerahan.
Di tempelkan kebagian bawah perut Nan Thian.
"Arghhhh..!"
Nan Thian berteriak kesakitan hingga air mata melompat keluar dari sepasang matanya yang terbelalak kesakitan.
"Bagaimana ? masih berani sok jagoan..?"
ucap si banci sambil tersenyum mengejek.
Lalu dia kembali menambah kekuatan nya untuk merusak Dan Thian nya Nan Thian.
"Arggggghhh...!"
Dia sudah tidak sanggup bertahan lagi, seluruh pandangannya gelap.
Nan Thian telah kehilangan kesadarannya akibat rasa nyeri hebat yang tak tertahankan lagi.
Secepat ini kamu pingsan, dasar tidak menyenangkan.
Dengan sadis si banci menekan kepala Nan Thian kedalam air danau.
Hingga Nan Thian gelagapan dan kembali sadar.
Si banci sambil tersenyum sadis berkata,
"Nah begini lebih baik, ayo kita lanjutkan.."
"Arggggghhh...!"
Lagi lagi Nan Thian kembali menjerit kesakitan,.saat tulang pundak nya di hancurkan oleh cengkraman tangan si banci.
Tidak berhenti sampai di sana, si banci terus menyiksa Nan Thian dengan menghancurkan sambungan siku lutut dan kedua mata kaki Nan Thian.
Tanpa memperdulikan jeritan kesakitan Nan Thian dia terus melanjutkan niatnya dengan sadis.
Setiap jerit kesakitan Nan Thian baginya seperti suara musik dari surga.
__ADS_1
Dia terlihat begitu menikmatinya, setiap Nan Thian pingsan kehilangan kesadarannya.
Dia akan mencelupkan kepalanya kedalam air danau, lalu dengan sadis dia kembali mengulangi aksinya.
Sedangkan kedua kakaknya hanya menatap dari tempat lain sambil tersenyum sadis.
Mereka seolah olah tidak punya hati dan perasaan melihat seorang anak muda tak berdosa di sakiti sampai sebegitu sadisnya.
Nan Thian yang tampan dan gagah, kini telah berubah penampilan nya layak nya orang gila.
Setelah puas mempermainkan Nan Thian si banci dengan sadis melempar tubuh Nan Thian ketepi danau, seperti melempar sampah.
Sesaat kemudian ketiga Siluman itu sudah menghilang dari tempat itu.
Kini danau Qing Hai yang indah terlihat tetap indah memukau.
Suasana hening mewarnai tempat itu, seolah olah tidak pernah terjadi apa apa di sana.
Satu satunya bukti yang masih tersisa akan kekejaman dan kesadisan Qi Lian San Koai.
Adalah tubuh Nan Thian yang tergeletak tengkurap tak bisa bergerak di tepi danau.
Angin sepoi sepoi dari pohon Pinus yang tumbuh subur di tepi danau, seolah olah ingin mengurangi penderitaan dan kesakitan yang di alami oleh Yue Nan Thian, seorang pemuda paling berbakat di Qing Hai Pai.
Di mana kini semuanya sudah hancur, tinggal kenangan saja.
Ditempat lain Xue Xue yang berlari seperti terbang meninggalkan danau Qing Hai.
Dengan perasaan cemas dan khawatir dia berlari menuju perguruan Qing Hai Pai.
Tanpa memperdulikan tatapan mata heran saudara saudara seperguruannya yang berpapasan dengannya.
Xue Xue terus berlari melewati mereka menuju ruang utama perguruan Qing Hai.
Mereka merasa heran karena tidak biasanya, Xue Xue berjalan seorang diri seperti ini.
Biasanya kemanapun dia pergi, akan selalu ada Nan Thian yang mengawalnya dengan setia.
Yue Nan Thian pendekar paling berbakat dari paling tampan di seluruh perguruan Qing Hai.
Hampir semua murid wanita di Qing Hai Pai menjadikannya sebagai idola, siang malam merindukannya.
Meski hanya sekedar bisa melihatnya saja, hati mereka sudah cukup puas.
Tapi pemuda itu justru hanya menyukai Pai Xue Xue putri tunggal ketua Qing Hai Pai seorang.
Dia hampir tidak pernah berbicara dengan siapapun bila sedang tidak ada perlu..
Satu satunya orang yang bisa menarik perhatiannya untuk berbicara banyak cuma Pai Xue Xue seorang.
Lainnya dianggap angin lalu olehnya.
Kini melihat Xue Xue cuma sendirian, tentu saja hal ini membuat mereka penasaran dan ingin tahu.
Apa yang terjadi, tapi mereka mengerti bagaimana tabiat Xue Xue.
__ADS_1
Jadi tidak ada satu orangpun di sana yang berani menegurnya, apalagi bertanya.
Xue Xue terus berlari menuju ruang utama, di mana ayahnya dan para paman guru nya biasa sedang berkumpul sambil minum teh.