PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KEMBALI KE IBUKOTA


__ADS_3

Nenek itu sambil senyum-senyum, menggunakan jari tangan nya, membelai wajah Fei Yang, dengan lembut.


Fei Yang langsung merinding di buatnya, dia langsung berteriak


"Hei kamu mau apa, ? jangan,..hei,..!"


"Mmmhhh,..!"


Sepasang mata Fei Yang terbelalak ketakutan.


Saat nenek itu mendaratkan bibirnya, yang keriput menutupi bibirnya.


Fei Yang yang tidak bisa bergerak hanya bisa melotot ketakutan.


Dia tak berdaya menolak ataupun menghindar, ketika nenek itu memaksa dengan lembut menciumi bibir nya.


Bahkan nenek itu, dengan lidahnya yang lembut dan licin, memaksa menyapu mulut Fei Yang yang terkatup rapat.


Dengan sedikit gerakan menekan rahang Fei Yang, hingga mulutnya sedikit terbuka.


Nenek itu menggunakan kesempatan tersebut, untuk menyapukan lidahnya yang licin dan lembut ke semua sudut dalam rongga mulut Fei Yang.


Sentuhan dan belaian lembut nenek itu di bagian dada dan leher Fei Yang.


Akhirnya membuat Fei Yang mulai terbawa suasana, dia memejamkan matanya, membalas sapuan lidah lembut nenek itu.


Desah nafas nenek itu yang memiliki wangi lembut menggoda, membuat Fei Yang mulai melayang.


Cukup lama mereka berdua melakukan hal itu, hingga nenek itu bisa merasakan perkakas Fei Yang yang mengeras.


Sambil tertawa kecil, nenek itu menghentikan permainannya dan berkata,


"Dasar pemuda munafik, nenek nenek pun kamu mau.."


"Plakkk,.."


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Fei Yang, hingga timbul bekas jari berwarna merah di pipinya.


Fei Yang begitu tersadar, dia langsung memaki maki dan mengutuki dirinya sendiri.


Fei Yang beberapa kali menunjukkan reaksi, ingin muntah hingga, air bening mengalir di kedua sudut matanya.


Tapi reaksi yang di tunjukkan oleh Fei Yang, tidak membuat nenek itu kasihan padanya.


Sebaliknya nenek itu malah menertawai nya.


Setelah puas menertawai Fei Yang


Sambil menahan tawa, nenek itu berkata,


"Bila kamu belum puas,.."


"Kamu boleh mencari ku ke Hua San, aku akan menunggu mu di sana.."


"Orang orang di sekitar sana, mengenal ku sebagai Hua San Lao Lao ( Nenek Gunung Hua )."

__ADS_1


"Sampai jumpa,..!"


ucap nenek itu dari luar kelenteng bobrok.


Karena sebelum ucapan nya selesai nenek itu sudah menghilang dari hadapan Fei Yang.


Fei Yang berulang kali memejamkan matanya fokus untuk melepaskan totokan nenek itu.


Tapi entah kenapa, bayangan perbuatan memalukan dan menjijikkan itu, selalu muncul di depan matanya.


Sehingga Fei Yang selalu gagal fokus untuk melepaskan totokkan tersebut.


Setelah mencobanya hingga puluhan kali tanpa hasil, akhirnya Fei Yang jadi malas.


Dia membiarkan dirinya terbaring begitu saja selama 24 jam, hingga akhirnya totokan tersebut punah dengan sendirinya.


Begitu totokan tersebut punah, dan Fei Yang mulai bisa bergerak dengan bebas, keadaan nya mulai normal kembali.


Fei Yang pun memilih untuk duduk bersila memulihkan kekuatannya, dan mencoba membantu proses pemulihan luka di perutnya.


Setelah keadaan nya pulih total Fei Yang langsung terbang meninggalkan tempat itu.


Saat terbang Fei Yang berpikir arah yang akan di ambilnya, ada 3 pilihan yang terlintas di pikiran nya.


Pertama kembali ke istana, mencari Zhao Yuan Zuo, mengobrak abrik istana kerajaan Song.


Ada kemungkinan dia menang, atau ada kemungkinan dia kalah dan tewas di sana, karena Zhao Yuan Zuo juga bukan orang lemah.


Dan bila dia memang tipis, berhasil membunuh Zhao Yuan Zuo,.tapi sendirinya terluka parah atau kehabisan tenaga.


Ini juga termasuk pilihan penuh resiko.


Belum.lagi dia harus mempersiapkan mental untuk berhadapan dengan Wei Wen yang tidak mempercayainya, hingga ingin membunuhnya.


Ada kemungkinan mereka akan bentrok dan hubungan mereka akan semakin meruncing, bahkan.kedepannya sekedar berteman pun sudah tidak bisa lagi.


Pilihan kedua adalah mengunjungi Hua San mencari nenek yang melecehkan dirinya itu untuk balas dendam.


Tapi di sini pun Fei Yang ragu, mau balas dendam atau balas Budi, bukankah nenek itu telah menolong nyawanya dan mengobati lukanya.


Tanpa nenek itu mungkin sekarang dia sudah tidak ada di dunia ini.


Bila di perdebatkan bukankah dia juga menikmati pelecehan tersebut.


Berpikir sampai di sini,


"Plakkk,..!! Plakkk,..!! "


Fei Yang Langsung menampar wajahnya sendiri.


"Dasar bajingan memalukan,.."


gumam Fei Yang memaki dirinya sendiri.


Pilihan ketiga adalah menyusul rombongan orang tua nya, mengawal kedua orang tua nya kembali ke Xi Xia, mengamalkan pesan dari neneknya.

__ADS_1


Setelah mempertimbangkan nya dengan tenang, akhirnya Fei Yang memilih melesat kearah barat, mengejar rombongan kedua orang tuanya.


Balas budinya terhadap gurunya sudah beres, kini adalah memenuhi balas Budi terhadap orang tua nya.


Setidaknya berusaha melindungi Xi Xia dari incaran kedua negara besar seperti Song dan Liao.


Berpikir seperti itu, Fei Yang meningkatkan kecepatan terbangnya, sepasang kakinya mulai di selimuti kabut putih seperti sedang mengendarai awan.


Dengan ilmu ini Fei Yang bahkan jauh lebih cepat daripada naik Kim Tiaw.


Dari kejauhan, Fei Yang sudah melihat rombongan orang tua nya, sedang bergerak menuju kota Lan Zhou, kota perbatasan dengan kerajaan Song, sebelum menuju Yin Chuan ibu kota kerajaan Xi Xia..


Fei Yang melayang turun dengan ringan duduk tepat di sebelah kusir kereta yang membawa jasad neneknya.


Fei Yang memberi kode agar kusir kereta yang terkejut agar diam saja, dan terus melanjutkan perjalanan nya menuju kota Lan Zhou.


Mereka tidak mampir dan beristirahat di Lan Zhao, menimbang jasad nenek Halimah tidak bisa bertahan lama.


Harus secepat mungkin di makamkan.


Jadi mereka bergerak tanpa henti langsung menuju kota Yin Chuan.


Saat tiba di kota Yin Chuan mereka di kejutkan dengan suasana kota Yin Chuan, yang terlihat sepi, pintu gerbang kota di biarkan tertutup rapat.


Tidak terlihat ada rakyat, yang mengantri untuk keluar masuk kota.


Di atas benteng kota terlihat di jaga ketat oleh barisan pasukan panah?? kota Yin Chuan.


Fei Yang yang memperhatikan hal tersebut, diam diam bertanya dalam hati.


Apa yang sebenarnya sedang terjadi ? apakah Xi Xia kembali menghadapi keadaan darurat perang.


Atau Li Yung sedang berulah, mencoba mengambil alih kekuasaan selama ayahnya sedang keluar meninggalkan ibukota.


Dan kemungkinan itu bisa saja terjadi, itu termasuk hal yang lumrah terjadi.


Di saat ayahnya sedang tidak ada di istana, sedangkan dia memegang kekuasaan tertinggi di seluruh ibukota, karena wewenang militer ada di tangan nya.


"Apakah nenek salah perhitungan,.?"


gumam Fei Yang dalam hati.


"Kita lihat saja bila berani macam macam sekali ini tiada ampun bagi mu.."


batin Fei Yang mengambil keputusan.


Setelah tiba di depan gerbang, Li Dan yang berada di barisan paling depan bersama istrinya.


Memicingkan matanya, menghindari silau matahari, dia mengangkat telapak tangannya sedikit menutupi bagian atas alisnya.


"Hei siapa di atas sana !?,.."


"Cepat buka gerbangnya,..!!"


teriak Li Dan.

__ADS_1


__ADS_2