PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERTANDINGAN SAYEMBARA


__ADS_3

Nan Thian yang menyadari hal itu, dia semakin tidak nyaman dan mulai tidak betah.


Tapi saat melihat bibi dan paman begitu gembira menikmati berbagai macam jenis makanan, juga menonton keramaian pesta.


Nan Thian mau gak mau harus bersabar, pura pura tidak tahu.


Mencoba mengalihkan perhatian nya, kearah mimbar di mana pertandingan sedang berlangsung.


Peserta yang maju adalah seorang pemuda berwajah persegi dengan alis hitam tebal menaungi sepasang matanya yang tajam.


Dia sebenarnya cukup tampan, hanya karena kulit wajahnya yang agak coklat.


Membuat dia terlihat kurang menarik agak kusam.


Senjata yang dia gunakan adalah sebatang tombak sepanjang 2 meter.


Pria itu memutar mutar tombak mengelilingi seluruh tubuhnya, memainkan jurus tombaknya yang terlihat sangat menarik.


Pria itu mengawali pembukaan serangan dengan memainkan beberapa jurus tombak nya.


Sebelum melompat kedepan memberikan tusukan tombak sambil berteriak.


"Nona Chu, awas,..! lihat senjata...!"


Siau Yen bersikap dia menunggu hingga tombak itu mendekat, dua baru memiringkan badan, sambil melakukan gerakan menangkis dari samping.


"Trangggg..!"


Lalu pedangnya dengan gerakan cepat di sabitkan kearah lawan.nya.


Tapi pemuda itu juga tidak mau kalah, dia dengan cepat mengangkat badan tombaknya untuk menangkis sabetan dari Siau Yen.


"Trangggg...!"


Lalu pemuda berwajah coklat itu, kembali membalas dengan sabetan mata tombaknya, di sertai sodokan dengan ujung tombaknya.


"Singgg,..!"


"Wutttt,..!"


Siau Yen membungkukkan badannya menghindari sabetan tombak.


Sambil melakukan gerakan berputar indah, seperti penari walet, dengan bertumpu pada satu kakinya.


Sekaligus melakukan satu tusukan pedang balasan.


"Singggg,..!"


Gerakan indah yang memaksa si muka coklat, harus melompat mundur menjauh.


Langsung mengundang tepuk tangan meriah dari para penonton, terutama para kalangan muda.


Mereka semakin tertarik dan kagum dengan tarian pedang yang di mainkan oleh Siau Yen.


Indah tapi berbahaya, itulah yang bisa di gambarkan atas permainan pedang yang di mainkan oleh Siau Yen.


Nan Thian juga harus akui di dalam hati permainan pedang Siau Yen sangat indah dan memukau.

__ADS_1


Siau Yen seolah sadar Nan Thian sedang memperhatikan nya, sambil melirik kearah Nan Thian melemparkan senyum.


Siau Yen mempercepat tarian pedangnya mendesak lawannya yang terpaksa melangkah mundur kebelakang.


Sambil bergerak mundur,. pemuda berwajah coklat itu, mencoba menyabetkan tombak nya untuk menangkis.


Sekaligus ingin mengandalkan tenaganya, mementalkan dan mematahkan serangan bertubi tubi yang di lancarkan oleh Siau Yen kearahnya.


Tapi rencananya menemui kegagalan, tangkisan tombaknya menemui tempat kosong.


Karena dengan cerdik Siau Yen telah memutar pergelangan tangannya yang memegang pedang.


Justru gerakan menangkis pemuda berwajah coklat itu, membuat pertahanan di dadanya terbuka.


Pedang Siau Yen dengan gerakan sangat cepat, telah melakukan beberapa tikaman kearah dadanya.


Untuk itu pemuda berwajah coklat, kembali di paksa melompat mundur lagi kebelakang, bila tidak ingin dadanya berlubang.


Di tikam oleh mata pedang Siau Yen.


Tapi sial baginya saat melompat mundur, salah satu kakinya menginjak tempat kosong.


Dia kehilangan keseimbangan, saat dia berusaha mati matian.


Mencegah tubuhnya agar tidak terjatuh ke bawah arena.


Di saat itulah, Siau Yen tiba dengan sebuah tendangan kuat kearah wajahnya.


"Desss...!"


Dia terpaksa menggunakan tombak, yang tadinya di gunakan untuk menahan tubuhnya, tidak sampai terlempar keluar arena.


Untuk di gunakan menangkis serangan ujung sepatu Siau Yen.


'Dessss..!"


Tanpa ampun tubuh pemuda berwajah coklat terpental keluar dari arena.


Setelah tombaknya berhasil menahan tendangan Siau Yen yang terarah ke wajahnya.


Si pemuda terjatuh ke bawah mimbar dengan langkah kaki terhuyung-huyung kebelakang.


Siau Yen diatas mimbar langsung memberi hormat kearah pemuda berwajah coklat itu dan berkata dengan suaranya yang lembut.


"Terimakasih Kui Ta Ke ( kakak Kui ) sudah banyak mengalah pada Siau Mei ( adik perempuan kecil )."


Dengan wajah menghitam menahan malu, si pemuda wajah coklat mengangkat kedua tangannya keatas.


Membalas penghormatan Siau Yen,.setelah itu tanpa berkata kata lagi.


Dia langsung mengundurkan diri dengan kepala tertunduk menghilang di balik kerumunan.


Tepuk tangan meriah menyambut kemenangan Siau Yen langsung berkumandang memenuhi seluruh tempat acara sayembara.


Siau Yen sambil tersenyum manis di balik cadarnya, dia dengan bangga menyempatkan diri melemparkan kerlingan nya kearah Nan Thian.


Nan Thian pura pura mengambil poci arak di atas meja untuk mengisi cawan kosong di hadapannya.

__ADS_1


Lalu dia pura pura minum, untuk mengurangi rasa canggung dan groginya.


Judulnya adalah sayembara pertandingan cari jodoh, tapi kini lebih tepatnya.


Menjadi tempat Siau Yen menunjukkan kebolehannya menarik perhatian Nan Thian.


Tapi Nan Thian sudah ambil keputusan tegas, dia tidak mau lagi terlibat dalam pusaran asmara.


Saling tertarik karena penampilan fisik dan kemampuan semu, yang di miliki oleh masing-masing, Nan Thian sudah kapok, jera.


Dia lebih baik sendiri dari pada harus menanggung derita itu lagi.


Jadi Nan Thian sudah membentengi dirinya erat erat agar tidak kembali terjatuh ke lubang yang sama.


Saat ini di pikirannya cuma satu, mengembara dengan bebas, membasmi yang jahat, menolong yang lemah.


Di saat Nan Thian sedang menikmati arak dalam cawan yang di pegang nya.


Di atas mimbar kini muncul seorang pemuda berkepala botak, dengan 6 bekas titik di atas kepalanya.


Dia jelas seorang biksu, tapi masih maju mengikuti sayembara, ini jelas kelewatan.


Nan Thian yang melihat hal itu hampir tersedak arak yang di minumnya.


Tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak tertawa, untuk menghormati kakek Chu sebagai pemilik acara.


Siau Yen sambil mengerutkan sepasang alisnya yang indah, dia maju memberi hormat dan berkata,


"Maaf Suhu,..apa yang Suhu cari di tempat ini..?"


Pemuda berkepala botak itu sambil tersenyum lebar berkata,


"Tentu saja aku datang kemari untuk mencari istri, sesuai dengan peraturan yang berlaku.."


Memang aturan yang di buat tidak tertera larangan untuk pemuka agama ataupun orang suci apapun.


Di sana hanya tertera umur tidak melewati 40 sehat jasmani dan rohani, mampu mengalahkan penyelenggara sayembara.


Siau Yen menoleh kearah kakeknya meminta pendapat, dan dia mendapatkan anggukan kepala dari kakeknya.


Siau Yen pun kembali memberi hormat dan berkata,


"Maaf kalau boleh tahu, siapa nama Suhu yang terhormat.."


Sambil tersenyum lebar, pemuda itu berkata,


"Marga ku Fho, nama tengah ku Diao nama akhir ku Jiang."


"Bila di gabung jadi Fho Diao Jiang ( Buddha Lompat Pagar ).."


ucapan pemuda itu langsung mengundang gelak tawa para penonton di bawah sana.


Sedangkan di deretan bangku tamu kehormatan, terlihat wajah 3 biksu Shaolin yang ikut hadir di sana.


Wajah mereka langsung terlihat tidak sedap, salah satu di antara mereka bahkan terlihat hendak berdiri.


Tapi dia di tahan oleh rekannya yang memberinya kode agar kembali duduk.

__ADS_1


__ADS_2