PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PENASEHAT NEGARA JIN AISIN


__ADS_3

Xue Lian menggelengkan kepalanya sambil menggembungkan pipinya,


"Gak mau, aku belum makan,.."


Fei Yang menghela nafas panjang kemudian dia memilih kembali duduk di samping istrinya.


Berpura-pura seolah olah tidak pernah terjadi sesuatu.


Pengunjung di meja lainnya satu persatu mulai meninggal tempat itu.


Termasuk sebagian besar pengunjung di lantai dua dan satu, begitu mendengar ada yang terbunuh di lantai 3.


Mereka juga berhamburan meninggalkan restoran.


Kini yang tersisa di sana, hanya tinggal beberapa orang dunia persilatan, bernyali besar yang ingin menonton keramaian saja.


Pelayan yang mendapat bonus uang dari Fei Yang bersama pemilik restoran, buru buru naik kelantai tiga.


Mereka berdua menghampiri Fei Yang dan bos restoran pun berkata dengan wajah ketakutan.


"Tuan, . ku mohon cepatlah tinggalkan tempat ini, sebelum masalah jadi besar.."


"Ini uangnya ku kembalikan, semua gratis..tak perlu bayar.."


Fei Yang tersenyum tenang dan berkata,


"Jangan khawatir masalah di sini, kami yang tanggung jawab.."


"Kalian hanya perlu cepat antarkan pesanan kami kemari secepatnya.."


"Istri ku sudah kelaparan dan hampir tidak sabar lagi.."


ucap Fei Yang sambil melirik Xue Lian yang sedang menggembungkan pipinya.


Xue Lian terlihat sedang bosan menggunakan sumpit ditangannya memukuli cawan di meja.


"Bukan begitu tuan, ini masalah gawat, pemuda itu adalah pangeran ke 6 Wanyen Khan raja Jin saat ini.."


"Bila hal ini sampai terdengar oleh pihak pemerintah, hasil akhirnya sulit di bayangkan.."


"Jadi sekali lagi kami mohon Sudilah kiranya tuan berdua, segera tinggalkan restoran kami.."


ucap Bos pemilik restoran berusaha membujuk Fei Yang dan Xue Lian segera pergi dari restoran mereka.


Pemilik restoran berpikir, mau ribut mau mati, sebaiknya di luar sana, jauh jauh dari restoran nya.


Dia tidak ingin restorannya ikut terbawa bawa, sehingga mengalami kerusakan dan kerugian.


Xue Lian tiba-tiba menatap kearah kedua orang itu dan berkata,


"Kakak Yang aku lapar, dan jijik lihat mayat mayat itu.."


"Suruh mereka gak usah cerewet, cepat siapkan makanan dan singkirkan mayat mayat itu.."


Fei Yang menatap kedua orang itu dengan tak berdaya dan berkata,


"Kalian sudah dengarkan, cepatlah turuti, sebelum istri ku marah.."


"Maaf tuan kami tidak berani, sembarangan menyentuh mayat mayat itu, sebelum ada perintah dari petugas pemerintah.."

__ADS_1


ucap Bos pemilik restoran memelas


Xue Lian sambil tersenyum ringan berkata,


"Menyebalkan,..ya sudah aku bereskan sendiri saja..."


Setiap dia kibaskan tangannya, mayat itu langsung terbang keluar dari restoran lantai tiga, jatuh kearah jalan raya.


Dalam sekejab puluhan mayat jatuh malang melintang di jalan raya.


Suara teriakan kaget dan ketakutan terdengar jelas memenuhi jalan raya


"Nah sudah bersih, sekarang tinggal kalian pel bersih bersih noda noda darah itu.."


"Begitu aja ribet.."


ucap Xue Lian bersikap acuh.


Pemilik restoran dan pelayan itu, kini tidak berani berkata apa apa lagi.


Mereka berdua buru buru meninggalkan lantai tiga..pergi menyiapkan pesanan Xue Lian tanpa banyak bicara lagi.


Fei Yang yang sadar masalah sudah terlanjur jadi besar, karena ulah Xue Lian yang merasa kesal.


Dia pun memilih diam, takut dirinya yang terkena getahnya bila banyak bicara.


Untungnya sesaat kemudian semua pesanan Xue Lian mulai datang memenuhi meja di hadapannya.


Dengan wajah gembira tanpa beban, Xue Lian berkata,


"Ayo kakak Yang, mari kita cicipi masakan restoran ini dan makan sampai puas.."


Fei Yang hanya tersenyum melihat sikap istrinya.


"Pantas saja dulu Hoa San Lao Lao, di katagori kan sebagai aliran hitam."


"Pasti karena sikapnya inilah yang membuat orang persilatan menganggapnya berasal dari golongan hitam."


Fei Yang sambil tersenyum ikut makan dengan santai menemani Xue Lian makan.


"Gimana enak,..?"


tanya Fei Yang saat mereka selesai makan


"Lumayan,.. tapi masih lebih enak masakan suami ku. "


ucap Xue Lian sambil tertawa manja.


"Kalian berdua hebat, punya nyali, berani membunuh putra langit, di siang hari bolong.."


terdengar suara teguran dari seorang pria berkepala botak, yang mengenakan jubah beruang menutupi tubuhnya.


Dia melangkah ringan muncul dari arah tangga, sambil menatap tajam kearah Fei Yang dan Xue Lian.


Fei Yang tersenyum tenang dan berkata,


"Adalah dia yang menganggu kami, berani berbuat berani tanggung resiko.."


"Mau dia putra langit atau kaisar sekalipun, bila berani menganggu istri orang, dia layak menerima karma perbuatannya sendiri.."

__ADS_1


"Buat apa paman datang meributkannya..?"


ucap Fei Yang berbalik bertanya dengan sikap tenang.


Fei Yang dari awal juga tahu setelah keributan itu, apalagi pemuda itu adalah seorang pangeran.


Cepat lambat masalah besar ini akan datang menghampiri mereka.


Tadinya dia memilih menghindari masalah, karena tidak ingin perjalanan mereka tertunda.


Tapi keinginan tidak sesuai kenyataan, maka selain menghadapinya tidak ada cara lain.


"Ha,..ha,..ha,.. bagus semoga saja kemampuan mu sehebat mulut mu ."


"Hari ini aku Aisin akan menerima pengajaran mu.."


ucap Pria berkepala botak itu sambil tersenyum dingin.


Dengan menghentakkan kedua kakinya kelantai, tubuhnya langsung melayang kedepan.


Dia menggunakan sepasang tinjunya yang mengeluarkan cahaya putih terang, untuk menyerang kearah dada dan kepala Fei Yang.


Fei Yang dengan gerakan tenang, menyambut kedua tinju itu, dengan sepasang telapak tangannya.


"Blukkkkk,..!"


"Blukkkkk,..!"


Si botak merasa pukulan kerasnya, seolah tenggelam kedasar lautan, yang dalamnya tak berbatas.


Sebelum dia sempat menarik kembali sepasang tinjunya, telapak sepatu Fei Yang tiba-tiba sudah muncul di bawah dagunya.


Dengan gerakan cepat, si botak yang bukan lain adalah Aisin penasehat negara Jin, menarik kepalanya kebelakang menghindar.


Setelah tendangan Fei Yang lewat, Aisin bergerak maju menggunakan bahunya menyangga kaki Fei Yang yang sedang terangkat.


Sedangkan kaki kanannya menjegal di tumpuan kaki Fei Yang yang tinggal sebelah.


Dengan membuat gerakan mendorong dengan bahunya, Si botak berharap bisa merobohkan Fei Yang


Tapi dorongannya menemui tempat kosong, karena Fei Yang sudah membaca gerakan tersebut.


Fei Yang sudah terlebih dahulu terbang keudara, lalu menggunakan kakinya menjejak dada si kepala Botak.


Hingga si kepala Botak terpental mundur kembali kearah tangga.


Untung tangannya sempat meraih pinggiran tangga, bila tidak, dia pasti akan terjungkal memalukan jatuh dari lantai tiga.


Setelah menstabilkan posisinya, dia tersenyum dingin dan berkata,


"Rupanya kamu cukup berisi, pantas saja berani bikin gaduh di sini.."


Tiba-tiba dia menarik sebuah benda dari saku bajunya, benda tersebut langsung di todongkan kearah Fei Yang.


"Dorrrr,...!"


Terdengar bunyi suara letusan mengelegar, hingga seluruh restoran bergetar hebat


Fei Yang tersenyum santai di tempatnya, sambil mendorongkan telapak tangan kirinya kedepan.

__ADS_1


Si botak juga terlihat sedang tersenyum penuh percaya diri, dia terlihat yakin lawannya pasti mampus.


"Arggggghhh,.."


__ADS_2