PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
KERBAU MENGAMUK


__ADS_3

Tanpa terasa perjalanan Nan Thian sudah tiba di pelabuhan Zhong Lu di tepi sungai kuning.


Kota pelabuhan ini cukup ramai, baik penduduk maupun pendatang yang ingin menggunakan jasa pelabuhan ini untuk melakukan penyeberangan.


Melihat suasana ramai, kegembiraan dari teman teman seperjalanan nya


Nan Thian tidak tega, langsung buru buru membawa kereta nya menuju dermaga mencari kapal langsung berangkat.


Nan Thian memutuskan, membelokkan kereta kudanya, bergerak pelan mengelilingi kota pelabuhan kuno itu.


Karena kota pelabuhan ini sudah ada dari sebelum era dinasti Han berdiri, kota pelabuhan ini sudah ada.


Di kota pelabuhan ini banyak bangunan kuno, bahkan beberapa restoran di kota tersebut ada yang sudah berdiri sejak dinasti Tang hingga saat ini.


Setelah puas berputar putar, melihat suasana, Nan Thian pun berkata,


"Paman kecil tolong tanyakan ke mereka di dalam sana, apa mereka ingin turun mencari makan di sini..?"


"Atau mereka ingin makan di dalam kapal penyeberangan saja..?'


Sun er mengangguk kecil, dia lalu masuk kedalam kereta untuk berunding dan bertanya kepada tiga penguasa kereta di dalam sana.


Selama perjalanan, memang Sun er yang selalu menjadi penyambung lidah bagi Nan Thian.


Untuk berbicara dengan tiga penghuni kereta itu.


Nan Thian takut salah bicara menyinggung perasaan mereka, terutama Siau Yen dan Siu Lian yang menyukainya.


Terlalu tegas nanti mereka tersinggung, terlalu baik nanti salah tangkap.


Jadi akan membuat kecanggungan dan salah paham tak perlu.


Paling tepat dia menggunakan jasa Sun er, meminimalisir banyak kontak langsung dengan mereka berdua.


Berharap mereka berdua mengerti lalu mundur sendiri, itu adalah yang terbaik pikir Nan Thian.


Trauma yang di torehkan oleh Siau Semei nya, sudah membuat dia merasa hambar dengan kehidupan cinta dunia ini.


Terutama cinta antara pria dan wanita, Nan Thian sudah tidak mau melibatkan dirinya lagi.


Selagi Nan Thian termenung sambil mengendarai kereta nya dengan pelan.


Di tempat lain di jarak yang agak jauh, dari tempat mereka.


Terlihat ada seorang pria paruh baya menarik seekor kerbau jantan besar, berjalan melewati keramaian kota.


Tidak jauh dari nya terlihat sekelompok anak kecil sedang bermain petasan.


Mereka sambil tertawa nakal, melemparkan petasan mereka kearah jalan.


"Duarrrrrr,..!"


Duarrrrrr,..!"


Duarrrrrr,..!"


Dari jauh kerbau yang di gandeng oleh pria paruh baya itu sudah terlihat sedikit gelisah dan terganggu oleh ulah permainan anak anak itu.


Dia terus mendengus dengus gelisah.


Pria itu berusaha menenangkan binatang peliharaannya itu, sambil menepuk nepuk lehernya dan berbisik di dekat telinga hewan peliharaannya itu.

__ADS_1


"Heiii kalian jangan bermain itu lagi, berbahaya itu..!"


teriak pria itu menegur sekolompok anak kecil itu.


Anak anak kecil itu dengan wajah tidak puas, tapi tidak berani melawan orang dewasa.


Mereka segera menghentikan permainan mereka, lalu menyingkir dari tepi jalan, yang ajan di lewati oleh pria yang menegur mereka.


Tapi baru saja pria itu lewat sambil menggandeng hewan peliharaannya.


Tiba tiba salah satu dari anak anak itu, yang Aling jahil dan nakal.


Melemparkan segulung petasan yang sudah di bakar, kearah kerbau dan kakek itu, untuk melampiaskan rasa kesalnya di tegur tadi.


"Duarrrrrr,..!"


Duarrrrrr,..!"


Duarrrrrr,..!"


Suara ledakan petasan yang dahsyat memenuhi sekitar tempat itu.


Kerbau jantan besar, itu terlunjak kaget, lalu dia mulai lepas kendali.


Meronta kuat, tidak mau menurut pada perintah pria setengah tua itu.


Kerbau itu bergerak liar, kemudian dia mengamuk.


Pria paruh baya, yang berusaha mengendalikan tali kekang yang tersambung ke hidung kerbau itu.


Terlempar jatuh keatas tanah kemudian terseret beberapa meter.


"Awas kerbau mengamuk..!"


"Awas kerbau mengamuk..!"


teriak orang orang di sekitar sana panik.


"Awas,.!.lari...!"


Awas,.!.lari...!"


"Lari..!"


"Kerbau ngamuk..!"


"Lari ada kerbau ngamuk..!"


Terdengar suara hiruk pikuk orang orang di sekitar sana, berlarian berhamburan kesana kemari.


Para pedagang bahkan tidak sempat membereskan dagangan mereka.


Mereka sudah berlari menyelamatkan diri masing masing.


Keadaan semakin kacau saat kerbau besar itu menyeruduk kesana kemari menghancurkan apapun yang menghalangi nya di depan.


Banyak gerobak dagangan di pinggir jalan yang di tabrak nya hingga hancur berantakan.


Di saat kerbau itu sedang marah dan menggila itulah, dari arah lain kereta kuda yang di kendalikan oleh Nan Thian, bergerak melintas dari arah depan sana


Anjing hitam kecil yang nalurinya mencium ada bahaya, dia sudah melompat keluar dari gendongan Zi Zi.

__ADS_1


Keluar dari dalam kereta menggereng marah, siap berubah menjadi bentuk aslinya, menghabisi lawan di hadapannya.


"Siau Hei,.. tenanglah, percayakan pada ku.."


ucap Nan Thian sambil membelai lembut kepala anjing kecilnya.


Anjing kecil itu seperti mengerti kehendak Nan Thian, dia pun meringkuk di sana tidak menggereng lagi.


Duduk diam tenang di sana, hanya saja sepasang matanya terus menatap tajam, kearah kerbau yang sedang mengamuk itu, penuh ancaman.


Nan Thian menarik tali kekang kudanya, setelah kuda dan kereta nya berhenti.


Nan Thian menyerahkan tali kekang kudanya, kearah Sun er.


Lalu dia sendiri dengan ringan melayang melewati atas kepala kuda penarik kereta nya.


Nan Thian mendarat beberapa meter di depan kereta kudanya.


Dia dengan sikap tenang berdiri di sana, siap menyambut kedatangan kerbau jantan besar yang sedang mengamuk.


Kerbau jantan besar itu terlihat berlari dengan sekencang mungkin, ingin menyeruduk kearah Nan Thian, yang berdiri disana menghalangi jalannya.


Sepasang mata kerbau itu terlihat merah seperti darah, sambil menatap tajam Nan Thian dan mendengus marah.


Kerbau itu merundukkan kepalanya, mengunakan sepasang tanduknya, yang besar keras kuat dan tajam.


Untuk menanduk kearah Nan Thian.


Saat tanduk itu tiba, dengan tenang Nan Thian menangkap kedua ujung tanduk kerbau jantan itu.


Tanpa menghiraukan teriakan ngeri orang orang sekitar, yang meminta dirinya untuk minggir dari sana .


"Tap,..! Tap...!"


Tanduk itu tertahan oleh sepasang telapak tangan Nan Thian yang penuh dengan tenaga sakti Ih Jin Jing.


Dengan sekali sentak, sambil mengeluarkan teriakan keras.


"Hiahhh..!"


"Bukkkk..!"


Kerbau itu jatuh terbanting kesamping, hingga devil beterbangan di sekitar sana.


Kerbau itu belum menyerah, dia sambil mendengus marah, kembali bangkit berdiri.


Ingin memaksa menyeruduk Nan Thian yang sedang menahan tanduknya.


"Rebah...!"


Bentak Nan Thian sambil membanting kerbau tersebut ke sisi lainnya.


"Bukkkk..,!"


Sekali ini kerbau itu di banting dengan lebih kuat, hingga membuat kerbau itu merasa pusing.


Sesaat pandangan nya, sedikit berbayang tubuh Nan Thian yang sedang mencengkram tanduknya terlihat menjadi bayangan beberapa orang.


Kerbau itu sambil mendengus marah, menggoyang goyangkan kepalanya, mengusir rasa pusing nya.


Setelah rasa pusing nya hilang, dia baru kembali bangkit berdiri, dan kembali mencoba menyeruduk Nan Thian.

__ADS_1


__ADS_2