PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
CERITA KEDUA PUTRI


__ADS_3

"Aku tunggu di luar, ini salep luka obati luka kalian.."


"Ganti pakaian kalian dengan pakaian mereka, tapi jangan pakaian kakek banci itu.."


ucap Fei Yang sambil tersenyum.


Kedua gadis itu jadi ikut tersenyum mendengar ucapan bercanda Fei Yang.


Fei Yang menunggu di depan pintu besi penjara yang tertutup.


Tidak ada yang curiga, karena Fei Yang tadi datang sebagai pengawal pribadi Kasim Wei.


Sementara Fei Yang menanti di luar, kedua putri itu bukannya mengobati luka di tubuh mereka.


Mereka berdua dengan sadis mengukir tato di seluruh tubuh Kasim Wei dan keempat anak buahnya.


Hingga kelima orang itu pingsan tidak sadarkan diri, entah bagaimana Kasim Wei saat sadar nanti melihat wajahnya yang biasanya selalu dia rawat.


Kini penuh tato tulisan tahanan, setelah membalas dendam, kedua putri itu dengan santai baru keluar dari dalam ruangan dengan pakaian Kasim kecil yang agak sedikit kedodoran di tubuh mereka.


Melihat kedua gadis itu telah keluar, Fei Yang langsung mengunci pintu penjara dari luar.


Setelah itu dia baru berkata,


"Ayo kita tinggalkan tempat ini, aku akan langsung mengantar kalian pulang ke daerah hutan selatan.."


Kedua gadis itu mengangguk girang sambil mengikuti langkah Fei Yang dengan kepala tertunduk.


Fei Yang membawa mereka berdua keluar dari penjara istana belakang dengan sangat mudah tanpa ada yang curiga.


Fei Yang terus berjalan meninggalkan tempat itu menuju taman yang sepi.


"Pejamkan mata kalian jangan bersuara dan membuka mata kalian bila tidak ku suruh ."


ucap Fei Yang singkat.


Kedua putri itu pun menutup mata mereka sesuai instruksi Fei Yang.


Sesaat kemudian mereka merasa tubuh mereka terangkat keatas dan terus melayang layang diudara.


Angin kencang berseliweran menerpa wajah dan rambut mereka, topi Kasim mereka telah terlepas tertiup angin tidak tahu kemana arah.


Ada banyak pertanyaan di dalam pikiran mereka berdua, tapi mereka berdua tidak berani banyak bertanya.


Saat ini yang terpenting adalah segera tinggalkan tempat berbahaya yang menahan mereka setahun lebih.


Saat mereka merasa tubuh mereka mendarat di atas sesuatu yang berbulu empuk, suara Fei Yang pun kembali terdengar,


"Bukalah mata kalian, sekarang semua sudah aman.."


Begitu kedua gadis itu membuka sepasang mata mereka.

__ADS_1


Mereka sangat kaget saat menyadari sedang duduk di atas punggung rajawali raksasa berbulu emas, bersama seorang pemuda tampan luar biasa.


"Kakak siapa ? mana penolong kami sebelumnya ?"


tanya putri Bian heran.


Fei Yang tersenyum kearah kedua gadis itu sebelum menjawab.


Tapi Fei Yang tidak sadar senyumnya telah membuat hati kedua gadis itu langsung jungkir balik.


Kedua gadis itu langsung menundukkan kepalanya mencuri curi pandang kearah Fei Yang dengan wajah merah menahan malu.


"Aku dan orang yang menolong kalian satu orang yang sama, berhubung sebelumnya, aku pernah kesana, wajah ku banyak sudah di kenali orang.."


"Makanya aku terpaksa di rias agar tidak ada yang mengenali ku.."


ucap Fei Yang memberi penjelasan menjawab kebingungan putri Sheva dan Putri Bian.


Kedua gadis itu melemparkan senyum manis kearah Fei Yang dan berkata,


"Terimakasih tuan, tapi bagaimana tuan bisa mengenal adik kami Shinta Dewi.."


"Apa tuan kekasihnya ,?"


tanya Putri Sheva curiga.


Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Bukan aku bukan kekasih adik kalian, kami juga baru saling kenal di hutan selatan sana ."


Mendengar cerita Fei Yang kedua gadis itu saling pandang dan mereka sama-sama tersenyum gembira.


Ternyata Fei Yang bukanlah kekasih adik mereka, jadi mereka berdua masih punya harapan, pikir kedua gadis itu dalam hati.


Fei Yang yang tidak menyadari pikiran kedua gadis di hadapannya dua bersikap biasa saja.


Sambil menatap kedua gadis itu, Fei Yang bertanya,


"Sebenarnya apa yang terjadi, ? mengapa kalian di tahan,? hingga di siksa sedemikian rupa, oleh pihak kerajaan Song..?"


Mendengar pertanyaan Fei Yang kedua gadis itu langsung cemberut marah dan berkata,


"Semua gara gara kakek tidak tahu mampus itu.."


"Siapa kakek tidak tahu mampus itu ?"


tanya Fei Yang heran.


"Zhao Kuang Yi lah siapa lagi,..?"


ucap Sheva kesal.

__ADS_1


"Zhao Kuang Yi, apa yang dia inginkan dari kalian ?"


tanya Fei Yang hati hati, ingin tahu lebih jelas.


"Awalnya tua Bangka tidak tahu diri itu, menawari kami untuk menjadi selirnya.."


"Tapi karena kami menolaknya dengan keras, dia makah memberikan kami untuk di nikahkan ke putranya yang idiot itu.."


ucap Putri Bian menyambung cerita Sheva dengan wajah tidak kalah kesal.


Setelah itu Sheva menyambung ceritanya,


"Untungnya pangeran pertama yang tingkah lakunya, meski seperti anak kecil."


"Tapi terhadap kami berdua, dia masih bersikap cukup baik dan sopan, tidak menaruh niat buruk terhadap kami.."


"Kami berdua tinggal cukup lama di tempatnya, hingga suatu hari banci tua itu datang, lalu membawa kami berdua pergi secara paksa."


"Selanjutnya seperti yang tuan lihat dan ketahui."


ucap Sheva menutup ceritanya.


"Sebenarnya apa yang di inginkan oleh Kasim Wei dari kalian ?"


tanya Fei Yang sedikit penasaran.


Kedua gadis itu menghela nafas panjang dan berkata,


"Ini semua gara gara bocornya desas-desus bahwa kerajaan Champa dan Pagan menyimpan peta harta Karun kaisar Chin Shi huang, Ying Zheng."


Fei Yang menatap dengan penuh penasaran menunggu penjelasan dari kedua gadis itu.


"Tuan sudah berjasa menolong kami, jadi kami tidak akan menutupinya dari tuan.."


"Peta itu memang di simpan oleh ayah kami berdua, masing masing seorang separuh."


"Harta Karun itu adalah harta Karun rampasan kerajaan Chin setelah menahlukkan kerajaan Shu, Ba, dan Chu..."


"Berhubung jumlah harta itu terlalu besar buat di bawa bawa, maka harta itu di simpan di daerah ujung selatan."


"Dengan tujuan bila kerajaan Chin dalam kesulitan, harta itu bisa di gunakan untuk membangkitkan kerajaan Chin yang agung."


"Siapa sangka setelah Chin jatuh, Xiang Yu yang menguasai ibukota sangat marah, karena tidak menemukan kekasihnya yang di bawa kabur oleh Liu Bang.."


"Dalam sekejab mata, seluruh ibukota dan semua keturunan dan kerabat Chin Shi huang di bumi hangus olehnya.."


"Beruntung nya, leluhur kami yang saat itu mengabdi pada Xiang Yu, berhasil menyelamatkan potongan peta itu, sebelum terkena insiden bumi hangus masal kota Xien Yang.."


Setelah kekalahan beruntun yang di alami oleh Xiang Yu dari Liu Bang, leluhur kami kabur ke pedalaman selatan mencari harta Karun..'


"Tapi karena tidak berhasil menemukannya, mereka hanya bisa mewariskan potongan peta itu pada keturunan mereka secara turun temurun.."

__ADS_1


"Begitulah ceritanya tuan.."


ucap Putri Bian menutup ceritanya.


__ADS_2