
Begitu keluar dari dalam air Fei Yang baru melepaskan seluruh kekuatan apinya meledakkan mahluk yang masih membeku itu.
Es dan api yang di hentakkan secara bersamaan membuat mahluk itu hancur menjadi serpihan.
Lalu jatuh kembali kedalam kolam air terjun, yang langsung membuat air didalam kolam tersebut, berubah warna airnya menjadi merah darah.
Fei Yang menghela nafas lega, lalu terbang kembali dengan ringan mendarat di mulut gua.
Kini mumpung ada di tempat dengan cahaya cukup, Fei Yang mengeluarkan kedua kotak dan plakat, yang dia temukan di dalam gua untuk di teliti
Di dalam kedua kotak Fei Yang menemukan dua gulung peta yang setelah di sambung menunjuk ke sebuah lokasi tertentu yang diberi tanda silang.
Fei Yang memperkirakan ini kemungkinan adalah peta peninggalan leluhur raja Kyantha dan Vijaya.
Sedangkan kedua plakat berhuruf aneh itu, tentu adalah Pakat indentitas diri kedua nya, yang mati di mangsa mahluk penghisap darah itu.
Sedangkan tumpukan tulang lain tentu adalah tulang belulang pasukan yang datang dari negeri seberang lautan selatan.
Fei Yang menyimpan kembali semua barang yang dia temukan, lalu dia melesat kembali ke dalam gua, meneruskan penyelidikannya.
Fei Yang berpikir dalam hati, mungkinkah para monyet itu melewati jalan ini.
Rasanya mustahil, karena jalan ini di jaga oleh mahluk penghisap darah ini.
Monyet-monyet emas itu, bila memaksa lewat, pasti akan jadi mangsa mahluk ini.
Tapi bila tidak lewat sini,. terus mereka lewat mana ?
pikir Fei Yang bertanya tanya dalam hati.
Apa aku salah menempuh jalan,? pikir Fei Yang sambil melanjutkan langkahnya dengan ragu ragu.
Tapi bila tidak lewat sini, lalu mereka lewat mana ? aku harus cari kemana ?.
Aduh sungguh bikin pusing, gumam Fei Yang dalam hati.
Tapi Fei Yang tidak menghentikan langkahnya, dia terus bergerak maju memasuki, gua yang menjadi tempat tinggal mahluk penghisap darah tadi.
Memasuki bagian dalam gua, yang kini semakin bergerak menurun dan terus menurun.
Fei Yang akhirnya tiba di mulut gua, yang menghantarkannya kesebuah ruangan luas yang tertutup banyak jaring jaring laba-laba yang benangnya besar besar.
__ADS_1
di balik jaring laba-laba yang bertebaran terdapat sebuah lubang gelap lainnya.
Hanya di situ satu satunya jalan, selain gua gelap itu, sekelilingnya adalah dinding batu padat tanpa celah.
Fei Yang berdiri diam di mulut gua, sambil terus mengawasi mulut gua gelap di hadapannya yang terhalangi jaring laba-laba.
Dari dalam gua gelap itu perlahan-lahan mulai terdengar pergerakan pelan, hingga terlihat dua titik merah seperti bola lampu kecil, yang semakin lama semakin besar menyorot keluar dari dalam gua.
Perlahan-lahan dari dalam gua itu merangkak keluar seekor laba-laba hitam.
Fei Yang dari awal juga sudah di balik gua itu pasti adalah seekor laba laba.
Hanya saja yang tidak dia sangka adalah laba laba tersebut sebesar itu.
Saking besarnya perbandingan diantara mereka, Fei Yang bahkan tidak lebih besar dari biji bola mata mahluk itu.
Fei Yang menghela nafas dan berkata, dengan kesal.
"Shanti Dewi sekali ini kamu benar-benar berhasil mengerjai ku habis habisan."
Fei Yang langsung melepaskan Tebasan merah ke segala arah dengan pedang api nya.
Dalam sekejap mata jaring jaring itu langsung terjilat api dan habis terbakar dalam sekejab.
Laba laba itu tentu sangat marah, karena hasil karya susah payahnya, di bakar hingga habis oleh Fei Yang.
Laba laba itu terus mengeluarkan suara jerit nyaring, dengan penuh kemarahan.
Tapi api yang di ciptakan oleh Fei Yang, menghalangi langkahnya, untuk mengejar kearah Fei Yang.
Laba laba hitam raksasa itu, akhirnya hanya bisa menonton semua jaring ciptaannya, hangus di lalap api.
Laba laba itu terus menatap kearah Fei Yang dengan penuh kebencian.
Begitu api mulai padam laba laba raksasa itu mulai menggerakkan 10 kakinya, berlari cepat dan menyemburkan jaring kearah Fei Yang.
Fei Yang bergerak berterbangan, sambil terus menghindari serangan jaring laba laba tersebut.
Beberapa waktu kemudian Fei Yang mulai membalas melepaskan tebasan sinar merah kearah laba laba tersebut.
Laba laba tersebut tidak menghindar, dia terlihat tidak takut sama sekali dengan tebasan pedang api Fei Yang yang hanya menimbulkan goresan tipis di kulitnya yang berbulu tajam dan tebal.
__ADS_1
Laba laba itu makah membalas serangan Fei Yang dengan semburan racun yang berbau wangi dan memabukkan.
Selain itu kesepuluh kakinya yang ujungnya lancip dan bergerigi seperti gergaji berujung lancip.
Terus mengejar dan berusaha menusuk Fei Yang.
Fei Yang yang sempat menyedot sedikit bau wangi itu, kepalanya menjadi pusing, matanya berkunang kunang, pandangannya menjadi kabur hingga sang laba laba terlihat seperti ada empat ekor.
Gerakan Fei Yang melambat dan terlihat kacau.
Karena terlambat menghindar Fei Yang terkena tembakan jaring di kedua tangan nya, lalu menyusul kedua kakinya.
Hingga akhirnya tubuh Fei Yang melekat di dinding batu, tidak bisa bergerak.
Melihat hal tersebut dengan ganas si laba-laba mendahului dengan semburan bisanya, baru menyusul dengan tusukan kakinya kearah titik titik berbahaya di tubuh Fei Yang.
Rasa pusing di kepala Fei Yang hilang, kesadarannya pulih, akibat bau yang keluar dari kantong wewangian hadiah dari Xue Lian.
Begitu kesadarannya pulih, Fei Yang tentu tidak mau mandah menerima serangan tersebut.
Dengan mengerahkan tenaga energi api nya, jaring jaring yang membelenggu kaki tangan nya seketika putus habis terbakar.
Begitu terbebas, Fei Yang, saat serangan dari bisa dan kaki laba laba itu tiba.
Fei Yang sudah menghilang dari posisinya, muncul di bagian bawah perut laba laba raksasa' tersebut.
Sambil meluncur cepat dan kuat, Fei Yang menggunakan sepasang pedang api dan es membelah bagian bawah tubuh laba laba raksasa itu.
Di mulai dari bawah mulut hingga berakhir di bagian paling ujung dari lubang pembuangan nya.
Laba laba itu tidak pernah menduga Fei Yang akan melukai nya dengan cara seperti itu.
Di saat Fei Yang sedang dalam situasi terjepit. inilah salah satu taktik militer yang Fei Yang gabung dengan ilmu silatnya di saat-saat kritis.
Taktik Bangkit Dari Kematian..
Memanfaatkan situasi laba laba itu sedang terluka parah, Fei Yang langsung memotong kesepuluh kaki laba laba itu dengan gerakan secepat kilat.
Di akhiri dengan sebuah guntingan di bagian kepala laba laba itu dengan pedang api dan es.
Laba laba raksasa itu pun ambruk tak bergerak lagi di atas tanah, dalam kondisi tanpa kaki dan kepala, dengan bagian bawah perut terbelah terluka parah.
__ADS_1