PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
RAUNGAN DARI DASAR JURANG


__ADS_3

Nan Thian menatap kearah seberang jurang yang tertutup Halimun.


Sesaat kemudian dia berkata kepada Siau Hei,


"Siau Hei apa selain lewat jalan ini tidak ada jalan lain..?"


Siau Hei menyalak kecil dalam pondongan Nan Thian, seolah olah membenarkannya.


Nan Thian berpikir beberapa saat, lalu dia menurunkan Siau Hei dan berkata,


"Ayo kita buat tali yang panjang agar bisa menyeberang ke seberang sana."


ucap Nan Thian ke rekannya yang lain.


Sum er Siau Yen dan Siu Lian mengangguk, mereka segera membantu mengumpulkan tali akar rotan, bahkan Zi Zi pun ikut membantu.


Mereka mulai mengumpulkan tali dari akar rotan. yang cukup banyak di sekitar sana.


Nan Thian memilin kemudian menyambung tali tali akar rotan tersebut menjadi sebuah gulungan tali yang sangat panjang.


Ujung tali dia ikatkan ke salah satu pohon besar yang tumbuh tidak jauh dari bibir jurang.


Sedangkan ujung tali lainnya, Nan Thian ikat dengan potongan dahan kayu yang cukup besar dan berat.


Nan Thian kemudian memutar mutar tali yang membawa potongan kayu itu di atas kepalanya.


"Wunggg...!"


"Wunggg...!"


"Wunggg...!"


"Serrrrrrr...!"


Tali dan potongan kayu di lempar keseberang sana hingga seluruh tali habis terulur keseberang sana.


Setelah itu Nan Thian baru mulai menarik narik tali tersebut.


Hingga tali tersebut menegang, karena ujung seberang sana tertahan oleh sesuatu.


Nan Thian menarik narik tali di tangannya, untuk memastikan kekuatan tali tersebut.


Setelah merasa cukup, dia kemudian melilitkan sisa tali di seberang sini ke sebuah Tunggul patahan pohon di dekatnya.


"Aku akan memeriksa keseberang sana dulu, bila keadaan aman.."


"Aku baru akan membawa kalian semuanya, satu persatu terbang keseberang sana.."


ucap Nan Thian sambil menatap rekan rekan nya.


"Berhati hatilah kakak.."


ucap mereka semua kompak.

__ADS_1


Bahkan Zi Zi berlari maju untuk memeluk Nan Thian dan berbisik,


"Kakak tampan harus kembali, aku akan selalu menunggu kakak tampan disini.."


Nan Thian membalas memeluk dan membelai kepala Zi Zi dengan lembut.


"Tenanglah, kakak pasti akan kembali, kakak sudah berjanji akan mengantar mu kembali kerumah orang tua mu.."


"Kakak tidak akan pernah mengingkarinya.."


ucap Nan Thian lembut sambil membelai dan menciumi kepala Zi Zi dengan penuh kasih sayang.


Sesaat kemudian Nan Thian mulai beterbangan ringan, menyusuri jembatan tali akar rotan tersebut.


Dia beterbangan seperti seekor capung, yang hinggap dari ujung daun bunga yang satu, ke ujung daun bunga yang lain.


Sesaat kemudian bayangan tubuh Nan Thian sudah menghilang dari pandangan teman temannya, yang berada di bibir jurang seberang sini.


Jurang itu sangat lebar, angin yang bertiup juga sangat kencang, sehingga jembatan tali penghubung, terus terlihat bergoyang-goyang di tiup angin.


Untungnya ilmu ringan tubuh Nan Thian sudah cukup mapan, dengan tanpa kesulitan dia sudah mendekati sisi jurang di seberang sana.


Tapi saat dia bisa melihat keadaan di seberang sana, Nan Thian baru menyadari nya.


Ternyata potongan kayu yang di lemparnya tadi, bukan tiba di seberang jurang.


Melainkan tersangkut di dahan pohon yang tumbuh dari bibir tebing, yang tumbuh menjorok keluar dari pinggir tebing.


Nan Thian menghela nafas kecewa, tapi tanpa putus asa, dia menatap kearah puncak tebing terjal yang tegak lurus naik keatas tertutup halimun.


Bergelantungan di bibir tebing, kemudian kembali melanjutkan pergerakannya merayap naik keatas.


Butuh beberapa jam, sebelum akhirnya, dia berhasil tiba di bibir jurang di seberang sana.


Nan Thian menatap kearah hutan lebat, yang terhampar di hadapannya.


Meski ada rasa penasaran untuk menjelajahi hutan di hadapannya itu.


Tapi Nan Thian sadar sepenuhnya, rekan rekannya masih menunggunya.


Jadi dia harus menahan diri atas rasa penasarannya itu.


Nan Thian memilih mengumpulkan kayu kayu kering di sekitar sana, membuat sebuah api unggun besar sebagai penanda.


Setelah itu dia baru meninggalkan tempat itu, dia kembali harus menuruni tebing menuju tempat dia pertama kali naik keatas.


Ini akan lebih sulit dari sebelumnya, karena dia harus menemukan di mana letak pohon yang menjorok keluar dari dinding tebing.


Di mana jembatan tali akar rotan nya terikat di sana.


Untuk memudahkan dia naik dan turun menemukan lokasi sebelumnya.


Nan Thian selalu membuat tanda di dinding tebing, sekaligus dengan ilmu cakar penghancur karang.

__ADS_1


Nan Thian membuat lekukan lekukan buat kaki dan tangannya, sebagai tempat berpijak dan memegang dinding tebing yang terjal.


Untuk turun jauh lebih sulit, setelah menghabiskan waktu hingga hampir setengah harian.


Menjelang sore, Nan Thian baru bisa menemukan pohon yang di carinya.


Saat Nan Thian berhasil kembali berkumpul dengan teman temannya yang lain.


Karena mereka berada di daerah pegunungan, hari menjadi lebih cepat gelap, Matahari pun terlihat sudah mulai terbenam.


"Bagaimana kakak Nan..? apa ada jalan di seberang sana..?"


tanya Siau Yen penasaran..


Nan Thian tersenyum dan berkata,


"Jalan sih ada, hanya saja agak tidak mudah.."


"Maksud kak Nan, ?"


tanya Siu Lian sambil menatap Nan Thian menunggu penjelasan.


"Nanti aku akan jelaskan, sekarang lebih baik kita kumpulkan kayu kering untuk buat api unggun, sebelum hari menjadi gelap total."


"Kita tidak mungkin bisa melanjutkan perjalanan kita hari ini.."


"Lebih baik kita bermalam di sini, besok.pagi pagi kita baru melanjutkan perjalanan kita."


"Yen er Lian Er tolong siapkan makan malam nya.."


"Paman dan bibi kecil ikut dengan ku, bantu aku kumpulkan kayu dan ranting kering untuk api unggun.."


"Siau Hei kamu pergilah mencari makan malam mu sendiri."


ucap Nan Thian membagi bagi tugas.


Siau Yen dan Siu Lian mengangguk kecil, lalu mereka mulai menyiapkan ransum kering untuk makan malam mereka bersama.


Sedangkan Sun er dan Zi Zi, langsung membantu Nan Thian mengumpulkan dan menumpuk kayu kering di tempat yang di tentukan oleh Nan Thian.


Siau Hei sudah menghilang masuk kembali kedalam hutan mencari mangsa buruan, untuk melatih insting berburunya.


Begitu api unggun menyala mereka pun duduk mengelilingi api unggun.


Sambil makan ransum kering yang sudah di persiapkan oleh Siau Yen dan Siu Lian.


Sambil makan Nan Thian pun, mulai menceritakan pengalamannya tadi siang, saat dia mencoba mencari jalan di seberang tebing sana.


Keesokan paginya, Nan Thian sudah mengikat Sun Er dan Zi Zi dalam gendongannya.


Sun Er berada di belakang punggung Nan Thian, sedangkan Zi Zi terikat di bagian depan tubuh Nan Thian.


Nan Thian sambil menggendong kedua bocah itu, dia sudah kembali bergerak menyusuri jembatan tali akar rotan.

__ADS_1


Saat Nan Thian berada di tengah tengah jembatan tali,.dari dasar jurang gelap mulai terdengar suara raungan.


"Rooaaarrrrrrr..!"


__ADS_2