
"Sebaiknya kakak pulang agar kak Lan Yi tidak khawatir dan menunggu nunggu kakak.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum.
"Urusan sembahyang dan doa bisa kita lakukan besok pagi.."
"Mengenai Agoda dan tawanan perang masukkan saja dulu ke penjara sebagian, sebagian lagi tahan saja di kamp militer."
"Besok selesai upacara sembahyang dan doa pemakaman nenek dan paman baru kita putuskan nasib mereka."
ucap Fei Yang sambil menepuk bahu Li Dan dengan lembut.
Li Dan mengangguk, lalu dia memberi hormat kearah Fei Yang dan berkata,
"Baiklah adik Yang, kalau begitu kakak undur diri dulu."
Fei Yang tersenyum dan mengangguk.
Setelah Li Dan pergi, Fei Yang melongok kebawah, di lihatnya Sian Sian masih berdiri di tembok benteng menunggu di sana.
Fei Yang melepaskan jubah luarnya, lalu melayang turun ke sisi Sian Sian.
Fei Yang menggunakan jubah luarnya menyelimuti Sian Sian dan berkata,
"Cuaca di sini dingin, mari kakak antar kembali ke rumah.."
Setelah berkata, Fei Yang Langsung melangkah meninggalkan tempat tersebut.
Sian Sian dengan hati riang dan terus tersenyum gembira, dia memegangi dan mengeratkan jubah Fei Yang, seolah olah takut di rampas oleh angin dari nya.
Dia buru-buru menyusul Fei Yang, berjalan berdampingan dengan Fei Yang, Sian Sian menggunakan jari kelingkingnya di kaitkan ke jari kelingking Fei Yang.
Fei Yang otomatis menoleh kearah Sian Sian dan melirik kearah jari kelingking mereka yang bertaut.
Sian Sian pura pura tidak tahu, dia hanya terus menatap kearah depan sambil tersenyum senyum.
Fei Yang hanya bisa menghela nafas panjang, dia tidak bisa berkata apa-apa.
Mereka berdua melangkah dalam diam tanpa berkata kata, menikmati keheningan malam.
Karena baru saja terjadi darurat militer, penduduk kota tersebut lebih memilih bersembunyi di dalam rumah masing-masing.
Sehingga jalanan terlihat sepi hanya ada rombongan pasukan patroli saja yang hilir mudik menjaga keamanan.
Setiap berpapasan dengan Fei Yang mereka selalu memberi hormat secara militer ke Fei Yang.
__ADS_1
Fei Yang hanya mengangguk kecil menanggapi mereka.
Setengah jalan, Sian Sian kembali berulah, kini bukan lagi kelingking, tapi seluruh telapak tangan Fei Yang di genggamnya dengan lembut.
"Sian Sian,.."
tegur Fei Yang sambil menghentikan langkahnya.
Tapi gadis itu pura pura tidak dengar dan tidak perduli, dia hanya tersenyum simpul, dan terus menarik tangan Fei Yang mengikuti langkahnya.
Fei Yang terpaksa kembali melangkah mengikuti arah tarikan tangan Sian Sian.
Melihat kegembiraan gadis itu, Fei Yang tidak sampai hati merusaknya, akhirnya dengan setengah terpaksa dia menuruti apa mau gadis keras kepala itu.
Tiba di depan kediaman perdana menteri Li, Fei Yang pun melepaskan pegangan tangan Sian Sian dan berkata,
"Sudah sampai, masuklah jangan bikin kakek mu khawatir.."
Sian Sian tersenyum manis dan berkata,
"Terimakasih kakak Yang."
Fei Yang mengangguk dan memberi kode agar gadis itu segera masuk.
Sian Sian mengangguk kecil menanggapi Fei Yang, dia lalu membalikkan badannya berjalan menaiki undakan tangga menuju pintu gerbang kediamannya.
Fei Yang yang sudah membalikkan badannya hendak melangkah pergi, terpaksa menahan langkah kakinya.
Dia menoleh kebelakang, tepat saat dia menoleh, sebuah bibir lembut telah menempel di bibirnya.
Sepasang tangan berkulit putih dan halus melingkar di belakang leher Fei Yang, dengan sedikit berjinjit dengan mata terpejam, Sian Sian terlihat sangat menikmati ciuman lembut tersebut.
Fei Yang tentu saja sangat kaget dan terkejut, tapi selain sepasang matanya terbelalak kaget, dia tidak tahu harus menerimanya dengan senang hati dan bahagia atau menolaknya.
Tiba-tiba bayangan dirinya sedang melakukan hal ini dengan nenek itu muncul di otaknya.
Seketika Fei Yang meronta dan mendorong Sian Sian mundur menjauhinya.
Sambil memegangi kepalanya sendiri, dan mengeluarkan suara tertawa sedih, dia langsung berlari meninggalkan tempat tersebut.
Fei Yang Terlihat seperti orang kurang waras.
Lewat pesan suara, Fei Yang berkata kepada Sian Sian.
"Maafkan aku adik Sian,..!"
__ADS_1
Sian Sian hanya bisa menghela nafas sedih dan menatap kepergian Fei Yang dengan tatapan mata kecewa.
Dia merasa kasihan, tapi sekaligus merasa tidak berdaya dan tidak tahu harus bagaimana bersikap agar bisa menghibur Fei Yang.
Sian Sian mengira Fei Yang menolak dirinya, karena Fei Yang masih belum bisa melupakan putri Song itu.
Dia tidak akan pernah menyangka, sikap Fei Yang itu justru bukan karena Wen Wen.
Sikap itu justru karena hal memalukan yang terjadi antara dirinya dan Nenek Hua San.
Perbuatan nenek gila itu, telah menggoreskan trauma di pikiran Fei Yang, membuatnya tidak bisa dan merasa muak saat berciuman.
Fei Yang sendiri setelah kembali kedalam kamar nya, bolak balik di atas kasur seperti cacing kepanasan, sulit tidur.
Setiap matanya terpejam, bayangan kejadian itu akan muncul menari nari di depan mata nya.
Fei Yang akhirnya memilih duduk bersila , menggunakan rapalan Qian Kun Im Yang Sen Kung, untuk menenangkan pikiran nya yang kacau menjadi lebih tenang.
Fei Yang mencoba mengalihkan perhatian nya dari hal itu, dengan mengingat dan membayangkan setiap detil pengalaman bertarungnya selama ini.
Tanpa Fei Yang sadari tubuhnya bergerak gerak sendiri, untungnya kamarnya sangat luas, sehingga dia bisa bergerak bebas tanpa khawatir merusak perabot di dalam kamar.
Ilmu tehnik pengenalan dasar ilmu silat terus berkembang mengikuti pengalaman tarung tingkat tinggi Fei Yang.
Setelah bergerak kesana kemari, Fei Yang akhirnya menghentikan pergerakannya, dia kembali duduk diam bermeditasi.
Hingga dari dahi Fei Yang muncul seberkas cahaya putih berkilauan yang semakin lama semakin terang.
Terbuka semua satu persatu kelemahan dari setiap ilmu silat yang pernah menjadi lawannya.
Semuanya tergambar jelas di depan mata Fei Yang, bahkan lanjutan dari setiap jurus, yang belum sempat mereka keluarkan.
Kini semua telah terbaca dan tergambar dengan jelas dan sudah berhasil Fei Yang pecahkan satu persatu.
Fei Yang sangat kaget dengan kemampuan barunya, apakah ini yang di maksud dalam kitab tanpa tanding pencapaian tingkat tertinggi dari tehnik pengenalan ilmu silat lawan.
Apakah aku sudah menembus 100% sekarang, Fei Yang bertanya tanya dalam hati merasa kurang yakin.
Sambil tertawa gembira Fei Yang membuka kembali matanya dan berkata,
"Kalau ada waktu, aku harus pergi mengunjungi senior Tan Sim Houw si golok maut, juga mengunjungi kakek Wu di pulau pelangi.."
"Aku ingin membuktikan apakah yang tergambar dalam pikiran ku adalah kenyataan atau khayalan.."
ucap Fei Yang berbicara seorang diri.
__ADS_1
Mendengar suara kicau burung di luar sana, Fei Yang pun sadar, tanpa terasa hari sudah pagi.
Fei Yang langsung pergi ke kamar mandi yang letaknya tidak jauh dari kamarnya.