
Beberapa saat kemudian Xue Lian perlahan-lahan melepaskan pelukannya, dia juga mundur dari ciuman mesra suaminya.
Saat Fei Yang masih merasa belum puas ingin maju melanjutkan ciumannya.
Bibir nya di tahan oleh sepasang jari Xue Lian yang halus dan lembut.
Xue Lian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Cukup sayang, pelayan sedang kemari mengantar pesanan sarapan."
"Kamu cepat sarapan, setelah itu kita masih harus lanjutkan perjalanan.."
ucap Xue Lian mengingatkan.
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Baiklah, itu sarapan nya sudah datang.."
Xue Lian yang lebih bisa mengendalikan diri, sudah mendengar langkah kaki beberapa orang sedang berjalan mendekati kearah mereka.
Jadi dia buru-buru mengingatkan Fei Yang, karena merasa malu harus begituan dilihat orang lain.
Fei Yang juga mendengarnya, tapi dia tidak terlalu ambil perduli, karena dia merasa kedatangan orang itu tidak membawa hawa ancaman buat dirinya.
Benar saja habis ucapan Fei Yang beberapa pelayan sudah datang membawa masakan pesanan Xue Lian.
"Kakak Yang pergi mandi bersihkan diri dulu, setelah itu kita sarapan sama sama.."
ucap Xue Lian sambil memutar tubuh suaminya, dan mendorong nya masuk kedalam kamar.
Fei Yang mandah saja di dorong istrinya hingga kedepan pintu menuju kamar mandi.
Sebelum masuk Fei Yang berkata dengan manja,
"Mandiin.."
Sambil tertawa Xue Lian berkata,
"Udah sana jangan aneh aneh, aku sudah mandi.."
"Kamu mandi sendiri saja, biar cepat.."
Dengan bersungut-sungut kecewa, Fei Yang masuk kedalam kamar mandi seorang diri.
Tidak lama kemudian mereka berdua sudah asyik sarapan bersama sambil membahas tentang lawan Fei Yang semalam.
"Jadi menurut mu dia menjadi iblis penghisap darah, karena bertujuan menghidupkan kembali Istrinya..?"
tanya Xue Lian sambil menatap Fei Yang.
Fei Yang sambil makan mengangguk, sesaat kemudian baru berkata,
"Kemungkinan besar adalah itu.."
"Karena menurut cerita yang ku dengar dan ku baca dari buku sejarah.."
__ADS_1
"Xiang Yu adalah seorang Jendral sekaligus penguasa yang gagah perkasa, dia tidak percaya takdir."
"Dia hanya percaya dengan kerja keras dan perjuangan, makanya meski banyak mitos yang mengatakan Yu Ji istrinya adalah wanita pembawa sial dia tidak percaya itu.."
"Dia juga tidak percaya pedang warisan keluarga Yu Ji, adalah pedang yang akan membunuh tuannya sendiri.'
"Dia tetap menerima pedang itu sebagai mahar pernikahan dari istrinya."
"Dengan membawa pedang itu dia berjuang menjadi penguasa dunia.."
ucap Fei Yang bercerita sambil makan..
"Lalu apa yang terjadi pada akhirnya ?"
tanya Xue Lian penasaran, karena dia mulai kagum dengan karakter Xiang Yu, yang gagah dan setia.
"Pada akhirnya dia di kalahkan dan di khianati oleh saudara angkatnya sendiri Liu Bang.."
"Di bawah kepungan pasukan Liu Bang, di saat kritis dia menolak peluang terakhir, untuk meloloskan diri sendirian, menggunakan perahu penyeberangan."
"Dengan alasan dia tidak punya muka, untuk kembali ke kampung halamannya, setelah semua saudara yang mengikutinya mati tanpa sisa.."
"Dan alasan lainnya adalah setelah kehilangan istri tercintanya, dia sudah tidak memilki keinginan untuk hidup, bertahan seorang diri di dunia ini.."
"Dia juga menolak tawaran menyerah dari Liu Bang, dia lebih memilih bunuh diri di tepi sungai Wu Ciang, dengan pedang mahar dari istrinya.'
"Tapi sampai matipun dia tidak mau mengakui takdir, dan percaya bahwa kematian nya, karena kutukan yang di bawa istrinya buat dia.."
"Dia lebih memilih menyadari beberapa langkah kesalahan dan kelalaiannya dalam memimpin, sehingga bisa kalah tragis dari Liu Bang.."
"Apa Liu Bang itu sebegitu hebatnya ?"
tanya Xue Lian sambil menatap Fei Yang.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Liu Bang kelebihannya adalah munafik, tidak setia, licik, pengecut, genit, semua hal buruk ada pada diri nya."
"Tapi ada beberapa sisi baik, yang dia miliki yaitu dia penyabar, bisa menerima masukan bawahannya, punya jiwa pemimpin yang baik, dan yang paling penting."
"Dia pandai mengambil hati rakyatnya, pandai menyimpan keinginan ambisinya di hadapan semua orang dan memiliki keberuntungan besar."
ucap Fei Yang sambil tersenyum menatap istrinya.
"Heran ya ini dunia kenapa banyak orang seperti itu malah jadi penguasa..?"
ucap Xue Lian kurang puas.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Karena Liu Bang memiliki apa yang tidak di miliki oleh Xiang Yu."
"Apa itu..?"
tanya Xue Lian sambil menatap Fei Yang.
__ADS_1
"Xiang Yu memiliki rasa setia kawan yang tinggi, mudah kasihan terhadap orang dekatnya, jujur apa adanya, tidak bersedia menggunakan akal muslihat licik.."
"Semua itu justru di miliki oleh Liu Bang.."
"Loh kok bisa, bukannya itu sifat sifat yang bagus..?"
tanya Xue Lian polos.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Dalam berpolitik dan memperebutkan kekuasaan, itu adalah kelemahan, bisa menimbulkan kerugian pada diri sendiri.."
"Contohnya Xiang Yu, karena dia merasa kasihan dan teringat dengan rasa setia kawan, mereka pernah menjadi teman baik, saling mengangkat saudara."
"Meski dia berulang kali berselisih dan mengalahkan Liu Bang pada akhirnya dia selalu melepaskannya.."
"Berbeda dengan Xiang Yu, begitu Xiang Yu kalah Liu Bang tidak memberinya ampun.."
"Contohnya lagi karena sifat jujur dan tidak suka menggunakan tipu muslihat, Xiang Yu banyak menyinggung, bawahan pendukungnya, bahkan atasannya sendiri.."
"Di sini dia menciptakan musuh yang sangat banyak dan tidak pernah ada habisnya bagi dirinya sendiri.'
"Juga memberi peluang bagi Liu Bang untuk bekerja sama dengan musuhnya, mengeroyoknya beramai ramai."
Xue Lian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Sungguh politik yang memusingkan, pantas kakak Yang lebih memilih jadi orang biasa ketimbang jadi raja.."
Fei Yang hanya tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
Sesaat kemudian Xue Lian kembali bertanya,
"Kakak Yang,.. lalu bagaimana dengan nasib Yu Ji istrinya itu.."
tanya Xue Lian penasaran.
"Yu Ji dia sudah bunuh diri duluan, saat Xiang Yu dan sisa pasukan nya, sedang terkepung dan terdesak oleh pasukan Liu Bang.."
"Dia tidak mau dirinya menjadi beban suaminya, dia juga tidak ingin dirinya di kotori oleh Liu Bang yang bejad, bila dia sampai tertangkap hidup hidup oleh pasukan Liu Bang."
"Jadi di saat saat akhir hidupnya, dia memberikan sebuah tarian pedang terakhir, untuk menghibur suaminya."
"Di penghujung tariannya, dia langsung menggunakan pedang mahar pernikahan nya, untuk bunuh diri tepat di hadapan suaminya.."
ucap Fei Yang sedikit sedih dan sedikit terbawa perasaan saat menceritakan bagian tersebut.
Xue Lian yang mendengar hal itu tanpa terasa juga ikut meneteskan air matanya.
Fei Yang tersenyum pahit dan berkata,
"Sudahlah, tak perlu terlalu di pikirkan memang begitulah kehidupan.."
"Setidaknya mereka pernah bahagia, pernah hidup bersama di cintai dan mencintai, kurasa itu juga sudah cukup.."
"Meski mereka harus mati muda, setidaknya cerita cinta dan kesetiaan mereka, akan di kenang sepanjang masa oleh seluruh dunia."
__ADS_1