
"Kalau begitu kakek tak perlu sungkan, minum aja tapi jangan sampai mabok.."
"Kasihan Hua er, kalau kakek mabok.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum.
"Ayo kita bersulang kek,."
ucap Fei Yang sambil mengulurkan botolnya kearah kakek Hua er.
Kakek Hua er juga mengangkat botolnya menyulangi Fei Yang.
Setelah itu dia dengan hati-hati membuka penutup botol mencium dan menikmati aroma arak yang wangi itu dan berkata,
"Arak bagus,..sungguh arak bagus.."
Setelah itu dia pun mulai mencicipinya pelan pelan.
Setelah mencicipi pelan pelan beberapa teguk kakek itu pun berkata tanpa sungkan karena sudah sedikit di pengaruhi oleh arak yang di minumnya.
"Nak Fei Yang makanan di meja ini agak mubajir, bila di biarkan."
"Apa boleh kakek memakannya..?"
"Silahkan kek,.. sebenarnya dari tadi aku juga ingin menawarkan.."
"Tapi karena makanan ini bekas aku makan , aku merasa kurang sopan.."
ucap Fei Yang berterus terang.
Melihat kakeknya makan dengan lahap Hua er dengan malu malu ikut mencicipinya.
Awalnya sedikit, tapi lama kelamaan semakin sering karena rasa masakan restoran Naga Phoenix memang sangat lezat.
"Kakek sebenarnya apa yang terjadi mengapa kakek dan Hua er bisa berada di kapal mewah itu ?"
tanya Fei Yang.
Kakek Hua er menghela nafas panjang dan berkata,
"Hua er kedua orang tua nya meninggal muda, sehingga dia sejak kecil sudah ikut tinggal bersama ku.."
"Kami tidak punya modal juga keahlian, sehingga kami berdua hanya bisa jadi pengamen untuk menghibur para pelancong.."
"Mendapatkan sedikit uang untuk bertahan hidup.."
"Hari ini karena naas, kami malah bertemu dengan pemuda kaya raya yang jahat itu.."
"Untung ada nak Fei Yang, bila tidak entah jadi apa nasib cucu ku yang kasihan ini."
ucap kakek Hua er menatap cucunya dengan sedih.
Fei Yang mengangguk paham, kembali meneruskan minumnya, lalu berkata,
"Kakek ini ada sedikit rejeki, kakek dan Hua er bisa menggunakan nya untuk buka usaha lain.."
"Jadi tidak perlu jadi pengamen yang sangat beresiko bertemu orang orang tak bermoral itu.."
__ADS_1
Selesai berkata Fei Yang meletakkan 6 kantung kecil, yang di dalamnya penuh berisi Tael emas dan perak hasil jarahannya tadi.
"Ini,.. tidak kami sudah menerima Budi pertolongan nak Fei Yang, kini ditambah dengan makan minum gratis.."
"Bila harus menerima ini, ini sungguh tida pantas.."
ucap kakek Hua er menolak keras.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Uang ini aku tidak membutuhkannya, anggap saja ini uang untuk membayar apa yang mereka lakukan pada kakek dan Hua er.."
"Uang ini bukan dari ku, jadi terima saja jangan menolaknya lagi.."
ucap Fei Yang sambil mendorong nya kembali kearah kakek Hua er..
Kakek Hua er menghela nafas panjang dan berkata,
"Nak Fei Yang sekali lagi kakek hanya bisa mengucapkan terimakasih saja."
"Mungkin di kehidupan berikutnya kakek baru bisa membalas Budi besar nak Fei Yang kepada kami berdua..'
Fei Yang tersenyum dan mengangguk, lalu melanjutkan minum nya.
"Nak Fei Yang setelah kejadian di kapal itu, bila nak Fei Yang tidak punya urusan penting di kota ini.."
"Ada baiknya nak Fei Yang segera tinggalkan kota ini, karena bila di lihat dari kekayaan dan jumlah pengawal yang mengawal mereka.."
"Bila dugaan ku tidak salah, mereka semua pasti punya latar belakang keluarga yang tidak mudah.."
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Kakek tenang saja, pejabat juga manusia, putra langit sekalipun juga manusia, yang bila melakukan kesalahan tetap harus di hukum.."
"Apalagi mereka itu, pejabat bukan putra langit pun bukan, salah ya tetap salah.."
"Bila hukum kerajaan tidak bisa menghukum mereka, maka biarlah hukum alam yang akan menghapus mereka dari dunia ini.."
ucap Fei Yang santai.
"Tuan perahu sudah sampai,..!"
teriak tukang perahu mengingatkan dari bagian belakang perahu.
Fei Yang menatap kakek hua er dan Hua er, dia memberi hormat kearah mereka dan berkata,
"Kakek,.. Hua er,.. kini tiba waktunya kita berpisah, sampai jumpa.."
Hua er dan kakeknya membalas penghormatan Fei Yang dengan, membungkukkan tubuh mereka dalam dalam.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Tak perlu banyak peradatan kek, aku permisi dulu, jaga diri.."
Setelah berkata, Fei Yang melangkah santai berjalan meninggalkan perahu.
Saat tiba di tepi danau, Fei Yang membayar uang sewa perahu ke pemilik perahu.
__ADS_1
Setelah itu dia pun berjalan santai kembali ke penginapan nya.
Saat tiba di depan penginapan, Fei Yang terpaksa menghentikan langkahnya.
Karena dia melihat pria kurus kecil itu sedang duduk melengut di depan pintu penginapannya.
Tiba-tiba pemuda kurus itu menoleh kearah Fei Yang, melihat Fei Yang sudah kembali dia sambil tersenyum lebar langsung melompat berdiri menghampiri Fei Yang.
Menggandeng tangan nya dengan gembira berkata,
"Kakak tampan,..! akhirnya kamu kembali juga, adik mu ini sudah menunggu mu sampai bosan.."
"Aku ingin menunggu mu di kamar mu, tapi pelayan brengsek itu melarang ku, "
"Bahkan cuma sekedar duduk di depan kamar mu pun tidak boleh.."
"Dia benar benar punya mata anjing memandang rendah orang.."
ucap pria kurus kecil itu dengan cerewet.
Fei Yang yang merasa risih ingin melepaskan diri dari gandengan tangan pemuda itu.
Tapi pemuda itu memegangnya dengan sangat erat, sehingga dia tidak berhasil melepaskan diri.
Untuk menggunakan kekerasan, Fei Yang tak tega melakukannya, karena pemuda kurus kecil ini sepertinya tidak menguasai ilmu silat.
Fei Yang menjadi serba salah, membiarkannya dia risih dan tidak nyaman.
Tapi menolaknya dengan kasar Fei Yang sedikit tidak tega.
Akhirnya Fei Yang hanya bisa berkata dengan gaya sedingin mungkin..
"Lepaskan tangan mu, aku bukan kakak mu,.. kita tidak punya hubungan apapun.."
"Aku tampan atau jelek rasanya juga tidak ada urusannya dengan mu.."
"Minggir lah, jangan mengikuti ku lagi.."
"Kakak,..!!!"
teriak si pemuda kurus itu keras keras dengan wajah cemberut.
"Kakak kok tega sih, ?! jauh jauh adik mencari mu hingga kemari.!"
"Menunggu mu Berjam jam di sini, di bawah terik matahari..!!"
"Tapi setelah bertemu kakak malah mengusir ku dan tidak mau mengenal ku..!!"
"Mengapa kakak begitu tega dan kejam, apa karena adik mu ini miskin sehingga kamu melupakan sumpah setia kita Di taman bunga Tao dulu...!!"
teriak si pemuda kurus itu marah marah sambil menunjuk nunjuk wajah Fei Yang.
Orang orang yang lalu lalang mulai berhenti dan berkepul di sana menyaksikan keramaian.
Lalu mereka mulai saling berbisik-bisik menunjuk nunjuk Fei Yang.
Fei Yang selain kaget, dia juga sangat malu dan marah dengan pemuda itu
__ADS_1