
"Karena merasa bersalah, putra ku dan menantu ku, ikut meninggalkan pulau pelangi."
"Mereka pergi mencari dan ingin menangkap murid mereka Xi Men Lang."
"Untuk mengambil kembali pusaka pulau pelangi, agar tidak menimbulkan keributan di daratan tengah."
"Tapi malang tak bisa di tolak, mungkin karena nasib.."
"Mereka berdua kena di jebak oleh murid mereka sendiri, terluka parah dan akhirnya ayah Fei Hsia meninggal dunia saat berhasil kembali ke pulau pelangi."
"Sedangkan ibu Fei Hsia yang terlalu bersedih akhirnya ikut menyusul kepergian ayahnya.."
ucap Kakek Wu dengan wajah sedih dan menyesal.
Wu Song mengangguk mengerti dan berkata,
"Apakah pemuda itu kemudian bersembunyi di lembah ini ? lalu kalian mengejarnya hingga kemari dan sempat terjebak di sini.."
"Kalian baru bisa bebas setelah pemuda sakti ini datang kemari, benar..?"
tanya Wu Song yang mulai bisa menebak jalan ceritanya..sambil menurunkan Fei Yang dari pondongan nya.
Fei Yang tergeletak dengan sepasang mata terpejam rapat, luka di dada hingga ke perut telah mengering hampir pulih.
Nafasnya juga sudah jauh lebih teratur, hanya sepasang matanya masih terpejam rapat.
Melihat orang yang di pondong leluhurnya benar Fei Yang.
Fei Hsia sudah tidak bisa menahan diri untuk segera maju, merangkul Fei Yang kedalam pangkuannya dan berkata dengan cemas.
"Leluhur bagaimana keadaannya, apa yang terjadi dengan nya..?"
Sekilas lihat Wu Song yang sudah kenyang asam garam asmara, bahkan dirinya sendiri sampai kini pun belum bisa terlepas dari hal itu.
Sambil tersenyum penuh pengertian Wu Song berkata,
"Keadaan nya cukup baik, aku telah memberinya pil nirwana, kurasa dua tiga hari lagi keadaan nya juga akan pulih kembali.."
"Hanya saja dia kemungkinan akan kehilangan ingatannya setelah pulih nanti."
"Berbahaya kah leluhur ? apa dia nanti akan pulih sendiri atau perlu di bantu obat tertentu..?"
tanya Kakek Wu yang merasa berhutang Budi pada Fei Yang.
Wu Song menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Obat kurasa tidak perlu, dia sudah minum pil nirwana, cepat lambat pasti sembuh total termasuk ingatan nya.."
"Hanya saja kapan ingatan nya bisa pulih kembali, aku tidak bisa memastikan nya ."
ucap Wu Song berterus-terang.
Sesaat kemudian Wu Song berkata,
"Lalu bagaimana dengan nasib Xi Men Lang itu, saat ini..?"
Kakek Wu menghela nafas panjang menatap kearah Fei Yang dengan penuh rasa terimakasih dan berkata,
"Xi Men Lang murid murtad itu, beberapa tahun yang lalu sudah di lumpuhkan oleh dia.."
__ADS_1
"Xi Men Lang sendiri, sudah kami bawa kembali ke pulau pelangi dan menerima hukuman nya."
"Kedatangan Fei Hsia ke lembah ini , karena mengejar tersangka lainnya, yang dari mulut Xi Men Lang, di ketahui orang itu bernama Vipasana lhama.."
"Setelah Fei Hsia meninggalkan pulau pelangi, datang ke daratan tengah melakukan penyelidikan.."
"Akhirnya dia mendapat informasi Lhama itu bersembunyi di tempat ini mencari perlindungan.."
"Fei Hsia mengajak Neneknya membantunya menyerbu kemari, meski berhasil menuntaskan dendam, tapi mereka di kalahkan oleh pemilik lembah ini.."
"Begitu pula dengan aku, hingga pemuda ini tiba kami baru berhasil bebas.."
ucap kakek Wu tertunduk malu dan merasa menyesal telah mencoreng nama besar keluarga Wu.
Sebagai keturunan terakhir sang legenda Pendekar Suling Hitam, Wu Song.
Wu Song tersenyum dan berkata,
"Wu Yue kamu tak perlu menyesal, pemuda ini memang luar biasa."
"Bahkan Wu Hui Lao Jen pun bukan lawannya, aku sendiri juga ragu apakah sanggup menahlukkan nya.."
ucap Wu Song sejujurnya.
Sesaat kemudian Wu Song kembali berkata,
"Ya sudah, aku titipkan dia pada mu, untuk di kembalikan ke keluarga nya.."
"Aku sendiri harus segera kembali ke San Cing Guan, untuk melapor pada Yu Se Thian Cun.."
"Sampai jumpa.."
Saat muncul lagi dia sudah berubah menjadi sebuah titik hitam kecil sedang menembus langit.
"Fei Hsia,.. dengarkan kakek.."
"Kakek tahu kamu menyukainya, tapi dia sudah punya istri.."
"Istri nya mungkin masih ada di dalam sana sedang menantinya."
"Kita harus kembalikan dia ke keluarganya, seperti pesan leluhur Wu Song tadi sebelum beliau pergi.."
ucap kakek Wu mencoba mengingatkan cucunya.
Fei Hsia langsung menggelengkan kepalanya dengan keras dan berkata,
"Tidak kek,.. Fei Hsia mohon biarkanlah Fei Hsia membawanya pulang ke pulau pelangi.."
"Setelah merawatnya hingga sembuh total, Fei Hsia baru antarkan dia kembali ke Istrinya.."
"Fei Hsia,.. mana boleh seperti itu, sudah kamu jangan keras kepala dan berpikir macam macam.."
"Kakek tidak akan pernah mengijinkan mu, bertindak merebut suami orang.."
"Masih banyak pria lain, tapi jangan dia.."
ucap Kakek Wu tegas.
Tapi Fei Hsia dengan airmata berlinang malah semakin mempererat pelukannya pada Fei Yang dan berkata,
__ADS_1
"Nenek kakek,.. maafkan Fei Hsia yang tidak berbakti.."
"Bila kakek memaksa, biarlah tempat ini menjadi kuburan bagi cucu kalian.."
"Fei Hsia kau..!"
bentak Kakek Wu geram.
Hingga jenggot dan kumis nya bergetar, saking kesal dan tidak tahu harus bersikap apa.
Menanggapi sikap keras kepala cucu tunggal nya ini.
Nenek Yang buru buru maju menghadang di antara mereka, Lalu dia menoleh kearah cucunya memunggungi suaminya dan berkata,
"Hsia Hsia cucu ku yang baik, dengarkan lah nenek."
"Serahkanlah dia pada kakek mu yang urus.."
"Kamu ikutlah dengan nenek, jangan keras kepala lagi.."
"Nenek mengerti perasaan mu, tapi kamu harus tahu, sesuatu yang di paksakan, hanya akan menyakiti dirimu sendiri dan menyakitinya.."
"Tidak akan ada akhir yang bahagia buat kalian berdua di masa depan nanti.."
Fei Hsia mengigit bibirnya sendiri erat-erat dan menggelengkan kepalanya berulang kali dengan kuat dan berkata,
"Tidak nek,.. Fei Hsia siap dengan resiko terburuk kelak.."
"Fei Hsia tidak akan melepaskan kesempatan kedua yang di berikan oleh Thian pada Fei Hsia.."
Nenek Yang menghela nafas sedih, dia mengulurkan kedua tangannya menghapus airmata yang bercucuran membasahi sepasang pipi cucunya yang cantik jelita.
"Hsia Hsia,.. dengarkanlah nenek,..terkadang mencintai tanpa memilki adalah suatu kebahagiaan terbaik bagi mu juga baginya.."
"Bersikaplah dewasa dan coba pahami hal itu.."
ucap nenek Yang penuh kesabaran.
Fei Hsia menggelengkan kepalanya dan berkata dengan airmata bercucuran.
"Tidak nek, mengucapkan lebih mudah daripada menjalani.."
"Bila melakukan itu, Fei Hsia pasti akan hancur dan lebih menderita daripada kematian.."
"Fei Hsia mohon, ijinkanlah Fei Hsia menjalaninya.."
"Apapun konsekwensinya kelak, setidaknya Fei Hsia tidak akan pernah menyesal lagi.."
"Setidaknya ada kenangan indah kebersamaan kami berdua, yang akan menghibur kesedihan Fei hsia.nantinya."
ucap Fei Hsia tetap berkeras dengan keinginan nya.
Nenek Yang menghela nafas panjang sambil mengeleng gelengkan kepalanya.
Dia lalu berdiri dan menoleh kearah suaminya dan berkata,
"Suami ku, bila kamu tidak mengijinkannya, aku terpaksa tidak ikut dengan mu kembali ke pulau pelangi ."
"Aku akan membawanya kembali ke Thian San.."
__ADS_1