
Yi Wen melirik kearah Fei Yang yang sedang berlalu dengan wajah kesal.
Hingga Fei Yang menghilang, dia pun berdiri dari kursinya, membanting sebelah kakinya, lalu menyusul kearah Fei Yang pergi dengan wajah cemberut.
Fei Yang yang mendengar suar pintu di sebelah kamarnya di banting dengan keras.
Dia yang sedang dalam posisi semedi, dengan sepasang mata tertutup bibirnya berusaha menahan senyum.
Fei Yang benar benar tidak menyangka teman perjalanan nya itu ternyata seorang Kasim.
Pantas saja tingkahnya sangat aneh, lelaki bukan perempuan bukan.
Teringat kata kata Yi Wen yang meneriakinya bukan lelaki.
Sebelumnya Fei Yang sangat jengkel, tapi kini dia malah sulit menahan senyum.
Ini namanya maling teriak maling, menepuk air di dulang terpercik wajah sendiri..
Tiba-tiba Fei Yang menepuk pahanya dan berkata,
"Ini adalah suatu kebetulan yang sangat baik ."
"Besar di Kai Feng, pernah jadi Kasim istana, tentu seluk beluk istana sangat jelas.."
"Malam ini bisa tidaknya menemukan dan menghabisi bajingan itu, untuk membalas dendam guru Malini.."
"Semua bergantung pada Yi Wen."
"Aku tidak perlu buang buang tenaga dan mengambil resiko mengeliling lingkungan istana yang begitu luas.."
"Seminggu pun belum tentu habis di kelilingi.."
Berpikir sampai di situ Fei Yang pun tersenyum gembira, penuh percaya diri..
Menjelang sore Fei Yang pun menghampiri kamar Yi Wen mengetuk pintu kamar nya dan berkata,
"Yi Wen,..kamu sedang apa ? aku sudah memesan makan malam sebagai permintaan maaf ku.."
"Kamu mau kan, makan bersama ku..?"
"Sebentar,..!"
terdengar suara jawaban dari dalam kamar.
Tak lama kemudian pintu kamar pun terbuka,
"Ada apa ? tumben kamu begitu baik, ada apa cepat katakan gak usah plintat plintut."
"Ada kata cepat katakan, ada kentut cepat keluarkan,.. aku ngantuk.."
ucap Yi Wen keki.
Fei Yang menahan keki, di dalam hati,
"Bagus kamu Yi Wen,..siapa suruh aku sedang membutuhkan bantuan mu, bila urusan sudah selesai.."
"Aku mau lihat kamu bisa menyombongkan apa ? perkakas aja udah gak punya, pria bukan wanita bukan menjijikkan.."
umpat Fei Yang dalam hati.
__ADS_1
Tentu saja di luar Fei Yang tersenyum lebar dan berkata,
"Maaf adik Yi Wen,.. tadi siang adalah salah ku, aku datang untuk mengundang mu makan.."
"Untuk menebus kesalahanku tadi siang.."
"Ya sudah nanti aku menyusul,.."
"Brakkk,..!"
Selesai berucap Yi Wen langsung menutup pintu kamarnya dengan keras.
Fei Yang sampai harus menarik mundur wajahnya, agar tidak terkena bantingan daun pintu.
Sambil menggertakkan giginya menahan kesal, Fei Yang pun kembali ke kamarnya sendiri.
Tak lama kemudian Yi Wen dengan wajah cemberut masuk kedalam kamar Fei Yang.
Dia mengambil tempat duduk di hadapan Fei Yang, tanpa berkata apapun, begitu duduk dia langsung mengulurkan sumpitnya kesana kemari mengambil makanan.
Tanpa memperdulikan kehadiran Fei Yang, seolah olah Fei Yang hanya angin kosong .
Fei Yang tidak terlalu menanggapi gaya Yi Wen.
Dia malah dengan ramah, menuangkan arak Nie Er Hung ke dalam cawan Yi Wen.
Setelah Yi Wen minum 3 cawan, dan wajahnya tidak terlihat kesal lagi.
Fei Yang baru berkata,
"Yi Wen nanti malam aku berencana ingin menyantroni kediaman Zhau Yuan Xi, putra mahkota saat ini.."
"Kamu punya dendam apa dengan nya..?"
Fei Yang sambil tersenyum berkata,
"Tidak ada, aku dan dia tidak ada permusuhan.."
"Musuh ku adalah pengawal pribadinya, Xuan Ming.."
Yi Wen menghela nafas lega dan berkata,
"Ohh cuma pengawal pribadi saja, ku kira kamu mau menghabisi putra mahkota.."
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Bukan bukan putra mahkota, aku hanya menginginkan Xuan Ming saja.."
"Adik Yi Wen kamu sangat mengenal seluk beluk istana, bisa tidak kamu..?"
"Apa, membantu mu menyantroni istana ?"
tanya Yi Wen memotong ucapan Fei Yang.
Fei Yang mengangguk sambil tersenyum canggung.
"Sudah ku duga kamu tiba tiba jadi baik, tentu ada mau nya.."
"Tapi ya sudahlah, mengingat kamu juga sudah berulang kali menolong ku, juga sudah bersikap baik pada ku saat aku sedang tidur."
__ADS_1
"Aku akan membantu mu,.."
"Ayo kita berangkat sekarang,.."
ucap Yi Wen santai.
"Ehh,.. maksud ku bukan sekarang, tapi tengah malam nanti.."
ucap Fei Yang cepat
Yi Wen menatap Fei Yang dengan serius dan berkata,
"Baiklah terserah kamu saja, mau tengah malam juga boleh.."
"Nanti kalau sudah mau berangkat panggil saja, aku tunggu di kamar ku saja.."
ucap Yi Wen kemudian langsung meninggalkan Fei Yang, kembali ke kamarnya.
Sampai di dalam kamar, Yi Wen memilih duduk di depan jendela, membuka jendela lebar lebar melihat rembulan yang bersinar lembut.
"Susah payah aku melarikan diri akhirnya tetap harus kembali juga.."
"Hari hari bebas ku, kelihatannya akan segera berakhir ."
keluh Yi Wen lesu sambil menatap kearah bulan.
Sedangkan Fei Yang di kamarnya, dia terlihat makan dengan lahap, hatinya sedang senang.
Dengan bantuan dari Yi Wen, Fei Yang yakin pekerjaan nya sudah rampung separuh.
Menjelang tengah malam dua bayangan hitam melayang ringan di udara, terbang menuju istana kerajaan Song yang megah dan di jaga oleh pasukan patroli yang sangat rapat.
Tapi berhubung pergerakan Fei Yang yang melintas di udara, sambil merangkul pinggang Yi Wen, sangat cepat.
Para pengawal hanya mengira, ada burung besar yang sedang terbang melintas lewat diatas kepala mereka.
Mereka tidak ada yang menyangka, itu adalah Yi Wen dan Fei Yang yang sedang terbang melintas di atas mereka.
Yi Wen memegangi baju di dada Fei Yang erat erat, dia agak takut dan belum biasa terbang melayang di udara seperti itu.
Fei Yang hanya tersenyum, dia tidak berkata apa-apa, saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggoda Kasim kecil ini.
Bila dia marah semua rencananya yang bergantung padanya bisa kacau.
Berdasarkan petunjuk dari Yi Wen akhirnya mereka tiba di kediaman Zhau Yuan Xi.
Fei Yang membawa Yi Wen bersembunyi di wuwungan genteng yang tinggi dan gelap,.tertutup dari cahaya bulan.
Dari sana Fei Yang melakukan pengamatan dan pemantauan.
Setelah memantau sejenak lingkungan kawasan istana kediaman putra mahkota, Fei Yang menoleh kearah Yi Wen dan berkata,
"Kamu tahu di mana letak kamar Zhau Yuan Xi..?"
Yi Wen menunjuk kearah.sebuah kamar besar yang terletak di tengah tengah, menghadap kearah taman yang luas, pintu utama nya di sana tertutup rapat.
"Kamu tunggu saja di sini, aku pergi kesana melihat lihat.."
Selesai berkata, Fei Yang sudah melayang terbang ke seberang sana, mendarat ringan di atas genteng kamar tersebut.
__ADS_1
Yi Wen mau berteriak mengingatkan Fei Yang, tapi dia terpaksa membatalkannya.