PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERAYAAN DI IBUKOTA KAI FENG


__ADS_3

Dimana kini semua terlihat jelas, di hadapan Fei Yang kini terlihat jelas wajah seorang nenek-nenek dengan rambut sebagian telah memutih.


Itu jelas adalah wajah si nenek cabul itu, Fei Yang benar benar sulit menerima kenyataan itu.


Tanpa sadar pemantik api terlepas dari pegangan tangan Fei Yang, jatuh keatas lantai, tapi api masih terus menyala, menerangi ruangan tersebut.


Dia terlihat syok berat,


dengan bibir gemetar Fei Yang berkata,


"Lap Lao maaf, aku,.. aku,.."


"Arghhhh,...!!"


Sambil berteriak keras, di mana suara itu lebih mirip rintihan jiwa, yang sulit di bedakan apakah itu suara tertawa atau menangis.


Fei Yang sambil menjambak rambut nya sendiri, tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya yang belum berpakaian sana sekali.


Fei Yang terus melesat menuju pintu gua yang tertutup oleh timbunan batu.


Dengan teriakan histeris seperti orang yang terganggu pikirannya.


"Arggggghhh,..!!!"


Fei Yang berulang kali terus menghantamkan kedua telapak tangan nya kedepan.


"Boooom,..!"


"Boooom,..!"


"Boooom,..!"


"Boooom,..!"


"Kakak Yang jangan,..!!"


"Gua bisa runtuh,..!!


teriak Hoa San Lao Lao cemas.


Melihat Fei Yang tidak juga menghentikan tindakannya, malah semakin brutal.


Hoa San Lao Lao pun melayang kearah Fei Yang, memeluknya dari belakang dan berkata,


"Kakak Yang ku mohon hentikan, jangan seperti ini.."


"Aku mohon.."


"Lepaskan tanganmu,.. maafkan aku..aku harus pergi.."


ucap Fei Yang dengan suara dingin.


"Tidak kakak Yang, tidak,..! kamu harus dengarkan dulu penjelasan ku..!"


"Ini tidak seperti yang kamu lihat dan bayangkan, aku sebenarnya,.."


Tapi ucapan Lao Lao belum selesai, Fei Yang langsung menghentakkan energi lembut melontarkan tubuh Lao Lao menjauhinya dan berkata dengan suara dingin,

__ADS_1


"Maafkan aku,..aku tidak bisa..."


Sehabis berkata, tubuh Fei Yang meledakkan energi panas dingin yang sangat kuat, hingga siapapun akan sulit mendekatinya.


Dia lalu kembali melepaskan pukulannya kearah mulut gua, dengan pengerahan tenaga yang jauh lebih kuat lagi.


Terlihat sinar putih dan biru terus menerus di lepaskan secara bergantian menghantam batu batu yang menutupi mulut gua.


Tanpa menghiraukan kondisi di dalam gua, yang bergemuruh hebat dan bebatuan yang terus berjatuhan dari langit langit gua.


Seolah-olah gua itu sebentar lagi akan runtuh kebawah.


Fei Yang masih terus memberikan pukulan secara berulang ulang tanpa henti kearah bebatuan yang menutupi pintu Gua.


Bebatuan yang sebentar membeku, sebentar terbakar, bebatuan itu tidak kuat menahan perubahan drastis seperti itu.


Bebatuan yang menutupi mulut gua terus meledak dan meledak setiap terkena hantaman kedua tangan Fei Yang.


"Kakak Yang,.."


ratap Hoa San Lao Lao sedih dengan airmata bercucuran membasahi wajahnya.


Dia tidak bisa mendekati Fei Yang yang kondisinya sedang seperti orang kurang waras.


Selain menangis sedih dengan perasaan hancur lebur, Hoa San Lao Lao sudah tidak tahu mau bilang apalagi ke Fei Yang, yang tidak bersedia di dekati dan tidak bersedia mendengarkan apapun yang dia ucapkan.


Puncaknya Fei Yang melepaskan sebuah energi pedang raksasa, berwarna separuh putih separuh lagi biru.


Di mana pedang tersebut terlihat berputar putar seperti mata bor,.terus menerjang deras kearah mulut gua,..


Sambil mengeluarkan suara teriakan keras, yang menggetarkan seluruh gua.


Teriak Fei Yang histeris, pedang energi separuh biru separuh putih langsung meledakkan apapun penghalang di depannya.


Hingga akhirnya batu batu yang menutupi mulut gua terpental berhamburan, mulut gua pun terbuka lebar.


Suasana gua yang gelap gulita minim cahaya kini mulai kembali terang.


Dimana di belakang Fei Yang, kini terlihat jelas hadir sesosok gadis cantik bertubuh polos tanpa Bu sana sedang menangis sedih dengan airmata bercucuran.


Gadis itu sesekali masih mencoba berteriak dan memanggil manggil Fei Yang di sela sela Isak tangisnya.


Agar Fei Yang menghentikan aksinya, dan jangan pergi meninggalkan dirinya.


Tapi Fei Yang seolah olah tidak mau mendengar, dan takut untuk menoleh kebelakang.


Begitu terlihat pintu gua terbuka lebar


Tanpa menghiraukan matanya yang silau oleh cahaya, Fei Yang menggunakan lengannya sedikit melindungi matanya.


Lalu dia melesat bagaikan kilat meninggalkan gua tersebut.


Begitu melihat Fei Yang pergi sosok gadis yang sangat cantik dan bertubuh indah seperti patung batu pualam itu.


Langsung terduduk bersimpuh diatas tanah menangis sedih, sambil menutupi wajahnya sendiri dengan kedua telapak tangannya.


Saking sedihnya gadis itu tubuhnya sampai gemetaran menahan suara isak tangisnya sendiri.

__ADS_1


Fei Yang sendiri yang sedang terbang di udara, sebentar tertawa sebentar menangis.


Akhirnya dia meluncur masuk kesebuah kolam air terjun yang terletak persis di bagian paling belakang perguruan Hoa San Pai.


Fei Yang duduk bermeditasi di dasar kolam, berusaha menenangkan pikiran nya, yang mengalami guncangan hebat.


Di tempat lain di luar hutan Pinus para ketua dan tetua dunia persilatan saat tiba di lokasi.


Mereka berdiri mematung saat melihat mayat mayat murid dan pengikut mereka yang bergelimpangan kehilangan nyawa memenuhi seluruh tempat itu.


Mereka semua mengepalkan sepasang tinju mereka erat erat, menahan emosi amarah kesedihan dan penyesalan yang menyeruak di dalam hati mereka.


"Thian Sia Hwee,..aku bersumpah di antara kita tidak akan pernah selesai..!"


teriak Shi Ma Cing Hu penuh dendam membara.


Sedangkan yang lainnya hanya bisa mengangguk sedih, sulit berkata-kata.


Mereka semua juga sangat menaruh dendam pada Thian Sia Hwee.


Tapi di sisi lain mereka juga sadar, setelah hari ini mereka akan sulit menemukan Thian Sia Hwee lagi.


Karena pimpinan mereka Xiong Pa kemungkinan besar sudah tewas terjatuh kedalam jurang tak berdasar.


Sedangkan kedua murid utamanya, yang menjadi tangan kanan dan kirinya, juga ikut tewas di dalam goa di puncak Hoa San.


Akhirnya dengan lesu mereka semua berpisah di tempat itu, kembali ke perguruan mereka masing-masing.


Di tempat lain di ibukota Kai Feng yang kini sudah kembali jatuh ketangan Kaisar Song baru, yaitu Zhao Heng.


Terlihat rakyat sedang melakukan pesta perayaan kemerdekaan mereka dari penjajahan kerajaan Liao.


Kaisar baru Zhao Heng, istrinya nyonya Guo, yang kini telah menjadi permaisuri Guo, mertuanya jendral Guo Sheng dan Putranya Jendral Guo Siao Thian.


Mereka berempat berdiri di atas benteng depan istana, menyaksikan pesta perayaan rakyat sambil tersenyum gembira.


Di belakang mereka berdiri sejumlah pengawal dan pelayan istana, juga terlihat ikut tersenyum bahagia.


Beberapa saat kemudian terlihat seorang pria bertubuh sedang berseragam militer menghampiri Kaisar Zhao Heng.


Lalu berbisik kepada nya, mendengar laporan anak buahnya tersebut, sepasang alis kaisar Zhao Heng sedikit bertaut jadi satu.


Kaisar Zhao Heng menoleh kearah anak buahnya dan berkata,


"Zhan Chao apakah kebenaran berita ini bisa di percaya..?"


"Seratus persen akurat yang mulia.."


Kaisar Zhao Heng terlihat berpikir keras, sesaat kemudian sambil menghela nafas dia berkata,


"Bubarkan Thian Sia Hwee, kembalikan identitas mereka sebagai pasukan khusus pengawal istana.."


"Bawa Chin Suang menemui ku di ruang kerja.."


ucap kaisar Zhao Heng menutup pembicaraan..


"Baik Yang Mulia, segera di laksanakan.."

__ADS_1


ucap Zhan Chao memberi hormat kemudian meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2