PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
WU MING LAO JEN


__ADS_3

Nan Thian sedang berpikir, bila Chi Le Thian sampai terpancing kemari, karena batu kristal, yang telah menyatu di dalam tubuhnya kini.


Entah bagaimana dengan Dunia ini, mungkinkah ini yang di namakan kiamat.


Berpikir sampai di sini, Nan Thian akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang, berdoa semoga itu hanya kekhawatiran nya yang berlebihan saja.


Lagipula Chi Le Thian, itu jelas bukan kapasitas dirinya atau siapapun di dunia ini.


Chi Le Thian adalah kapasitasnya para Thian Cun, kaisar Langit serta para Buddha di surga barat sana.


Berpikir sampai di situ, Nan Thian tidak mau mau berpikir terlalu banyak lagi.


Saat ini yang paling penting, fokus menemukan guru dari pamannya, Wu Ming Lau Jen.


Mencari petunjuk tentang Gong Gong kemudian mengambil batu inti Es Surgawi.


Menyerap kedua kekuatan itu kedalam tubuhnya, lalu sesegera mungkin menolong bibi nya.


Setelah batu kristal panca warna masuk kedalam tubuh Nan Thian.


Ruangan tempat mereka berada kini menjadi remang remang.


Sedangkan pedang Mestika Panca Warna yang dalam genggaman tangan Nan Thian.


Kini terlihat tenang, tidak bergerak gerak, atau pun meronta ronta lagi.


Bahkan saat Nan Thian kembali menyimpan nya kedalam cincin.


Pedang itu juga tetap tenang.


Nan Thian mengeluarkan sebatang alat batu pemantik kuno.


Dengan membuka ujung penutupnya, lalu sedikit di tiup tiup.


Benda itupun menyala, memberikan penerangan seperti cahaya lilin.


Dengan mengangkat benda itu tinggi tinggi, Nan Thian maju melakukan pemeriksaan.


Setelah beberapa waktu berselang, Nan Thian menemukan ruangan yang tidak besar itu.


Hanya sebesar 4x4 meter persegi.luasnya.


Tidak ada petunjuk apapun di sana.


Selain ditempat batu kristal tadi berada, ada dua bentuk telapak tangan yang melesak kedalam sebuah lempengan batu yang menjadi tempat alas batu kristal panca warna tadi berada


Sama sekali tidak di temukan petunjuk lainnya di sana.


Nan Thian mencoba meletakkan sepasang tangannya, tepat di atas lempengan, mirip meja batu itu.


Sambil meletakkan sepasang tangannya di sana, Nan Thian mencoba memberikan dorongan dengan kekuatannya.

__ADS_1


Begitu kekuatannya di kerahkan, secara otomatis, energi batu panca warna ikut terbawa keluar.


Seluruh tubuh Nan Thian di kelilingi oleh energi panca warna.


Begitu batu tertekan oleh energi panca warna, yang muncul dari kedua telapak tangan Nan Thian.


"Krakkkk,


Di hadapan Nan Thian muncul sebuah lubang kecil, halus.


Melihat lubang kecil berbentuk lurus, berada di depan mata.


Melihat lubang tersebut, Nan Thian buru buru, mengeluarkan pedang itu dari dalam Cincin.


Begitu pedang keluar dari dalam cincin penyimpanan, secara otomatis pedang itu memisahkan diri dari sarung pedangnya .


Lalu pedang itu masuk sendiri kedalam lubang kecil itu.


Lubang itu muncul, karena Nan Thian kedua telapak tangannya tertempel di sana, sambil mendorongkan tenaga saktinya, yang mengandung energi panca warna.


Perpaduan energi dan pedang, akhirnya,


"Krakkk,..! Krakkk,..! Krakkk,..!"


"Dreeettt,..! Dreeettt,..! Dreeettt,..!"


Dinding di sebelah belakang lempengan batu, berderak hebat.


Semakin lebar dinding batu terbuka, semakin jelas pemandangan di balik dinding batu terlihat dengan sangat jelas.


Kim Kim dan Nan Thian terpesona melihat pemandangan yang ada di balik dinding batu itu.


Di depan mereka terhampar sebuah pemandangan menakjubkan, ada hamparan kolam teratai yang sangat indah.


Airnya begitu jernih hingga bisa terlihat ikan ikan pancawarna yang berseliweran di dalam sana.


Bunga Bunga Teratai yang bermekaran dengan kelopak bunga besar besar, berwarna merah jambu.


Terhampar luas di mana mana, tumbuh subur di kelilingi oleh daun teratai yang berwarna hijau muda dengan daun lebar lebar mengambang di atas air kolam yang sangat jernih.


Di seberang kolam, terlihat ada aliran sungai kecil yang mengalir bertingkat terus kebawah.


Mirip undakan anak tangga, yang di selimuti oleh tirai air yang sangat indah, berwarna warni terkenal pantulan cahaya bebatuan di bawahnya.


Nan Thian dan Kim Kim melompat memasuki dinding batu yang terbuka lebar.


Nan Thian tidak lupa membawa pedang Mestika Panca Warna milik pamannya, untuk di simpan kembali kedalam sarung pedang nya.


Pedang Mestika Panca Warna itu, tidak melakukan penolakan ataupun di masukkan kembali kedalam sarungnya.


Karena dia mengenali Nan Thian sebagai pemilik barunya.

__ADS_1


Energi batu kristal panca warna itulah yang membantu Nan Thian menundukkan pedang aneh milik pamannya.


Di mana selama ini, selain Fei Yang pribadi, tidak ada yang sanggup mencabut pedang itu keluar dari sarungnya.


Apalagi mau menggunakan nya, bahkan Xue Lian sendiri, sebagai keturunan dewa Fusi dan Dewi Nu Wa, dia juga tidak bisa menarik pedang itu keluar dari dalam sarungnya.


Nan Thian dan Kim Kim tanpa kesulitan berhasil mendarat ringan di tepi kolam.


Di sebelah depan dari kolam bunga teratai, terlihat hamparan bunga warna warni tumbuh subur di sana.


Uniknya semua bunga di sana terdiri dari lima warna, sama dengan Lima warna, yang di keluarkan oleh pedang Mestika Panca Warna.


Nan Thian dan Kim Kim kembali terbang melayang di atas hamparan bunga warna-warni di bawahnya.


Setelah melewati hamparan bunga, mereka mendarat diatas hamparan rumput pendek hijau lembut, seperti mendarat diatas permadani berwarna hijau muda.


Rumput hijau ini menjadi halaman bagi sebuah tebing batu yang tinggi besar dan cukup luas.


Di bawah dinding tebing tersebut ada 36 Gua berukuran kecil, dengan penghujung dan agak terpisah, ada sebuah Gua besar .


Suasana di sekitar tempat itu, yang terasa sangat sejuk dan segar rileks tenang dan nyaman.


Membuat Nan Thian dan Kim Kim sangat kagum dan merasa betah di sana.


Di saat mereka sedang asyik melihat lihat dan menikmati pemandangan sekitar.


Tiba tiba terdengar sebuah suara.dari balik Gua besar di sebelah ujung sana.


"Anak muda,.. bila kalian berdua ada keperluan dengan ku, seorang kakek tua tanpa nama ini.


"Kalian kemarilah langsung, jangan hiraukan ke 36 gua kecil itu."


"Kemarilah..jangan sungkan"


ucap suara kakek itu,


Mengundang mereka berdua datang ketempatnya dengan sangat ramah.


Nan Thian dan Kim Kim buru buru melayang kearah gua paling ujung dan paling besar itu.


"Salam hormat dari kami senior Wu Ming Lau Jen, nama ku Yue Nan Thian, sedangkan dia ini sahabat ku, namanya Kim Kim."


ucap Nan Thian sambil mengajak Kim Kim, ikut berlutut dengan nya, di depan pintu gua besar itu.


"Anak muda kalian berdua kemarilah, tak perlu peradatan.."


"Kita bisa bertemu di sini, itulah yang namanya jodoh.."


"Sama seperti aku dulu bertemu dengan Fei Yang.."


"Apa hubungan mu dengan Fei Yang anak muda..?"

__ADS_1


"Apa yang sedang kamu cari, sehingga mau menempuh perjalanan, yang jauh sulit dan sukar, hingga bisa datang kemari.?"


__ADS_2