PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PENJELASAN KANDUNGAN RACUN UNGU


__ADS_3

Tabib Hua mengangkat kuali hitam besar nya kesamping tungku, lalu dia memindahkan sayuran yang di masak nya ke piring.


Dia menggunakan sapu kecil membersihkan dan mencuci kualinya.


Setelah itu kuali di kembalikan keatas tungku,. dengan menggunakan sebuah kain lap putih, tabib Hua mengelap kuali hitamnya hingga kering.


Lalu dia mundur kesamping dan berkata,


"Silahkan..."


Fei Yang mengangguk, lalu dengan lincah dia menyambar golok, memutarnya di tangan, sehingga golok yang basah menjadi kering.


Lalu dengan kecepatan tinggi, dia mulai memotong bahan bahan yang diperlukan buat memasak.


Fei Yang menyiapkan semuanya dengan gerakan sangat cepat, dan menakjubkan.


Tabib Hua sampai bengong, dia seperti sedang melihat pemain akrobat, sedang menunjukkan kebolehannya.


Setelah persiapan bahan selesai, sambil menunggu kuali dan minyak menyatu panasnya.


Sehingga saat memasak masakan tidak lengket di kuali.


Fei Yang mulai memasukkan cacahan bawang, daging, tomat, lalu dia mencampurkannya dengan 3 butir telur yang dipecahkan kedalam mangkuk.


Fei Yang lalu memasukkan garam dan sedikit gula, pengganti penyedap rasa dan kembali dikocok hingga merata.


Kemudian Fei Yang menuangkan mangkok berisi campuran bahan masakan, yang Fei Yang siapkan tadi, kedalam kuali yang minyak dan kuali panasnya sudah merata.


Begitu bahan masakan masuk terdengar bunyi Cess,..! dari kuali hitam di hadapan Fei Yang.


Telur kocok itu pun langsung mengembang besar, berwarna keemasan.


Dengan menggoyangkan kualinya, dengan sekali hentak, telur dadar di kuali Fei Yang melayang keudara.


Lalu terjatuh kembali kedalam kuali, dalam posisi membalik, bagian bawah berpindah keatas.


Suara Cess..! kembali terdengar dari arah kuali Fei Yang.


Tak lama kemudian dengan satu hentakan telur dadar itu sudah berpindah ke piring kosong di sebelah Fei Yang.


Tabib Hua menatap bengong hingga menelan ludahnya sendiri.


Tanpa sadar, karena sudah tidak sanggup menahan diri, tidak kuat mencium wangi masakan Fei Yang.


Tabib Hua mengulurkan sepasang sumpitnya ingin mencicipi masakan Fei Yang.


Tapi gerakan tangannya ditahan oleh Fei Yang, yang sedang melanjutkan memasak saus untuk telur dadar tadi.


"Tahan sebentar tabib Hua, sebentar lagi selesai."


ucap Fei Yang tanpa menoleh.


Tabib Hua menjadi merah wajahnya, karena aksinya ketahuan oleh Fei Yang.

__ADS_1


Dia terpaksa menarik kembali tangannya, sambil menelan ludahnya sendiri hingga berbunyi, "glekkk...!"


Fei Yang tanpa memperdulikan reaksi tabib Hua, dia kini menggunakan sendok sup, mengambil saus merah yang dia masak.


Lalu dia siramkan keatas telur dadar yang di masaknya tadi.


Setelah itu Fei Yang melambaikan tangannya, kearah cucu tabib Hua yang berdiri tidak jauh dari pintu belakang pondok tempat tinggalnya.


Mendapatkan lambaian tangan Fei Yang, anak laki laki 8 tahunan itu. Dengan gembira berlari mendekat kearah Fei Yang.


Fei Yang memberikan sepasang sumpit dan sendok pada anak itu dan berkata,


"Adik kecil, siapa nama mu ? maukah kamu bantu kakak mencicipi masakan ini cocok tidak dengan selera mu ?"


Anak kecil itu mengangguk cepat dan berkata,


"Nama ku Hua Lung,.. "


Lalu dia dengan penuh antusias dan gembira menerima sendok dan sumpit Fei Yang, dia buru-buru bergerak mencicipi masakan Fei Yang.


Cucu dan kakek itu seolah-olah berlomba-lomba mencicipi.masakan Fei Yang.


Bisa di bilang mereka bukan lagi mencicip, tapi mereka makan beneran dengan lahap.


Sebentar saja sepiring masakan Fei Yang, lenyap kedalam perut mereka berdua.


Fei Yang sendiri terus melanjutkan memasak beberapa macam jenis sayuran.


Dia juga mengubur seekor ayam yang dibungkus daun dan beberapa butir ubi,.disebuah lubang yang di galinya, di bawah tungku api.


"jadi bagaimana tabib Hua ? apa sudah bisa di mulai..? jangan terlalu kenyang nanti malah ngantuk.."


Mendengar ucapan Fei Yang wajah Tabib Hua menjadi merah padam.


"Kamu tidak perlu khawatir, asalkan kamu terus masak selama sebulan untuk ku..."


"Aku jamin teman mu pasti bisa melihat kembali.."


Biksu Wu Neng dan Hong Yi berusaha menahan diri, untuk tidak tertawa melihat sikap Tabib Hua yang lucu.


Mendengar jawaban tabib Hua, Fei Yang pun tersenyum senang.


Dengan penuh semangat, Fei Yang menyajikan beberapa macam kreasi masakan nya di atas meja.


Tabib Hua dan cucunya terlihat sangat menikmati masakan terakhir Fei Yang, yang berupa seekor ayam yang di bungkus di dalam daun, dengan berbagai macam bumbu yang di satukan di dalam nya.


Ayam ini tadi diletakkan di dalam lubang di bawah tungku api.


Sedangkan Hong Yi biksu Wu Neng dan Fei Yang, mereka hanya makan nasi ubi bakar dan beberapa macam sayuran yang Fei Yang masak saja.


Selesai makan tabib Hua, dengan teliti dan serius di bantu oleh cucunya Hua Lung, mulai memeriksa kondisi mata Hong Yi.


Selesai melakukan pemeriksaan, tabib Hua menghela nafas panjang dan berkata,

__ADS_1


"Bila cepat kemari, mungkin bisa lebih mudah di sembuhkan.."


"Tapi berhubung racunnya sudah menyebar keseluruh syaraf mata."


"Paling cepat membutuhkan waktu 3 bulan, itu pun dengan catatan ada contoh racun yang melukai matanya.."


Mendengar hal itu, Fei Yang buru buru mengeluarkan bungkusan berisi bubuk racun ungu milik Ce Chi.


Dan berkata,


"Ini contohnya tabib,.. tolong di bantu cek."


Tabib Hua melihat menyentuh,.dan menciumnya sedikit, lalu berkata,


"Ini adalah racun yang sangat langka dan ganas,."


"Racun ini terdiri dari beberapa macam campuran racun langka, yang di jadikan menjadi satu."


Tabib Hua Sin memperhatikan racun itu cukup lama kemudian berkata,


"Aku akan mencobanya semampu ku, aku tidak berani menjamin matanya bisa pulih 100% seperti semula.."


"Tapi setidaknya, mungkin dia bisa pulih 80% "


"Kecuali..."


ucap tabib Hua Sin termenung."


"Tapi dia lalu menggeleng kan kepalanya dan berkata,


"Tapi itu mustahil..lebih baik lupakan saja.."


Melihat reaksi tabib itu, Fei Yang pun berkata,


"Tolong ceritakan dengan lebih jelas Tabib Hua.."


Tabib Hua Sin menghela nafas, lalu sambil menatap Fei Yang dia berkata,


"Racun yang terkandung di dalam bubuk ungu itu adalah racun ular mas dari gurun barat, racun kalajengking biru gurun Gobi, Kodok salju pegunungan Altai, Racun naga hitam dari puncak Chomolungma dan terakhir adalah racun teratai iblis di puncak Khanchenjunga.


"Semua racun ini adalah racun langka, yang sangat sulit di cari penawar nya.."


"Jadi saran ku sebaiknya lupakan saja.."


"Aku berjanji akan berusaha sekuat tenaga menyebutkan nya, meski tidak bisa melihat dengan jelas seperti asal,. setidaknya dia bisa kembali melihat."


ucap Tabib Hua Sin menutup penjelasannya.


Tapi Fei Yang terlihat masih penasaran dan berkata,


"Tabib Hua aku ingin tahu, apa semua racun itu punya penawarnya ?"


Tabib Hua mengangguk dan berkata,

__ADS_1


"Tentu saja ada, hanya saja cara memperolehnya sangat sulit dan penuh resiko.."


__ADS_2