
Kakek itu, kini berhenti.tertawa.
Wajahnya terlihat jauh lebih serius sekarang.
Dengan mengacungkan jari telunjuk dan tengah kearah langit, sambil berteriak,
"Pedang surgawi,..! Turun,..!"
Awan dan langit menyibak terbuka, menampilkan ruang kosong gelap gulita di luar angkasa.
Sebatang pedang besar bergerak turun dari atas sana, untuk menyambut serangan naga merah dan biru yang melesat kearah kakek itu.
Pedang besar itu turun, tepat menghadang pergerakan serangan Naga merah dan biru.
Pedang itu mengeluarkan cahaya lembut, yang menjadi pelindung meredam keganasan serangan Naga merah dan biru itu.
Naga merah dan biru tertahan, tidak mampu menembus cahaya pelindung, yang di pancarkan oleh pedang besar tersebut.
Sedangkan di dekat Fei Yang,
9 pedang unik begitu bertemu serangan Naga merah dan biru yang Fei Yang lepaskan.
9 pedang unik itu langsung terpental kembali kearah kakek itu.
Kakek itu memutar kedua jari tangannya, sehingga pedang raksasa itu kini berputar arah.
Bagian mata pedangnya tertuju kearah Fei Yang, mengikuti arah telunjuk kakek tua itu yang ditarik mundur sedikit lalu didorongkan kedepan.
Pedang besar itu melesat menabrak Serangan Naga merah biru yang Fei Yang lepaskan dan sedang tertahan itu.
Kedua Naga merah biru itu, tidak sanggup menahan kekuatan besar dan ketajaman energi pedang, yang sangat kuat terpancar dari pedang raksasa itu.
Sehingga Naga merah biru meledak hancur menjadi bayangan cahaya merah biru, yang membias kemana mana.
Pedang raksasa itu kini di dahului oleh ke 9 pedang unik, kembali melesat kearah Fei Yang.
Sesuai kontrol tenaga kontrol jarak jauh yang di mainkan oleh kakek itu.
Fei Yang dari jarak jauh begitu melihat serangannya gagal, di ledakkan oleh pedang dari langit itu.
Di langsung merentangkan kedua tangannya kesamping berputaran di udara menghisap kembali seluruh kekuatan yang dia lepaskan.
Ke 18 Naga merah biru dan bias energi merah biru yang telah di ledakkan oleh pedang itu.
Kini semua tersedot kembali kedalam tubuh Fei Yang.
Ke 9 pedang unik, setelah tiba di dekat Fei Yang, seluruh energi yang berasal dari roh pedang di dalam tubuh ke 9 pedang itu.
Semuanya ikut tersedot kedalam tubuh Fei Yang, hingga hanya tersisa 9 pedang besi dan kayu rongsok tak berguna.
Langsung terjatuh tenggelam kedalam kolam di bawah Fei Yang.
__ADS_1
Tindakan Fei Yang membuat kakek itu wajahnya sedikit pucat, dia segera mengangkat tangannya yang lain.
Untuk ditempelkan di lengan kanannya, yang sedang mengontrol pedang besar yang turun dari langit itu.
Sehingga muncul tenaga dorongan yang jauh lebih besar dan kuat.
Cahaya keemasan yang membungkus pedang raksasa itu, kini bersinar semakin terang.
Daya tekan ketajamannya juga semakin besar dan kuat.
Tapi semua itu terhenti diudara, saat Fei Yang menghentakkan energinya dengan mendorongkan kedua tangannya kedepan sambil berteriak,
"Hiaaahh,..!!"
Sebuah cahaya merah biru berbentuk Pat Kwa, melesat kedepan menahan serangan Pedang raksasa tersebut.
Pat Kwa merah biru terus menekan Pedang raksasa, yang terlihat bergetar hebat.
Hingga akhirnya meledak hancur berkeping-keping, tidak sanggup menahan tekanan Pat Kwa merah biru, yang Fei Yang lepaskan.
Setelah meledakkan pedang raksasa kakek itu, Pat Kwa merah biru berubah menjadi dua sinar cahaya merah biru yang saling membelit jadi satu.
Dengan bagian paling depan, membentuk moncong Naga merah biru, yang sedang terpentang lebar, menerjang kearah kakek itu.
Kakek itu sendiri setelah pedang langitnya hancur, dia menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar pasrah.
Menghadapi terjangan serangan Fei Yang yang sedang bergerak menghampirinya.
Begitu serangan Fei Yang tiba dan bersentuhan dengan ujung kedua jari kakek itu yang mengeluarkan cahaya emas.
"Bangggg,...!'
Tubuh kakek itu terpental kebelakang bagaikan layangan putus, dengan mulut menyemburkan darah segar, dan lengan sebatas siku hancur tak bersisa.
Untungnya Fei Yang masih keburu menarik serangannya kembali, setelah dia melihat kakek itu terpental tak berdaya lagi.
Sehingga meski terluka cukup parah dan kehilangan lengan kanan sebatas siku, nyawa kakek itu masih bisa tertolong.
Fei Yang menghilang dari posisi, muncul lagi menyambut tubuh kakek itu, dengan gerakkan cepat Fei Yang memasukan 2 butir pil pemberian tabib Hua kedalam mulut kakek itu.
Setelah itu Fei Yang membantu memberikan beberapa totokan ke lengan kakek tersebut, untuk membantu menghentikan pendarahan di lengan kakek tersebut.
"Terimakasih anak muda, jadi merepotkan mu.."
"Akhirnya kamu berhasil memenuhi.harapan ku, memuaskan keinginan terakhir ku, mencicipi gimana rasanya kalah.."
"Puas,..! aku sungguh benar benar terpuaskan.!"
"Ha,..ha,..Ha,..ha,..Ha,..ha,..!'
"Uhuk,..Uhuk,..Uhuk,..Uhuk,..!"
__ADS_1
Kakek itu tertawa puas, hingga terbatuk batuk.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Senior,.. jaga kondisi mu, jangan tertawa berlebihan.."
"Cepatlah senior melakukan pengendalian tenaga sakti, mengobati luka luka senior.."
Kakek itu mengangguk sambil tersenyum lebar, dia lalu mengambil posisi duduk bersila dan memejamkan matanya.
Melakukan pengendalian tenaga sakti sambil tersenyum puas.
Fei Yang menghela nafas panjang, sebelum bergerak mencari sendiri jalan menuju lembah kebahagian.
"Anak muda di bagian paling ujung kanan di balik air terjun ada gua, itu adalah jalan satu satunya menuju tempat yang kamu cari."
"Berhati hati lah, bila bertemu pasangan pendekar yang merupakan majikan ku, sekaligus majikan lembah kebahagiaan."
ucap kakek itu memberi nasehat dan petunjuk, dengan sepasang mata terpejam.
Mendengar ucapan kakek itu, Fei Yang sangat terkejut.
Kakek didepannya ini saja, sudah memiliki tingkat kesaktian begitu tinggi.
Bagaimana dengan kesaktian pasangan pendekar yang menjadi majikan dari kakek itu.?
Tentu akan sulit sekali mengukur kemampuan pasangan pendekar itu.
Rasa kaget, cemas dan penasaran menyelimuti seluruh perasaan Fei Yang.
Sambil melangkah menuju air terjun di ujung kanan tebing batu, Fei Yang memberi kode agar, Yue Feng dan Hong Yi menyusulnya.
Memasuki gua di balik air terjun tersebut.
Sambil melayang ringan, Fei Yang pun sudah menghilang ke balik air terjun.
Hong Yi dan Yue Feng juga bergerak menyusul di belakang Fei Yang, ikut melayang masuk kebalik air terjun.
Fei Yang menunggu hingga kedua rekannya, menyusul kedalam.
Dia baru melanjutkan perjalanan nya, menelusuri gua tersebut.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka keluar dari mulut gua tersebut.
Keluar dari mulut gua, mereka langsung di suguhi pemandangan yang sangat menakjubkan.
Fei Yang melayang ringan terbang menuju daratan, sedangkan Yue Feng dan Hong Yi berlompatan ringan dari batu ke batu menyusul Fei Yang ketepi sungai.
Setelah kedua rekannya tiba disampingnya, Fei Yang baru melangkah melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
"Anak muda apa tujuan mu, datang kemari,..!?"
tanya sebuah suara yang berasal dari balik rerimbunan pohon