
Nan Thian dan Kim Kim melayang layang ringan di atas kubah yang melindungi sebuah kota yang terletak di dasar lautan.
Nan Thian bisa saja menghancurkan kubah itu dengan pedang Mestika Panca Warna milik pamannya.
Tapi dia tidak melakukan nya, karena kasihan dengan penghuni yang tinggal di dalam kubah mirip gelembung raksasa tersebut.
"Kim Kim kirimkan telepati ke Gong Gong agar keluar dari persembunyiannya.."
"Bila tidak jangan salahkan aku, bila kubah ini ku hancurkan.."
ucap Nan Thian lewat pikirannya yang terhubung dengan Kim Kim.
Kim Kim mengangguk, lalu dia mulai mengirimkan pesan suara ke dewa air Gong Gong.
Setelah pesan suara terkirim, tak perlu menunggu waktu lama, sesosok manusia berambut merah berekor Naga, melesat keluar dari dalam kubah perisai istana bawah laut.
Gong Gong melayang di hadapan Nan Thian dan Kim Kim, lalu dia berkomunikasi dengan Nan Thian sekaligus Kim Kim.
Rupanya mahluk ini memiliki kemampuan telepati dan mampu bicara seperti manusia.
"Apa yang kalian ingin kan dari ku,? hingga mencari sampai kemari..?"
ucap Gong Gong lewat pikiran sambil menatap tajam kearah Nan Thian dan Kim Kim secara bergantian.
Nan Thian tersenyum tenang dan berkata,
"Berikan Batu Inti Es Surgawi pada ku, maka urusan diantara kita di anggap selesai.."
Gong Gong menjengek dingin dan berkata,
"Anak muda, apa kamu tahu apa arti Batu Inti Es Surgawi untuk ku..?"
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Aku tidak tahu, dan aku tidak perlu tahu itu bukan urusan ku.."
Gong Gong tersenyum dingin dan berkata,
"Baik, kelihatannya pertarungan hari ini tidak akan terelakkan.."
"Kamu tidak mau tahu aku juga tidak perlu banyak bicara ."
"Kalian ingin bertarung, ikutlah dengan ku.."
__ADS_1
ucap Gong Gong lalu dia melesat meninggalkan tempat itu.
Gong Gong melesat menuju sebuah hamparan dasar laut luas, dia terus bergerak menuju sebuah area yang di tandai dengan dua buah pintu gapura raksasa.
Gong Gong melesat masuk kedalam pintu gapura, yang bagian dalamnya, terlihat mengeluarkan cahaya merah bening, mirip sebuah cermin besar bergelombang..
Nan Thian dan Kim Kim tanpa ragu mengikutinya masuk kedalam.
Melewati gerbang itu mereka tiba di suatu tempat luas berbentuk lingkaran.
Tempat itu Mirip sebuah arena pertarungan, di sekitar pinggiran arena terlihat ada rupa rupa patung mahluk laut setengah manusia yang aneh aneh, juga ada batu batu besar yang mengeluarkan cahaya biru.
Semua benda itu di susun mirip sebuah formasi.
Nan Thian menebak susunan patung dan batu itu, kemungkinan adalah formasi untuk melindungi area di sekeliling arena, yang terlihat di kelilingi oleh tempat duduk berundak keatas, mirip anak tangga berbentuk lingkaran yang mengelilingi arena.
Dari atas arena tersebut terlihat tidak terlalu besar, Gong Gong terlihat sudah menanti mereka di tengah tengah arena.
"Kakak aku masuk kedalam tubuh mu saja, siapa tahu di perlukan."
ucap Kim Kim setengah berbisik.
Nan Thian mengangguk, lalu dia membuka mulutnya, tubuh Nan Thian di kelilingi oleh gelembung panca warna.
Begitu mulut Nan Thian terbuka, Kim Kim yang berubah menjadi seekor cacing kecil langsung menyelinap masuk.
Dia langsung kembali kedalam Dan Tian milik Nan Thian, bergabung di dalam sana dengan batu kristal panca warna yang juga ada di dalam lautan Dan Tian milik Nan Thian.
Kim Kim merasa Dan Tian milik Nan Thian kini sangat nyaman, seolah olah ada energi alam murni yang tidak putus putus.
Diam diam Kim Kim kagum dengan keberuntungan sahabatnya ini, bisa memperoleh benda langka yang tiada dua nya ini.
Nan Thian setelah merasakan Kim Kim sudah bergabung kembali kedalam Dan Tian nya, dia langsung melesat masuk kedalam arena.
Begitu mendarat ditengah arena, berhadap hadapan dengan Gong Gong.
Nan Thian baru merasakan, ternyata arena yang dari luar terlihat kecil.
Di dalam sana ternyata sangat luas, selain itu pinggiran dan bagian atas arena terlihat tertutup oleh cahaya biru tipis.
Nan Thian menebak kemungkinan itu adalah pelindung, agar saat mereka bertanding nanti
Kekuatan mereka tidak sampai menimbulkan kerusakan di alam sekitarnya.
__ADS_1
Nan Thian juga melihat kini di tempat duduk kosong mulai bermunculan, manusia dan mahluk mahluk aneh bawah laut dengan berbagai ragam bentuk dan rupa.
Mereka hadir sebagai tamu untuk menjadi saksi pertarungan yang akan segera berlangsung.
Bila yang hadir di sana adalah Fei Yang atau Lu Sun tentu mereka akan banyak mengenali di antara tamu tamu yang hadir banyak dewa tingkat tinggi.
Nan Thian hanya mengenali beberapa diantaranya, di mana penampilan mereka mirip dengan lukisan dan patung, yang di sembah oleh masyarakat luas.
Di sana hadir Dewi Kwan Im, Buddha Amitabha, Kaisar dan Ratu langit, di ikuti oleh putri putri mereka yang cantik jelita.
Dewa er Lang, 4 raja langit, dewa pagoda, Na Cha, 8 dewa, Dewa Tai Pai, Dewa Yue Lau, Dewi Chang er, dan masih banyak dewa Dewi lain nya.
Bahkan tiga Dewa Agung Yu Se Thian Cun, Ling Bao Thian Cun, dan Thai Sang Lao Cin juga terlihat hadir.
Di sebuah pojok sendiri, Nan Thian juga melihat hadir sesosok kera berbulu emas, yang berpakaian baju zirah perang emas, sambil memanggul sebilah tongkat emas di punggung.
Kera itu terlihat bersikap santai tidak ambil perduli.
Tapi dari seluruh tubuhnya memancarkan cahaya aura emas yang kuat.
Begitu pula dengan sepasang matanya yang bersinar keemasan, juga sikap sungkan yang di tunjukkan oleh dewa Dewi lain padanya.
Menunjukkan kera itu bukan kera sembarangan.
Nan Thian sewaktu kecil pernah baca tentang kera sakti yang mengacaukan Kahyangan ribuan tahun silam.
Mungkinkah ini sosok mahluk legenda tersebut.
batin Nan Thian di dalam hati.
Di bawah tontonan begitu banyak Dewa Dewi, Nan Thian pun tidak ingin bersikap sungkan lagi dengan Dewa air.
Dia langsung mengeluarkan pedang Mestika Panca Warna nya.
Nan Thian sudah bersiap mengeluarkan ilmu pedang Tanpa Nama untuk menahlukkan Dewa air Gong Gong.
Seluruh tubuh Nan Thian mulai memancarkan cahaya Panca Warna dan kemilau keemasan yang merupakan tenaga dukungan dari Kim Kim.
Dewa air yang merasakan ada tekanan kuat, dia juga tidak mau kalah pamor di bawah tontonan banyak dewa, baik atasan maupun rekannya.
Sebenarnya para dewa ini hadir bukan khusus untuk menonton pertandingan ini.
Mereka hadir karena dewa air kebagian sebagai panitia penyelenggara, tuan rumah yang menyediakan tempat untuk acara rapat setiap 100 tahun sekali.
__ADS_1
Tapi dengan adanya kedatangan tantangan dari Nan Thian, kini berubah menjadi acara menonton Dewa air melawan Nan Thian.