PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
AYAH XUE LIAN DALAM BAHAYA


__ADS_3

"Lepaskan aku bangsattt,..! kamu jangan..! Auwww,..! jangan...!"


teriak Fei Hsia, berusaha meronta dan melawan.


"Nenekkkkk,..bangsat lepaskan,.. Auwww,..jangan...!"


teriak Fei Hsia semakin histeris, saat melihat neneknya di dorong oleh Sen Kung Bao hingga terjatuh.


Dia semakin histeris dan ketakutan, saat tubuhnya di panggul oleh Sen Kung Bao, yang hendak membawanya masuk kedalam pondok.


Hingga terdengar suara dari arah belakang yang berasal dari ayah Xue Lian.


Dimana Sen Kung Bao terpaksa menghentikan langkahnya menuju pondok, dia lalu menoleh kearah ayah Xue Lian dan berkata,


"Ada apa ? berani kamu merusak acara baik ku.."


"Lepaskan gadis itu,..,!"


bentak ayah Xue Lian marah.


Sen Kung Bao sambil tersenyum mengejek, menurunkan Fei Hsia dari pondong nya di halaman depan pondok.


Dia lalu menotok jalan darah Fei Hsia dan berkata,


"Tunggu aku di sini manis, setelah aku membereskan nya, aku akan kembali menemani mu..."


Fei Hsia sedikit bisa bernafas lega sekarang, tapi kini dia menatap kearah ayah Xue Lian dengan penuh kekhawatiran.


Ayah Xue Lian sebenarnya secara diam diam berhasil melepaskan hampir 50% segel yang mengunci kekuatannya.


Sehingga kekuatan nya baru pulih 40%, sebenarnya dia ingin merahasiakan hal ini, sambil menunggu dan mencari kesempatan.


Hingga dia pulih 100%, di mana saat majikan lembah sedang lengah, dia berencana akan membawa istrinya kabur dari tempat ini.


Tapi semua rencana itu terpaksa di batalkan, jiwa pendekar nya.


Melarang dirinya berpangku tangan melihat Fei Hsia di lecehkan oleh Sen Kung Bao, di depan matanya.


Tidak ada pilihan lain, dia terpaksa mempertaruhkan nyawanya, meski hari ini dia harus mati.


Setidaknya keributan ini akan memancing pemilik lembah datang.


Dengan demikian meski akhirnya harus mati setidaknya, dia berhasil menyelamatkan Fei Hsia, gadis muda yang di perkirakan hampir seusia dengan putrinya.


Setiap melihat gadis itu, ayah Xue Lian akan selalu teringat, dan merasa seperti sedang melihat putrinya sendiri.


Begitu pula dengan ibunya Xue Lian, dia juga merasakan hal yang sama seperti suaminya.


Dia yang tadinya sedikit ketakutan, kini melihat suaminya sudah maju.


Dia pun ikut maju, paling paling mati pikirnya.


Bisa mati bersama dengan orang yang di cintai nya, dalam membela kebenaran, itu sudah lebih dari cukup, bila pun akhirnya harus mati, dia juga tidak ada yang penyesalan lagi.

__ADS_1


Mempertimbangkan hal ini, kedua suami istri itu saling pandang dengan mesra.


Mereka sama sama mengangguk dan tersenyum bahagia, siap menyambut segala kemungkinan terburuk yang mungkin terjadi.


"Kalian berdua ini, sepertinya tidak melihat peti mati kalian tidak tahu cara meneteskan air mata.."


"Baiklah bila itu keinginan kalian, aku akan merestui nya.."


ucap Sen Kung Bao sambil tersenyum sadis.


Sepasang matanya bergerak gerak liar,. menatap kearah tubuh ibu Xue Lian dengan penuh nafsu.


Melihat tatapan mata serigala kelaparan Sen Kung Bao, ibu Xue Lian menjadi jijik muak dan marah.


Dengan kekuatannya yang baru pulih 40% lebih dikit.


Dia langsung melepaskan serangan energi jari tanpa wujud.


Ayah Xue Lian juga tidak mau kalah, dia juga ikut melepaskan serangan yang sama seperti istrinya.


Sen Kung Bao yang meremehkan kemampuan kedua orang itu, dia tidak menyangka kedua orang itu menyimpan kekuatan sedahsyat itu.


Karena serangan itu tanpa wujud dan suara, Sen Kung Bao baru merasakan nya.


Saat kedua energi jari tanpa wujud itu meledak di tubuhnya, tubuh Sen Kung Bao terpental hingga menabrak pondok kediaman nenek Yang.


"Brakkkk..!"


Pondok itu meledak hancur berkeping keping tertimpa tubuh Sen Kung Bao.


kembali terdengar suara ledakan dari balik reruntuhan, di mana terlihat Sen Kung Bao dengan wajah kesal melangkah keluar dari balik reruntuhan.


Fei Hsia yang tadinya berada tidak jauh dari pondok, kini sudah di bawa oleh nenek Yang menjauh dari halaman depan pondok.


Di mana sebentar lagi akan ada pertarungan dahsyat terjadi.


"Kalian berdua sialan, rasakan ini..!"


ucap Sen Kung Bao sambil mengibaskan kebutan di tangannya, seolah olah seperti sedang mengusir lalat.


Tapi kenyataannya justru jauh berbeda, dimana hasil kibasan itu memunculkan dua angin berpusar yang sangat tajam .


Tanah yang dilewati oleh pusaran itu langsung merekah, debu pasir batu berhamburan.


Pusaran pertama melesat kearah Ibu Xue Lian, pusaran kedua yang jauh lebih besar dan kuat melesat kearah ayah Xue Lian.


Melihat hal ini, pasangan itu terpaksa mundur terbang menghindar.


Tapi pusaran itu terus menerjang mengikuti kemanapun mereka bergerak menghindar.


Ayah Ibu Xue Lian terpaksa menyerang pusaran tersebut dengan tembakan cahaya lembayung dan tembakan Sambaran petir.


"Blaarrr,..!"

__ADS_1


Terjadi ledakan yang menguncang seluruh tepi danau.


Para penghuni lembah, pada berhamburan menjauh dari tempat itu


Melihat kedua orang itu masih mampu menahan serangan kebutan nya, Sen Kung Bao menjejakkan kedua kakinya tubuhnya melayang ke udara.


Sambil terbang mengejar, dia terus menerus melepaskan serangan kebutan di tangannya secara beruntun tanpa henti.


Pasangan kedua orang tua Xue Lian, hanya bisa berusaha, sebisa mungkin mereka terbang mundur menghindari serangan dahsyat, yang melesat datang dari udara.


"Boommm,..! Boommm,..!"


"Boommm,..! Boommm,..!"


"Boommm,..! Boommm,..!"


"Boommm,..! Boommm,..!"


"Boommm,..! Boommm,..!"


Tanah yang menerima sinar putih dari kebutan Sen Kung Bao sudah rusak rusak tidak karuan.


Lembah hijau yang tadinya indah di penuhi rerumputan pendek.


Kini menjadi kacau balau berantakan semuanya, tanah merekah terlihat di mana mana.


Tidak cukup sampai di sana Sen Kung Bao sambil membaca mantra.


Dia mendorongkan sebuah lingkaran Pat Kwa raksasa, bergerak mengurung pergerakan kedua orang tua Xue Lian, yang terlihat sedang terdesak hebat.


Lingkaran Pat Kwa itu terbang keatas kepala kedua orang tua Xue Lian.


Dari atas sana lingkaran Pat Kwa mengeluarkan aura menekan membatasi pergerakan kedua orang tua Xue Lian.


Melihat hal ini sambil tersenyum sadis, Sen Kung Bao memunculkan sebatang pedang bergambar Pat Kwa di tengah tengah gagang pedang nya.


"Mampuslah kau lelaki tak berguna..!"


"Sisakan dia untuk ku..Ha,..ha,..ha,,..!"


ucap Sen Kung Bao.


Sambil menggunakan kebutaan nya yang mengeluarkan cahaya putih, memaksa ibu Xue Lian menjauh dari suaminya.


Selanjutnya Sen Kung Bao melepaskan pedang Pat Kwa nya terbang di udara membelah diri menjadi tujuh.


Satu persatu melesat menjadi pedang terbang, berseliweran menerjang dan menyerang ayah Xue Lian.


Ibu Xue Lian tidak bisa berbuat apa-apa menolong suaminya, karena dia di paksa mundur oleh kibasan kebutan, Sen Kung Bao.


Sedangkan ayah Xue Lian harus berlompatan kesana kemari menggunakan langkah ajaib, berusaha meloloskan diri dari pengepungan ke tujuh pedang itu.


Tiba-tiba ke tujuh pedang itu masing masih membelah diri menjadi 7.

__ADS_1


Sehingga kini muncullah 7 lapis pedang berputaran mengurung ayah Xue Lian.


__ADS_2