
"Oeeekkk...!" "Oeeekkk...!"
"Oeeekkk...!" "Oeeekkk...!"
"Oeeekkk...!" "Oeeekkk...!"
Suara tangis bayi itu, menyadarkan Fei Yang yang sedang melamun, sambil menceritakan semua nya kepada Nan Thian.
Nan Thian menatap paman Fei Yang nya dengan tatapan mata penuh simpati dan kasihan.
Di dalam hati Nan Thian sudah memutuskan suatu hari nanti dia pasti akan mengusir para tiran penjajah Mongolia itu dari daratan tengah.
Darah Yue Fei milik kakeknya seorang patriot besar bergolak di dalam dada.
Dia tidak rela negerinya di jajah oleh kaum tiran dan bar bar itu, Nan Thian berjanji dalam hati.
Dia suatu hari pasti akan mengusir mereka kembali ke Padang stepa, di luar Yue Men Kuan.
Tapi saat ini yang terpenting bagaimana dia bisa keluar dari tempat ini.
Pergi mencari bantuan orang yang bisa mengobati racun di dalam tubuh pamannya, juga mengobati penyakit bibinya.
Fei Yang sambil tersenyum pahit berkata,
"Fei Yung dan Fei Lung sedang menangis mungkin mereka sudah lapar."
"Ayo kamu bantu paman, sekaligus kamu bisa menjenguk bibi mu di dalam.."
Fei Yang selesai berkata langsung buru buru melangkah kedalam kamar nya.
Nan Thian hanya mengangguk kecil menanggapi ajakan pamannya.
Dia berjalan mengikuti Fei Yang masuk kedalam kamarnya yang bersih rapi dan wangi.
Di dalam kamar tersebut terlihat ada sebuah ranjang sederhana dan kosong.
Tidak jauh dari sana ada dua buah ayunan keranjang bayi, asal suara tangisan keras berasal dari sana.
Nan Thian melihat pamannya buru buru menghampiri salah satu keranjang dengan hati hati dia memeriksa bayi yang sedang menangis itu.
"Ohh sayang kamu ngompol ya ? cup cup cup jangan menangis sayang.."
"Biar ayah gantikan popok yang baru ya..? tenanglah.."
ucap Fei Yang lembut.
Kemudian dengan cekatan, Fei Yang melepaskan popok anaknya dan membantunya berganti dengan popok baru.
Fei Yung bayi kecil itu, seperti mengerti, dia diam menatap kearah ayahnya dengan sepasang bola matanya yang biru dan jeli.
Bayi itu sudah berhenti menangis, dia hanya terus menatap kearah wajah ayahnya dengan tatapan mata polos tanpa dosa.
Nan Thian yang melihatnya sangat kagum, dia ikut tersenyum menonton dari arah belakang.
Nan Thian diam diam sangat bersimpati, juga kagum dengan gerak gerik pamannya, yang terlihat cekatan dalam mengerjakan sesuatu, yang jarang ada pria mampu atau bersedia melakukan nya.
Nan Thian berpikir bila dia di posisi pamannya, belum tentu dia sanggup mengurus semuanya.
Sekilas Nan Thian ada melihat bibinya sendiri, sedang duduk di sebuah kursi santai, yang menghadap ke arah jendela.
Dia terlihat duduk diam tidak bergerak, tatapan matanya terlihat kosong.
Wajahnya yang sangat cantik seperti bidadari dari kahyangan, terlihat kurus dan pucat.
Melihat sekilas dan mendengar cerita pamannya tadi, kelihatannya bibinya mengalami kelumpuhan, sekaligus kehilangan penglihatan dan kemampuan berbicaranya.
Fei Yang selesai membereskan Fei Yung, dia baru berpindah ke Fei Lung putranya yang lain..
"Ha..ha..ha .Fei Lung kamu bukan hanya pipis, kamu malah beri ayah bonus ."
"Ya sudah cup cup cup jangan nangis lagi, ayah akan bantu bersihkan.."
ucap Fei Yang lembut, sambil mengganti popoknya, Fei Lung yang ada pipis bercampur kotorannya.
Nan Thian terus memperhatikan dengan kagum gerak gerik pamannya.
Setelah beres Fei Yang terlihat menggendong Fei Lung keluar dari tempat tidurnya.
Dia lalu menyodorkan Fei Lung ke Nan Thian dan berkata,
"Nan Thian kamu bantu paman gendong Fei Lung sebentar.."
"Paman mau bersihkan tempat tidurnya sebentar.."
ucap Fei Yang.
Nan Thian menerima dan menggendong bayi lucu yang terus menatap kearah dirinya dengan sepasang bola mata yang berwarna kebiruan.
Fei Lung tidak menangis dalam gendongan Nan Thian, dia hanya terus menerus menatap kearah wajah Nan Thian.
Sesaat kemudian Fei Yang juga terlihat menggendong Fei Yung putranya yang lain dan berkata,
"Nan Thian ayo kita temui bibi mu sebentar.."
Nan Thian mengangguk, lalu dia mengikuti Fei Yang menghampiri Xue Lian yang sedang duduk menghadap kearah jendela.
Fei Yang berlutut di samping kursi santai istrinya dan berkata,
"Lian Mei kita kedatangan tamu tak terduga, namanya Nan Thian.."
"Dia putranya Ye Hong Yi dan Yue Fei, kamu pernah mengenal mereka saat pernikahan kita dulu.."
ucap Fei Yang lembut mencoba mengingatkan Xue Lian.
Xue Lian terlihat memiringkan sedikit kepalanya merespon ucapan suaminya barusan.
"Bibi terimalah salam hormat dari Nan Thian,.."
ucap Nan Thian sambil ikut berlutut di sisi Fei Yang.
Xue Lian menoleh sedikit kearah Nan Thian, dengan tatapan matanya yang kosong.
Dia mengangguk kecil merespon ucapan salam hormat dari Nan Thian.
Setelah itu dia pun menoleh kembali kearah suaminya sambil tersenyum tipis.
"Sayang kamu santai lah sejenak di sini, aku dan Nan Thian mau pergi memberi Fei Yung dan Fei Lung makan.
"Nanti selesai aku baru kemari lagi."
__ADS_1
ucap Fei Yang lembut, sambil bergerak maju mencium kening istrinya dengan lembut.
Nan Thian melihat Xue Lian memejamkan matanya sambil tersenyum sedih.
Dari sudut matanya yang tertutup, terlihat mengalir dua titik air bening.
Melihat keadaan mereka, Nan Thian tidak kuat melihat nya, hatinya terasa terenyuh karena nya.
Nan Thian buru buru memalingkan wajahnya kesamping dan agak sedikit menengadah keatas.
Menghindari airmata nya yang hampir runtuh.
Dengan suara sedikit serak Nan Thian berkata pelan,
"Paman bibi, aku dan Fei Lung tunggu di depan."
Selesai berkata, Nan Thian buru buru melangkah keluar dari dalam kamar tersebut.
Sambil menghapus dua butir air bening di matanya yang tak tertahankan lagi.
Setelah itu sambil mengeraskan rahangnya, Nan Thian menggendong Fei Lung keluar dari dalam pondok.
Tapi baru saja Nan Thian keluar dari dalam pondok, terlihat Siau Huo berdiri di depan halaman pondok.
Seluruh tubuhnya di selimuti api yang berkobar kobar.
Dia menatap tajam kearah Nan Thian dengan geram.
Berulang kali dia memamerkan taring nya sambil menggereng pelan.
Tapi Siau Huo tidak berani bergerak menyerang Nan Thian dia terlihat ragu karena Nan Thian menggendong Fei Lung di tangannya.
Nan Thian juga kaget melihat kehadiran Siau Huo di hadapannya.
Untung nya semua tidak berlangsung lama, karena Fei Yang yang sedang menggendong Fei Yung, terlihat sudah keluar dari dalam pondoknya.
"Siau Huo,.. kenalkan, dia keponakan ku masih orang sendiri.."
ucap Fei Yang sambil berjalan maju mengelus ngelus kepala kucing besar itu.
Secara otomatis api yang menyelimuti Siau Huo, langsung lenyap begitu Fei Yang mendekatinya.
Fei Yang menoleh kearah Nan Thian dan berkata,
"Nan Thian kemarilah, jangan ragu.."
Nan Thian mengangguk, lalu melangkah menghampiri Siau Huo.
"Sebelum nya bila ada kesalahpahaman, harap maklum."
"Siau Huo hanya menjalankan tugas melindungi kami.."
ucap Fei Yang sambil tersenyum dan terus membelai kepala Siau Huo.
"Ulurkan tanganmu jangan khawatir, Siau Huo jinak tenang saja.."
"Asal kamu tulus, dia pun tulus.."
"Cobalah.."
Bujuk Fei Yang meyakinkan Nan Thian.
Siau Huo terlihat diam saja, jadi Nan Thian pun memberanikan diri untuk lebih dekat dan membelainya dengan lembut.
Tiba-tiba Nan Thian terkejut, saat telinganya mendengar suara bisikan dari Siau Huo.
"Aku akan mengawasi mu, bila kamu berani berniat buruk pada sahabat ku dan keluarganya, aku tidak akan segan segan menghabisi mu.."
Nan Thian buru buru menarik kembali tangannya dengan kaget.
"Kakak jangan kaget, kakak mampu mendengar jalan pikirannya.."
"Karena dia terkoneksi lewat aku.."
ucap Kim Kim pelan.
"Ehh kamu sudah sadar, bagaimana keadaan mu..?"
tanya Nan Thian gembira.
"Berkat keberuntungan mu, aku belum sampai mati ."
ucap Kim Kim judes.
Nan Thian tidak memperdulikan nya, dia sudah terbiasa dengan sifat Kim Kim jadi sudah gak heran.
"Paman mu itu ternyata ganteng sekali, jauh lebih ganteng dari mu.."
"Juga sangat baik dan setia.."
ucap Kim Kim tiba tiba.
"Dasar betina, kebanyakan berkhayal kamu.."
"Mau dia tampan mau dia jelek itu tidak ada urusannya dengan mu, tidak akan ada jatah mu.."
ucap Nan Thian membalas Kim Kim.
"Dasar kau,..kapan aku bilang aku menyukainya.."
"Kalau kami ras naga menyukainya, itu sudah terhitung keberuntungan besar baginya.."
"Kamu beritahu ke paman mu, air telaga dan buah persik itu mungkin bisa membantunya.."
"Aku lihat dia juga sedang keracunan, titik Thian Tu Sheng Que, Ju Que, dan Qi Hai nya sedang tidak lancar."
ucap Kim Kim.
Nan Thian sedikit gembira mendengar ucapan Kim Kim.
"Nan Thian kamu kenapa ? kamu terlihat sedang tidak fokus dan sepertinya sedang banyak pikiran.."
"Mengapa tidak cerita saja ke paman..?"
ucap Fei Yang yang segera membuat Nan Thian sadar kembali.
"Tidak apa apa paman, aku hanya sedang berpikir, aku sebelum ada di tempat ini, aku juga mengalami keracunan dari Thian Tu.."
"Tapi setelah berendam di air terjun telaga paman sana, dan makan buah persik yang banyak tumbuh di sekitarnya."
__ADS_1
"Racun ku akhirnya hilang dan bersih.."
"Bila paman mencobanya, siapa tahu bisa..?"
ucap Nan Thian memberi usul.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Pohon persik itu adalah hadiah dari Wang Mu Niang Niang, dia bisa di lihat tidak bisa di makan.."
"Sedangkan air di telaga itu, adalah mata air surga hadiah dari kaisar langit untuk ku.."
"Sewaktu menciptakan tempat ini, aku sengaja menambahkannya di sini sebagai unsur estetika saja.."
"Sebagai tubuh manusia biasa, mengkonsumsinya akan membuat tubuh ku meledak.."
"Tidak sanggup menampung energi besar surgawi yang masuk kedalam tubuh kita.."
"Kamu berhasil, aku menebak mungkin karena faktor naga emas yang ada di dalam Dan Tian mu itu, benar..?"
"Naga Emas kecil itu kemungkinan bukan berasal dari alam mana pun, yang kita kenal di semesta alam kita ."
Nan Thian terbelalak menatap Fei Yang dan berkata,
"Paman bisa melihatnya ?"
"Bagaimana bisa..?"
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Nanti aku jelaskan, sekarang lebih baik kita kenyang kan dulu dua pangeran kecil ku itu.."
"Sebelum nanti mereka berteriak marah."
Mendengar ucapan pamannya, meski penasaran.
Nan Thian pun jadi tersenyum sambil menatap kearah Fei Lung yang sedang tidur dalam gendongan nya.
"Baiklah paman Nan Thian ikut saja.."
Fei Yang tersenyum dan melangkah duluan menuju halaman belakang.
Nan Thian menyusul di belakang, Siau Huo yang bergerak paling belakang.
"Kakak paman mu yang taman itu luar biasa sekali, dia mampu melihat ku.."
"Juga mampu menebak asal usul ku, kamu harus tanyakan ke dia.."
"Mungkin dia tahu di mana keberadaan saudara sepupu ku Naga Hijau.."
ucap Kim Kim di dalam pikiran Nan Thian dengan penuh semangat.
Nan Thian mengangguk kecil menanggapi permintaan sahabatnya itu.
Fei Yang membawa Nan Thian ke halaman samping rumahnya, di mana di sana ada kebun sayuran yang di rawat oleh Fei Yang sendiri
Tidak jauh dari sana ada sebuah kandang sederhana, di dalam kandang tersebut, terlihat ada dua ekor kambing hutan, yang sedang berbaring santai.
Tapi saat melihat kedatangan Siau Huo mereka langsung bangkit berdiri dengan tubuh gemetaran ketakutan.
"Siau Huo kamu pergilah main, mereka takut dengan kehadiran mu.."
ucap Fei Yang pelan.
Siau Huo mengangguk pelan, lalu membalikkan badannya meninggalkan tempat tersebut.
Sebelum pergi, Siau Huo masih sempat memberikan tatapan penuh ancaman ke Nan Thian.
Nan Thian menanggapinya dengan santai, tak terlalu menanggapinya.
Fei Yang yang tahu hal itu sambil tersenyum berkata,
"Kamu tak perlu mengambil di hati, Siau Huo jadi begitu karena kedua pembantu yang pernah bekerja pada ku itu "
"Awalnya aku mengira Siau Huo tidak bisa mengontrol jiwa buas, insting berburu dan memburu mangsanya.."
"Makanya aku membawanya kemari, agar dia bebas dan tidak terganggu oleh kehadiran manusia di sekitarnya.."
"Ternyata aku salah, Awalnya Siau Huo memangsa ayam itu benar salahnya, karena belum mengenali mana mangsa liar, bebas.."
"Mana mangsa yang tidak boleh dia mangsa, karena itu peliharaan kita.."
"Sikap mengancam nya pada paman Lai dan bibi Fu itu awalnya juga salah, karena dia mengira mereka orang asing, datang ke wilayah kekuasaannya tanpa ijin.."
"Tapi setelah nya, Siau Huo masih tetap bersikap mengancam mereka, aku berpikir Siau Huo masih liar dan ganas tidak bisa di jinakkan."
"Itu salah ku, aku telah berpikir salah tentang nya, Siau Huo begitu karena instingnya mencium ada yang tidak beres dengan kedua pembantu ku.."
"Makanya dia selalu bersikap tidak bersahabat dengan mereka.."
"Makanya lewat kejadian itu, Siau Huo jadi bersikap seperti sekarang ini, tidak mudah percaya, dan mudah curiga dengan kehadiran orang asing.."
ucap Fei Yang menjelaskan.
Nan Thian mengangguk mengerti atas penjelasan pamannya.
Sambil membiarkan Fei Yung menyusu dari salah satu kambing hutan yang sudah dia lumpuhkan.
Begitu pula Nan Thian, dia juga mendengarkan penjelasan Fei Yang sambil membantu Fei Lung menyusui dari kambing hutan di hadapannya yang juga sudah di lumpuhkan oleh Fei Yang.
Sambil membantu putranya menyusui, Fei Yang pun berkata,
"Aku mampu melihat keberadaan sahabat mu yang berada dalam lautan Dan Tian mu.."
"Itu adalah salah satu kemampuan yang ku dapatkan dari kitab tanpa tanding, milik leluhur istri ku.."
"Di dalam salah satu tehnik pengendalian kekuatan alam semesta.."
"Ada satu bagian bab yang mengajarkan cara membaca arah gerak jurus dasar ilmu silat..."
"Di bab itulah diajarkan bagaimana bisa melihat titik Meridian di dalam tubuh manusia."
"Memperhatikan pergerakan Chi nya, untuk membantu kita menganalisa, pergerakan dan jurus jurus yang akan mereka keluarkan untuk menyerang kita."
"Sehingga sebelum mereka bergerak kita sudah bisa membaca arah geraknya lebih dulu ."
"Tehnik itulah yang membuat aku bisa melihat keberadaan teman mu itu.."
ucap Fei Yang menjelaskan.
__ADS_1