
Kian Bu yang sedikit lebih kuat, perlahan-lahan mulai bisa mendesak dan memojokkan Kian Hok, hingga Kian Hok hanya bisa menangkis dan main mundur.
Suatu ketika, saat Kian Hok sudah terkurung dan berada dalam posisi terjepit.
Kian Bu dengan cepat datang dengan pedangnya menusuk kearah dada Kian Hok.
Kian Hok yang tak berdaya, hanya bisa pasrah melihat pedang itu datang menuju kearah dadanya.
"Tringgg,...!!"
"Ahhh,...!!"
Tiba tiba sebuah batu yang di sentilkan oleh Fei Yang, berhasil membuat pedang itu melenceng sasarannya.
"Crebbb,..!"
Pedang yang sedianya menusuk kearah dada, jadi melenceng menusuk ke arah bahu, dan menancap di sana.
Disaat bersamaan kaki kanan depan yang menjadi tumpuan kaki Kian Bu, untuk melepaskan serangan.
Tiba tiba tempurung lututnya, juga ikut terkena sentilan batu dari Fei Yang.
Akibatnya Kian Bu kehilangan keseimbangan, sehingga tubuhnya nyosor kedepan kearah Kian Hok.
Kian Hok meski sedang kesakitan, dia tidak menyia nyiakan kesempatan emas ini.
Pedangnya dengan cepat di gerak kan, untuk menyambut tubuh Kian Bu yang nyosor kearahnya.
"Jleebbb,...!"
Pedang Kian Hok menembus perut Kian Bu, hingga ujung pedangnya menyembul keluar dari punggung.
Darah mengalir deras dari rongga perut dan punggung Kian Bu.
"Kau,..!"
teriak Kian Bu kaget dengan tatapan mata marah dan tak percaya ke Kian Hok.
Tapi Kian Hok bersikap sebaliknya dia tersenyum lebar penuh kemenangan, dan menatap Kian Bu dengan tatapan mengejek.
Seakan akan menantang, hayo kamu bisa apa.?
Kian Hok yang terlalu gembira, merasa di atas angin menjadi lengah.
Sehingga Kian Bu dengan sisa.tenaga terakhir, berhasil mencabut pedangnya dari bahu Kian Hok, lalu dengan gerakan secepat kilat, pedangnya berhasil ditebaskan kearah leher Kian Hok.
Darah pun muncrat seperti.keran bocor dari arah leher Kian Hok.
Kian Hok yang tadinya sedang tersenyum senang.
Kini dia melangkah mundur dengan wajah pucat, menggunakan kedua tangannya untuk menutupi luka di lehernya yang menganga lebar.
__ADS_1
Darah memenuhi kedua telapak tangan dan mulut Kian Hok, yang mengeluarkan bunyi mengorok.
Tak lama kemudian tubuhnya pun terjengkang kebelakang, jatuh tergeletak di atas.tanah berkelenjotan sesaat, sebelum akhirnya diam tidak bergerak.
Sedangkan Kian Bu sendiri setelah melihat Kian Hok tewas ditangannya,.
Dia sambil tersenyum puas, lalu ikut terjatuh ke atas tanah dalam posisi miring dan meregang nyawanya menyusul Kian Hok,. dengan pedang masih menancap di perut.
Setelah melihat kedua orang itu sudah terkapar tak bergerak,. Yue Feng dan Hong Yi bergerak maju, sambil berjongkok, mereka memeriksa nafas dan nadi di leher kedua orang tersebut.
Sesaat kemudian mereka menoleh kearah Fei Yang dan menggelengkan kepala mereka.
Fei Yang tersenyum dan berkata,
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kita,"
"Biar cepat kita gunakan dia saja,.."
ucap Fei Yang sambil menunjuk kearah angkasa.
Di mana kini terlihat Kim Tiaw dari udara mengeluarkan pekik nyaring, sebelum akhirnya mendarat, di hadapan Fei Yang.
Yue Feng terbelalak kaget, dia hanya tahu Fei Yang memiliki kesaktian yang sulit di ukur.
Dia benar-benar tidak menyangka, Fei Yang masih memiliki binatang tunggangan seperti ini.
Ini Fei Yang sudah mirip dengan dewa dewa di cerita legenda kuno, yang masing masing memiliki tunggangan nya sendiri sendiri.
"Ayo kakak Feng, cepat ikut naik kesini jangan bengong di sana."
Goda Fei Yang sambil tertawa.
Yue Feng buru buru naik keatas punggung Kim Tiaw, tanpa berani merespon godaan dari Fei Yang.
Karena dia tadi sempat melihat ekspresi Hong Yi, yang sedikit cemberut dan menatapnya dengan penuh curiga.
Sepanjang perjalanan Yue Feng juga lebih banyak memilih diam dan terus duduk bersila menghimpun tenaga sakti Qian Kun Im Yang Sen Kung.
Dia hanya berbicara seperlunya saat jam makan siang dan malam, menawarkan kantong air minum dan ransum kering, ke Fei Yang dan Hong Yi.
Fei Yang dan Hong Yi juga sama,.mereka memanfaatkan waktu itu meningkatkan kemampuan mereka masing-masing.
Kim Tiaw bergerak cepat jarang berhenti, sehingga setelah menempuh perjalanan selama 3 hari.
Akhirnya mereka tiba di kota Xiang Yang.
Kim Tiaw menurunkan Fei Yang dan rombongannya,.di tempat sepi, di luar kota Xiang Yang.
Fei Yang dan kedua rekan nya berjalan kaki memasuki kota Xiang Yang yang sangat ramai dan maju.
Di mana terlihat aktivitas.warga yang begitu sibuk di balik benteng kota tersebut, deretan toko penuh di kiri kanan jalan.
__ADS_1
Mau cari barang jenis apapun semua ada tersedia lengkap di sana.
Tadi sepanjang perjalanan memasuki benteng kota pun,. Fei Yang melihat tidak jauh dari gerbang kota, begitu banyak lahan Sawah yang padinya tumbuh subur di kanan kiri jalan, bahkan udah mulai menguning, pertanda sudah hampir tiba, musim panen di wilayah kekuasaan kota ini.
"Kakak,.. paman,.. maaf mau numpang tanya sedikit."
ucap Fei Yang menyapa seorang kakek dan seorang pemuda yang kebetulan berpapasan dengannya.
Kedua orang itu tersenyum ramah dan berkata,
"Silahkan saja tuan, tuan ingin bertanya tentang apa ?"
Fei Yang mengangguk dan berkata,
"Aku ingin bertanya di mana letak rumahnya Keluarga Li Chun Kang si dewa pedang.."
"Dewa pedang,.."
Kedua orang itu saling pandang dengan tatapan mata heran.
Sesaat kemudian,.salah satu dari mereka berkata,
"Kalau nama Li Chun Kang memang ada, tapi dia bukan dewa pedang."
"Dia adalah pandai besi, yang tokonya terletak di pojok jalan sana."
Fei Yang mengerutkan keningnya mendengar penjelasan pemuda di hadapannya.
Fei Yang kembali coba bertanya, untuk mendapatkan kepastian.
"Apa Li Chun Kang, punya seorang menantu tampan bernama Kian Li..?"
Pemuda dan kakek itu mengangguk berbarengan, lalu si.kakek berkata,
"Menantu tampan,? ya,.. dia memang memiliki seorang menantu, yang dapat di katakan cukup tampan, hanya saja namanya bukan Kian Li, melainkan Cheng A Niu.."
"Sungguh mengherankan si A Niu itu, dia begitu tampan, tapi malah memilih istri yang buta dan pincang.."
Timpal pemuda di samping kakek itu.
Fei Yang memberi hormat kearah mereka dan berkata,
"Terimakasih banyak atas informasinya, ini ada sedikit ucapan terima kasih buat minum teh.."
Fei Yang memberikan dua uang perak kedalam telapak tangan kedua orang itu.
"Ini tidak usah,.. mana boleh seperti ini.."
kata kedua orang itu, ingin mengembalikan uang Fei Yang.
Tapi Fei Yang menahannya dan berkata,
__ADS_1
"Kalian tenang saja,. aku ikhlas memberikannya, ini hanya sebagai bentuk ucapan terimakasih ku saja."
Melihat niat dan ketulusan Fei Yang, kedua orang itupun menerima nya, memberi hormat kearah Fei Yang, dan mengucapkan terimakasih,.lalu berlalu dari hadapan Fei Yang.