
Kedatangan Nan Thian mengunjungi restoran nya, tentu saja akan mendatangkan popularitas yang tinggi buat restoran mereka.
Apalagi bila bisa menarik Nan Thian menginap di penginapan mereka, tentu saja nama penginapan baru mereka akan ikut terkenal.
Hal inilah yang membuat pemilik sampai ikut keluar menyambut kedatangan Nan Thian.
"Selamat datang tuan pendekar. silahkan masuk kedalam.."
ucap pemilik restoran menyambut dengan ramah.
Nan Thian tersenyum dan mengangguk kecil.
Lalu dia dan rombongannya, mengikuti pemilik restoran masuk kedalam restoran tersebut.
Baru saja Nan Thian masuk kedalam restoran, sebagian pengunjung langsung bertepuk tangan menyambut kedatangan Nan Thian dan rombongannya.
Nan Thian membalas memberi hormat kesemua orang sambil tersenyum sungkan.
Lalu dia langsung menuju sebuah paviliun di belakang restoran, yang di sediakan khusus oleh pemilik restoran untuk menyambutnya.
Paviliun itu sekilas terpisah, padahal posisinya terletak di tengah tengah restoran, yang membentuk lingkaran di batasi kolam melingkari paviliun tersebut.
Dengan posisi seperti itu pemilki restoran yang cerdas itu.
Sudah memanfaatkan situasi yang sedang hangat, untuk mendongkrak omzet dan popularitas restoran nya.
Karena terbukti tak lama setelah kedatangan Nan Thian, restoran mereka mendadak menjadi ramai.
Baik pengunjung pria maupun wanita mereka berebut ingin menyaksikan bintang pahlawan kita mereka hari ini.
Nan Thian sebenarnya agak risih di jadikan pusat tontonan, tapi dia juga tak berdaya menolaknya.
Tujuan dia adalah menolong, tanpa pamrih, sedangkan sumbangan kerbau juga karena tidak ingin masalah menjadi panjang.
Dia tidak menyangka malah akan menjadi seperti ini, sambutan masyarakat kota pelabuhan ini terhadap dirinya.
Siau Yen yang tadinya agak kurang puas dengan sikap Nan Thian yang terlalu sabar dan pengalah.
Kini dia berbalik menjadi semakin kagum, dengan ketenangan dan sifat sabar Nan Thian, yang membuat orang orang tunduk luar dalam dengan nya.
Pemilik restoran terlihat turut ikut menawarkan menu dan menyajikan menu buat Nan Thian.
"Pendekar muda, jangan sungkan kalau ada perlu apa pesan saja, kami akan melayani dengan sepenuh hati.."
"Satu hal lagi, semua ini gratis, jadi tuan pendekar tidak perlu khawatir mengenai biaya apapun.."
ucap pemilik restoran ramah.
"Ini mana boleh seperti itu, restoran bisa rugi karena nya, rombongan kami cukup banyak orang nya.."
ucap Nan Thian merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, pendekar muda tenang saja.."
"Kami ikhlas semua itu bukan masalah.."
ucap Pemilik restoran sambil tersenyum ramah meyakinkan Nan Thian.
"Baiklah..kalau begitu, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya saja kepada anda.."
ucap Nan Thian sambil bangkit dari duduknya memberi hormat kepada pemilik restoran.
Pemilik restoran membalas penghormatan Nan Thian, lalu dia memberi kode mempersilahkan Nan Thian untuk melanjutkan.
Dia sendiri langsung permisi dari tempat itu.
Memberikan kebebasan penuh kepada Nan Thian.
Kini setelah tinggal mereka berenam Nan Thian sambil tersenyum berkata,
"Ayo silahkan kita makan enak dan gratis sepuasnya.."
Semua tertawa gembira dan menikmati masakan yang lezat yang terhidang di atas meja.
Peserta ke 6 yang berbaring santai diatas lantai juga menikmati makanan khusus yang Nan Thian berikan kehadapan nya.
Siau Hei makan dengan lahap, dan sesekali menyalak dengan gembira.
Menikmati belaian lembut dari Sun er dan Zi Zi yang sangat menyayangi anjing kecil yang lucu itu.
Selesai bersantap dengan puas, Nan Thian segera mengajak rombongan tersebut meninggalkan restoran tersebut, setelah mengucapkan terimakasih sekali lagi ke pemilik restoran tersebut.
Sebelum naik keatas kereta meninggalkan restoran, Nan Thian yang melihat ada Ping Tang Hu Lu, kegemaran Zi Zi Sun er, juga Kim Kim di dalam tubuhnya.
Nan Thian memborong cukup banyak, sebelum dia meninggalkan tempat tersebut.
Nan Thian sekali ini langsung membawa kereta nya menuju dermaga.
Mencari kapal besar yang cukup besar bisa memuat kereta dan membantu mereka melakukan penyeberangan ke dermaga Hu Yang di seberang sungai kuning.
Akhirnya Nan Thian menemukan kapal yang di carinya, setelah mendapatkan kesepakatan harga dan pembayaran uang muka.
Rombongan Nan Thian pun naik keatas kapal, beristirahat sambil menanti kapal siap di berangkatkan.
Nan Thian, Sun er dan Siau Hei menempati satu kamar, sedangkan Zi Zi, Siau Yen dan Siu Lian mereka menempati satu kamar yang berukuran jauh lebih besar dan luas, dengan 3 tempat tidur.
Perjalanan berjalan cukup lancar dari pinggir pelabuhan hingga kebagian tengah sungai kuning, dan terus bergerak meninggalkan dermaga Zhong Lu.
Nan Thian memilih diam di dalam kamarnya, untuk bermeditasi meningkatkan kekuatan tenaga saktinya.
Baru menjelang sore, setelah matahari sudah tidak terlalu terik lagi.
Nan Thian baru mengikuti ajakan paman kecilnya, keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Mereka pergi menuju anjungan kapal untuk menikmati udara segar sore hari dan melihat pemandangan menjelang matahari terbenam.
Tidak lama Nan Thian dan Sun Er tiba di sana,.Siau Yen Siu Lian dan Zi Zi juga ikut muncul di sana.
Mereka kemudian duduk santai beramai ramai di sana, sambil menikmati daging panggang olahan pihak pemilik kapal.
Nan Thian seperti biasa tidak pernah terlepas dari seguci arak, menemaninya makan.
Lama lama hal ini menjadi satu kebiasaan, bila sedang bersantai.
Pasti akan ada arak yang menemaninya.
Sambil minum arak nya, Nan Thian menatap kearah sungai kuning yang berkilauan tertimpa cahaya matahari sore.
Tanpa sengaja, sepasang mata Nan Thian melihat ada titik titik hitam sedang bergerak mendekat.
Dia pun berdiri dari duduknya, menggunakan tangannya menutupi bagian alisnya, menghalau sinar matahari yang menyilaukan.
Menatap kearah kapal kapal kecil yang sedang mendekat, melihat bendera hitam dengan gambar tengkorak di tengahnya.
Nan Thian pun berkata,
"Kalian semua kembalilah dulu ke kamar.."
"Kenapa kakak tampan, ?bukannya lebih enak di sini..?"
ucap Zi Zi kurang puas.
Belum sempat Nan Thian menjawab, sudah terdengar teriakan panik dari arah menara pengawas di bagian paling tinggi dari kapal.
"Awas ada perompak tengkorak putih, bergerak kemari..!"
Suasana kapal menjadi sibuk, beberapa anak buah kapal mendatangi rombongan Nan Thian dan berkata,
"Tuan tuan sebaiknya, kembalilah dulu kekamar Tian masing-masing.."
"Kini kapal kita sedang ada situasi darurat.,"
Nan Thian menoleh kearah rekannya yang lain dan berkata,
"Ayo kalian semuanya kembalilah dulu ke kamar masing masing."
"Di sini biar aku dan Siau Hei saja yang akan tetap tinggal, yang lain segera kembali ke kamar.
Siau Yen dan Siu Lian segera membimbing Zi Zi ikut dengan mereka bersembunyi di dalam kamar.
Sun er juga tidak banyak membantah dia langsung kembali ke kamarnya.
Di sana hanya terlihat Nan Thian bersama Siau Hei saja yang tetap tinggal.
.
__ADS_1