
Fei Yang buru-buru menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Terimakasih, tapi saya lebih baik menunggu di sini, bila nona berdua tidak berkeberatan.."
"Tapi bila nona nona berkeberatan, aku akan menunggu di tempat lainnya.."
ucap Fei Yang sopan.
"Ehh, Lan Lan Lin Lin tumben kalian berdua bersedia ngobrol akrab dengan pria asing..!"
tegur Tante menor sambil berjalan dengan gaya di buat buat menghampiri mereka bertiga.
Melihat kedatangan Tante menor, kedua gadis itu memberi hormat kearah Tante menor itu dan berkata,
"Mama sudah datang, kalau begitu kami masuk dulu,.tuan muda kami permisi.."
Kedua gadis itu memberi hormat kearah Fei Yang, lalu mereka berdua pun, kembali masuk ke kamar masing masing,.dan menutup pintu kamar mereka kembali.
"Bagaimana tuan muda, mau tetap ketemu Yi Lan, atau berubah pikiran ingin bersama salah satu dari mereka berdua, ? atau mau keduanya juga boleh..?"
ucap Tante menor sambil tertawa.
Fei Yang menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak aku tetap ingin bertemu nona Yi Lan, bagaimana hasilnya.?"
"Ayo tuan silahkan lewat sini, tapi nona Yi Lan minta tuan bersabar menunggunya sebentar, soalnya dia sedang mandi siang.."
Fei Yang tersenyum canggung dan berkata,
"Apa tidak sebaiknya aku menunggu diluar, ? hingga nona Yi Lan siap aku baru masuk kedalam."
Tante menor tersenyum lebar dan berkata,
"Tidak apa-apa tenang saja,.di dalam ada ruang tunggu terpisah, tuan muda bisa makan minum sambil menunggu.."
Fei Yang mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya mengikuti Tante menor, yang mengantarnya masuk kedalam sebuah ruangan yang indah mewah, dimana di dalam ruangan tersebut, ada sebuah meja cukup besar dan beberapa kursi.
Di atas meja terlihat di penuhi berbagai jenis makanan kue camilan dan buah, juga tersedia arak wangi.
"Silahkan duduk dan di nikmati tuan sambil menunggu, masakan terlezat akan segera di antarkan menyusul kemari, silahkan tuan."
ucap Tante menor dengan sangat ramah.
__ADS_1
Fei Yang mengangguk lalu memberikan 1 Tael perak ke wanita menor itu dan berkata,
"Terimakasih banyak kakak, ini untuk kakak ambillah.'
Tante menor menerimanya sambil tertawa senang, setelah mengucapkan terima kasih ke Fei Yang Tante itupun buru buru berlalu dari sana.
Setelah di tinggal sendirian, Fei Yang menjemput sebutir anggur merah dan memakannya.
Karena rasanya yang manis dan lezat, Fei Yang pun membawa satu tangkai ke hadapan nya, lalu mulai makan anggur anggur itu dengan santai.
Beberapa saat asyik makan, tiba-tiba Fei Yang mendengar ada langkah kaki halus sedang berjalan menghampiri ruangannya.
Fei Yang segera menoleh kearah pintu sebelah dalam yang tertutup tirai.
Begitu langkah kaki halus itu mendekati ruangan di mana Fei Yang berada, wangi semerbak langsung memenuhi seluruh ruangan.
Tak lama kemudian terlihat seorang gadis berbaju biru keluar dari dalam ruangan.
Gadis itu sangat kaget saat melihat, yang hadir di ruangan tersebut ingin bertemu dengan nya, adalah Fei Yang yang masih terhitung paman gurunya.
Sedangkan Fei Yang juga sedikit melongo, tidak menyangka, gadis bernama Yi Lan yang ingin di temuinya ternyata adalah Pai Lan Yi, murid termuda kakak seperguruannya Malini.
Pai Lan Yi tidak bisa menutupi perasaannya yang bergolak hebat.
Fei Yang ikut duduk di lantai di hadapannya dan berkata dengan pelan.
"Kakak Lan Yi, sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa kamu bisa ada di tempat ini..?"
Pai Lan Yi tidak bisa menjawab pertanyaan Fei Yang, dia masih terlalu sedih dan terus menangis.
Fei Yang terpaksa harus bersabar dan menunggu hingga tangis Pai Lan Yi reda.
Akhirnya tangis Pai Lan Yi perlahan-lahan mulai reda dan mulai bisa menenangkan diri.
Pai Lan Yi mengangkat wajahnya menatap Fei Yang dan berkata,
"Paman guru,.. bila bukan karena dendam yang sedalam lautan, mungkin Lan Yi sudah lama meninggalkan dunia ini.."
"Lan Yi tidak akan bisa puas, bila tidak memakan jantung, dua lelaki jahanam yang telah merusak hidup Lan Yi, hingga jatuh ke lembah kehinaan seperti saat ini.."
Fei Yang menatap dengan kasihan,.dia bisa merasakan kesedihan kekecewaan ketidak berdayaan yang menyimpan dendam yang sangat besar dan dalam, di sepasang mata Lan Yi yang indah.
Fei Yang menghela nafas panjang, menatap Lan Yi dengan penuh simpati dan berkata,
__ADS_1
"Lan Yi sebenarnya apa yang terjadi,..?"
Lan Yi terlihat termenung menatap kearah langit langit, dia berharap dengan menengadah keatas, airmatanya bisa berhenti mengalir.
Tapi sayangnya airmatanya tetap tidak bisa tertahankan, dan tetap mengalir dari kedua sudut matanya, dan terus bergulir di sepasang pipinya yang putih halus kemerahan.
"Semua berawal dari saat penyerbuan ke puncak Phoenix Api oleh orang orang Hei Mo San."
ucap Lan Yi memulai ceritanya.
"Mereka berhasil menembus formasi segel pertahanan puncak Phoenix api, lalu menyerbu masuk, karena kalah jumlah dan kalah kepandaian, kami tidak berdaya mencegah mereka melakukan pembantaian dan pemerkosaan secara brutal di perguruan kamil."
"Berkat pengorbanan Kakak Lan Mei, Lan Hua, Lan Fung, aku baru bisa berhasil di kirim keluar, menjauhi puncak Phoenix Api."
"Dalam pelarian ku, aku secara tidak sengaja bertemu dengan Mu Rong Fu si manusia berhati binatang itu, yang saat itu juga sedang melarikan diri.."
"Karena hubungan kami selama ini cukup baik, aku pun percaya penuh padanya, dan memilih bergabung dengannya, mencoba kabur dari Xu San."
"Tapi sialnya di perjalanan kami malah bertemu dengan Xu Da dan Ming Wang."
"Mereka tidak membunuh kami, mereka menjadikan kami sebagai mainan.."
"Awalnya mereka menyiksa Mu Rong Fu hingga hampir mati.."
"Xu Da si iblis berhati binatang itu, lalu menawari ku pilihan, bila ingin melihat Mu Rong Fu hidup, aku harus melayaninya, hingga dia puas.."
"Bila dia puas,.dia akan membebaskan kami berdua.
Aku yang berhati lemah terlanjur terpikat oleh penampilan luar Mu Rong Fu, sehingga tidak tega melihatnya di siksa hingga mati..'
"Akhirnya meski sedih dan tidak rela, aku menyanggupi permintaan bejad Xu Da, menyerahkan diri ku padanya.."
'Setelah melayani Xu Da selama beberapa hari tanpa harga diri.."
"Akhirnya Xu Da, memenuhi janjinya, dia melepaskan kami berdua"
"Setelah Xu Da pergi, aku pun mulai membantu merawat luka luka Mu Rong Fu hingga sembuh..'
"Pada awalnya Mu Rong Fu sangat baik, dan bersedia menerima kondisi ku yang kotor apa adanya.."
"Kami pun hidup cukup berbahagia, tapi setelah dia berhasil menguasai seluruh ilmu silat peninggalan guru Malini.."
"Sikap aslinya mulai keluar, dan mulai berubah 180°, karena tidak tahan di hina dan ditindas olehnya."
__ADS_1