
Pai Lan Yi menghentikan permainan musiknya, sambil tersenyum, dia berjalan menghampiri Baatar.
Mencoba mengguncang guncang lengannya dengan pelan dan berteriak pelan,
"Tuan Baa,...!! Tuan Baa,...! Jendral Baa,..!! Jendral Baatar...!!"
Setelah memastikan Jendral Baatar sudah pulas, Pai Lan Yi buru buru menghampiri jendela kamar nya.
Membukanya sedikit lalu melepaskan tanda kembang api keudara.
Fei Yang yang sedang duduk menunggu di depan jendela kamarnya, begitu melihat tanda tersebut.
Dia segera melesat ringan meninggalkan kamar penginapannya.
Sesaat kemudian Fei Yang sudah hadir di dalam kamar Lan Yi, melewati pintu jendela kamar Lan Yi, yang setengah terbuka.
"Bagaimana ,?"
tanya Fei Yang dengan suara tertahan.
Sambil tersenyum lebar, Lan Yi menunjuk kearah meja.
Fei Yang pun tersenyum girang, dia segera menghampiri Jendral bertubuh tinggi besar itu.
Memberikan beberapa totokkan untuk berjaga jaga.
Setelah itu, Fei Yang segera memondong tubuh Jendral Baatar di bahunya dan berkata,
"Ayo kakak Lan Yi, ikutlah denganku kita pergi ketempat lain nya."
Lan Yi mengangguk kecil membiarkan Fei Yang menggandeng tangan nya.
"Heiii..!"
Lan Yi berteriak kaget, saat menyadari Fei Yang menarik dirinya, untuk terbang di udara.
Gurunya juga seorang ahli ringan tubuh, tapi tidak sampai seperti ini tahapan nya.
Lan Yi benar benar di buat kaget oleh kemampuan Fei Yang, yang jauh di luar ekpektasinya.
Tapi di samping kaget, Lan Yi juga bergembira.
Dengan kemampuan Fei Yang saat ini, bukan hal sulit bagi nya, bila ingin membantu dirinya balas dendam.
Fei Yang membawa Lan Yi dan tubuh Baatar yang di pondong di pundaknya, memasuki komplek istana raja.
Fei Yang terus melesat kearah bagian kanan istana, menuju sebuah bangunan yang cukup megah dan besar.
Di sekeliling bangunan tersebut, terlihat banyak prajurit pengawal istana, yang sedang berjaga-jaga dengan sangat ketat.
Menurut informasi yang dia dapat dari Li Dan, inilah kediaman istri muda kesayangan Turgen.
Karena Fei Yang terbang di udara dan berlindung di balik kegelapan malam, dengan mudah dia mendarat ringan di atas genteng rumah kediaman istri muda Turgen, yang besar dan mewah.
__ADS_1
Fei Yang melakukan pengamatan secara diam diam dari atas genteng.
Awalnya Fei Yang sedikit bingung harus memulai mencari dari mana letak kamar istri muda Jenderal Turgen.
Karena bangunan itu cukup besar, dan memiliki kamar yang cukup banyak.
Bahkan wajah istrinya Turgen, Fei Yang tidak pernah melihatnya, sehingga dia sedikit bingung mau mulai darimana, mencari keberadaan istri muda Jendral Turgen.
Di saat sedang kebingungan, kebetulan lewat dua orang pelayan wanita, melintas di bawah nya sambil ngobrol ngobrol.
"Tumben nyonya muda menyuruh menyiapkan banyak makanan, dan sup obat kuat malam malam begini.?'
"Mungkin tuan besar mau datang kali.."
ucap gadis pelayan yang agak pendek, menjawab pertanyaan pelayan yang agak tinggi.
"Bukannya tuan biasanya pulang pagi, karena malam harus berkeliling mengawasi keamanan istana raja. ?"
"Mungkin karena raja sedang tidak ada, jadi tuan lebih santai."
"Tapi ya gak tahu juga, itu bukan urusan kita.."
"Lebih baik cepat antarkan sup ini setelah itu kita bisa pergi tidur.."
ucap si pelayan pendek sambil mempercepat langkahnya, di susul.dengan si tinggi.
Jendral Baatar sendiri sudah terbangun, tapi dia tidak bisa bersuara, maupun bergerak karena tertotok oleh Fei Yang aliran jalan darahnya.
Fei Yang pun kembali bergerak bersama Lan Yi, mengikuti arah yang di ambil oleh kedua pelayan tersebut.
Hingga terdengar suara lembut dari dalam kamar, yang memanggil mereka untuk masuk.
Kedua pelayan itu baru berani mendorong pintu dan melangkah masuk kedalam kamar.
Fei Yang menunggu hingga kedua pelayan itu pergi meninggalkan kamar tersebut.
Fei Yang baru membawa Lan Yi melayang hinggap diatas genteng kamar tersebut.
Dari atap genteng Fei Yang membuka genteng pelan pelan dan melihat kedalam kamar.
Melihat istri muda Turgen sedang duduk di depan cermin menyisir rambut, Fei Yang langsung melepaskan totokan jarak jauh ke arah nyonya muda tersebut.
Setelah itu Fei Yang baru membawa Lan Yi masuk kedalam kamar tersebut.
Nyonya muda itu sangat kaget saat mendapati tubuhnya, tiba-tiba tidak bisa bergerak, dan tidak bisa bersuara.
Kehadiran Fei Yang dan Lan Yi, yang menerobos masuk lewat atap kamar, membuat nyonya muda itu menjadi pucat ketakutan.
Tanpa memperdulikan nyonya muda itu, Fei Yang berkata,
"Lan Yi tolong pondong dia keranjang."
Lan Yi mengangguk dia mengerti maksud Fei Yang.
__ADS_1
Fei Yang sendiri memondong tubuh Baatar untuk di letakkan di kasur.
Melihat Lan Yi sedikit keberatan memindahkan tubuh nyonya muda itu ke kasur, Fei Yang pun membantunya.
Setelah meletakkan kedua orang itu di satu kasur, Fei Yang pun berkata,
"Ayo Lan Yi kita pergi sekarang.."
"Tunggu sebentar paman guru, bila seperti ini kurang seru.'
jawab Lan Yi, sambil tersenyum penuh arti.
Fei Yang menatap kearah Lan Yi dengan bingung.
Tanpa menghiraukan tatapan bingung Fei Yang, Lan Yi langsung bergerak mendekati kedua orang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Dengan santai dan tanpa malu malu, Lan Yi melepaskan pakaian kedua orang itu.
Melihat yang di lakukan oleh Lan Yi, Fei Yang wajahnya langsung merah, dia buru-buru memutar badannya membelakangi mereka.
Selesai melucuti pakaian kedua orang itu, Lan Yi mencekokoki kedua orang itu dengan obat per*ngsang.
Lalu mengatur posisi kedua orang itu sedemikian rupa, sehingga saling berangkulan.
Setelah menutupi tubuh kedua orang itu dengan selimut.
Lan Yi pun berkata,
"Sudah selesai paman guru, ayo kita pergi.."
Fei Yang mengangguk kecil lalu membawa Lan Yi meninggalkan tempat tersebut melalui genteng.
Fei Yang tidak membawa Lan Yi kembali ke paviliun bunga bersemi.
Fei Yang menempatkan Lan Yi di kamar penginapannya.
"Lan Yi kamu beristirahat dengan tenang di sini, besok pagi setelah semua urusan beres."
"Aku baru akan kesini membantu mu membereskan masalah mu dengan paviliun bunga bersemi."
"Sekarang aku pergi dulu, masih ada tugas lain yang menanti ku.."
Lan Yi mengangguk dan berkata,
"Baik paman guru, berhati-hati lah.."
Fei Yang mengangguk kecil, lalu dia melesat meninggalkan penginapan, langsung menuju gerbang istana bagian timur.
Sesuai dengan rencana yang sudah di persiapkan oleh Li Dan.
Begitu Fei Yang tiba di lokasi tersebut, Li Dan terlihat sedang menantinya di sana, dengan 10.000 pasukannya yang berbaris rapi dan bersiaga di sana.
Dengan mudah tanpa hambatan Li Dan segera memimpin pasukannya masuk kedalam istana.
__ADS_1
Mereka melewati pintu timur yang sudah di amankan oleh bawahannya, yang sudah lama dia susupkan sebagai pasukan pengawal istana.