PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
PERSIAPAN


__ADS_3

"Nona Yen sudah malam mengapa belum tidur,? malah datang kemari..?"


ucap Nan Thian tanpa menoleh dan kembali melanjutkan minum arak nya.


Siau Yen sedikit kagum dan senang, Nan Thian bisa tahu dirinya yang datang meski dia tidak menoleh kebelakang.


Ini menandakan meski Nan Thian selama ini bersikap cuek dan dingin, sebenarnya dia masih memperhatikan dirinya.


Hanya saja Nan Thian tidak suka menunjukkan rasa perhatiannya.


Sambil tersenyum gembira, Siau Yen melangkah maju, lalu duduk di sisi Nan Thian dan berkata,


"Kakak Nan sendiri kenapa tidak tidur..? malah duduk, minum arak bosan, seorang diri di sini..?"


Nan Thian menghela nafas panjang dan berkata pelan,


"Aku tidak bisa tidur, makanya kemari.."


Siau Yen menatap wajah Nan Thian yang tampan dengan garis rahang yang tegas, dari samping dengan kagum.


Cahaya rembulan yang bersinar terang, menyorot kewajah Nan Thian yang sedang setengah menengadah, semakin menambah ketampanan nya yang terlihat gemilang.


Tiba-tiba Nan Thian menoleh kearah Siau Yen.


Siau Yen yang ketahuan sedang mengagumi ketampanan wajah Nan Thian,. menjadi salah tingkah.


Dia buru buru menundukkan kepalanya dalam dalam dan berkata dengan suara pelan,


"Kakak Nan Lihat apa ? apa ada yang salah dengan wajah ku. ?"


Nan Thian menghela nafas dan berpikir dalam hati,


Cantik sekali, bukan hal sulit bagi ku, untuk jatuh cinta dan menerima perasaan nya..


Tapi sayang seribu sayang, setelah apa yang terjadi antara aku dan Xue Xue .


Aku sudah terlanjur memandang tawar hubungan asmara antara pria dan wanita.


Aku sudah kehilangan kepercayaan diri, dan kehilangan kepercayaan terhadap semua wanita di dunia ini, tentu saja selain ibu.


Sambil tersenyum pahit, Nan Thian berkata,


"Tidak, tidak ada yang salah,.. kamu sangat sempurna.."


"Dalam hal ini aku lah yang kurang baik dan kurang pantas.."


"Udara di sini sangat dingin, pakaian mu terlalu tipis nanti kamu bisa masuk angin.."


ucap Nan Thian sambil melepaskan jubah luarnya, lalu dia membantu menyelimuti Siau Yen.

__ADS_1


"Baiklah bila tidak ada hal lain, aku permisi dulu.."


"Jangan terlalu malam, jaga kesehatan kita besok pagi masih ada perjalanan jauh.."


ucap Nan Thian sambil bangkit berdiri, sambil membawa botol arak di tangan nya.


Nan Thian berjalan meninggalkan tempat itu dengan langkah sedikit goyah terpengaruh oleh hawa arak yang di minumnya.


Siau Yen menatap bayangan punggung Nan Thian dengan perasaan bercampur aduk.


Ada rasa gembira hangat dan bahagia atas perhatian Nan Thian pada dirinya.


Tapi juga ada rasa kecewa dan pahit, Nan Thian memilih meninggalkannya begitu saja.


Dia tidak bersedia duduk bersama dan berbicara banyak, padahal dia sangat penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang diri Nan Thian.


Dia ingin tahu apa yang pernah terjadi dengan pria yang sangat menarik perhatiannya itu.


Sehingga selalu terlihat murung dan bersikap dingin terhadap dirinya dan Siu Lian bibinya.


Padahal dia tahu persis, Nan Thian pada dasarnya sangat baik dan penuh perhatian juga hangat.


Sikap dingin dan kaku nya, hanya di gunakan untuk menjaga jarak dan membatasi dirinya saja.


Hidup dalam dunianya sendiri yang senantiasa kesepian dan penuh duka.


Siau Yen tentu saja tidak ingin sendirian di tempat yang dingin dan sepi itu.


Siau Yen awalnya menduga Nan Thian akan kembali ke kamarnya.


Tapi melihat langkah Nan Thian yang tidak berbelok menuju kamarnya.


Dengan penasaran Siau Yen dengan hati hati dan menjaga jarak mengikuti kemana Nan Thian hendak pergi.


Nan Thian terus melangkah hingga di anjungan kapal, berdiri di posisi paling ujung.


Membiarkan rambut dan pakaiannya berkibar kibar tertiup oleh angin sungai yang dingin.


Nan Thian terlihat menegak arak di tangan nya, Lalu menatap kearah langit di mana bulan bulat berada.


Dia berdiri diam di sana terus menegak arak nya, hingga dua botol arak ditangan nya habis.


Kini hanya sisa satu botol, sambil bercegukkan, Nan Thian akhirnya buka suara bicara seorang diri, dengan tubuh sedikit bergoyang goyang, dia mulai terpengaruh oleh hawa arak.


"Siau Semei tahu kah kamu, ?untuk jatuh cinta pada mu hanya memerlukan waktu sesaat.."


"Tapi untuk melupakan mu, mungkin akan menghabiskan seluruh waktu hidup ku.."


"Tapi tidak apa-apa.."

__ADS_1


"Semoga kamu berbahagia bersama nya, sehingga semua ini akan jadi pantas ."


gumam Nan Thian seorang diri, lalu dia kembali menegak arak di tangan nya.


Nan Thian menatap botol arak di tangan nya dan kembali berkata,


"Sahabat ku untung masih ada kamu yang senantiasa, selalu dengan setia menemani dan mendengarkan keluh kesah ku.."


"Orang bilang kamu adalah racun, menggunakan mu untuk menghilangkan masalah malah semakin menambah masalah.."


"Juga ada orang bilang menggunakan mu terlalu banyak, akan merusak lambung merusak kesehatan.."


"Semua teori ini aku tentu saja paham dan mengerti sahabat ku, tapi mau bagaimana lagi.."


"Saat ini yang paling setia ya cuma kamu, setidaknya kamu tidak akan pernah seperti mereka.."


"Meninggalkan ku menghianati ku, mengusir ku, bahkan tidak menghendaki ku lagi.."


"Sudahlah lupakan saja, siapa yang akan mengerti dan akan perduli.."


ucap Nan Thian yang mulai mabuk bersulang kearah rembulan lalu sambil tersenyum sedih, dia menghabiskan sisa arak di tangannya.


Lalu membuang botolnya ke tengah sungai, setelah itu sambil menghela nafas panjang.


Dengan langkah terhuyung-huyung Nan Thian meninggalkan anjungan kapal seorang diri.


Nan Thian tidak menyadari setelah dia melangkah pergi, Siau Yen melangkah keluar dari balik tumpukan peti kemas.


Dengan wajah basah airmata, dia mengikuti Nan Thian meninggalkan tempat itu.


Kini Siau Yen sedikit banyak mulai paham apa yang terjadi pada pria yang sangat dia kagumi itu.


Dia semakin bersimpati dan kasihan dengan apa yang pernah Nan Thian alami di masa lalu.


Meski tidak tahu dengan jelas, jalan cerita hanya sepenggal-sepenggal saja.


Tapi dia sudah bisa sedikit menarik kesimpulan dari potongan kata kata Nan Thian tadi.


Nan Thian sendiri setelah kembali kedalam kamar nya, langsung tertidur pulas hingga pagi.


Nan Thian baru membuka kembali matanya, saat merasa ada benda licin basah sedang menyentuh pipinya.


Begitu membuka mata melihat Siau Hei lah yang sedang menjilati pipinya, mencoba membangunkan dirinya.


Sambil tersenyum Nan Thian meraih anjing kecilnya, memeluknya dan menciuminya.


"Terimakasih Siau Hei,.."


ucap Nan Thian sambil membelai belai lembut kepala anjing nya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Nan Thian pun meninggalkan kamarnya, pergi kekamar mandi yang di sediakan di bagian paling belakang kapal.


Di sana Nan Thian membersihkan diri, berganti pakaian setelah itu baru berjalan menuju bagian depan kapal, mencari tahu sudah sejauh mana perjalanan mereka.


__ADS_2