PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
MENCOBA UNTUK KELUAR


__ADS_3

Mendengar teguran Fei Yang yang pedes, Wei Wen dengan bibir cemberut langsung membuang tangan Fei Yang dan berkata,


"Kalau gak mau beritahu ya sudah, aku juga sudah gak Sudi untuk tahu.."


"Terserah kamu mau lakukan apa, mau mati ke timpa harta juga terserah, ehh jangan cukup setengah mati aja.."


ucap Wei Wen dengan gayanya yang lucu, lalu pergi dari sana dengan bibir cemberut.


Tael Tael emas yang sedang sial berada di depan kakinya, langsung jadi sasaran tendangannya, untuk melampiaskan perasaan kesalnya.


Fei Yang yang melihat hal itu, juga tidak banyak berkata, dia hanya menggelengkan kepalanya.


Dia sudah cukup mengenali sikap Wei Wen gampang ngambek, gampang marah, tapi gak lama.


Terkadang dalam hitungan menit sudah kembali normal.


Suasana hatinya melebihi cuaca, bila mau ditebak bisa gila dan cuma buang buang waktu, paling baik adalah diamkan saja.


Nanti juga baik kembali dengan sendirinya, tak perlu repot-repot pergi mengurusnya, sial sial malah kena bonus damprat gratis darinya.


Fei Yang meneruskan memindahkan harta, yang masih sangat banyak, seolah olah tiada habisnya.


Fei Yang sendiri sempat khawatir cincinnya tidak muat, tapi ternyata tidak.


Cincinnya itu ternyata memiliki ruang penyimpanan, yang cukup luas.


Tepat saat Fei Yang merasa perutnya sudah mulai lapar, seluruh harta Karun di sana pun, akhirnya berhasil dia pindahkan kedalam cincin penyimpanan nya.


Fei Yang menghela nafas lega, setelah memasukkan tumpukan terakhir yang tersisa.


"Huff,..! akhirnya beres juga,.."


gumam Fei Yang seorang diri, sambil menghapus beberapa butir keringat di keningnya, dengan lengan bajunya sendiri.


"Saatnya mencoba membuka pintu, untuk bisa keluar dari tempat ini.."


"Aku sudah rindu dengan daging dan telur, rasanya sudah sangat lama aku tidak merasakannya.."


"Lapar lapar gini ikan bakar pasti sangat gurih dan lezat.."


batin Fei Yang seorang diri, sambil terus melangkah dengan penuh semangat.


Menghampiri pintu batu tebal yang tertutup rapat.


Fei Yang mencoba memperhatikan lubang kunci di hadapannya, sambil tersenyum gembira, dia mencoba memasukkan token emas di tangannya kedalam lubang kunci tersebut.


Begitu token emas itu di putar, pintu batu pun berderak hebat.


"Drrrrrrrr,..Drrrrrrrr,...Drrrrrrrr, Drrrrrrrr,. .!"


Tapi pintu itu hanya bergetar saja, tak kunjung terbuka, Fei Yang mencoba mengulangi memutar kunci token emas di tangannya,


"Drrrrrrrr,..Drrrrrrrr,...Drrrrrrrr, Drrrrrrrr,. .!"

__ADS_1


Tapi hasilnya tetap sama saja, hanya bergetar dan tidak bereaksi.


Dengan panik Fei Yang kembali mencoba mengulangi, memutar kunci token di tangannya.


Tapi yang kali ini malah, tidak beraksi lagi pintu batu tebal di hadapannya.


Fei Yang mulai panik, dia mencoba memutar mutar nya, berulang kali.


Tapi semuanya sia sia, pintu itu tetap saja tidak bereaksi lagi.


"Sial,.. pasti para bajingan itu terus meledakkan pintu ini, hingga motor penggerak roda yang bertugas, membuka tutup pintu jadi rusak."


"Bajingan..!!"


teriak Fei Yang kesal sambil membanting token emas di tangannya keatas tanah.


Wei Wen yang sedang asyik makan buah dengan santai, sangat terkejut saat mendengar teriakkan kesal Fei Yang, yang sangat tidak biasa.


Dia pun membuang sisa buah di tangan nya, lalu berlari menghampiri Fei Yang.


Saat berada di dekat Fei Yang, dengan cemas Wei Wen pun bertanya ke Fei Yang.


"Ada apa kak ? mengapa kakak terlihat begitu kesal..?"


Fei Yang menatap kearah Wei Wen, sambil tersenyum pahit dia berkata,


"Sepertinya para bajingan di luar itu, telah merusak motor penggerak buka tutup pintu batu tebal ini."


"Mungkin akibat dari bubuk peledak yang mereka nyalakan terus secara berulang-ulang, ingin meledakkan pintu ini."


"Sehingga kini pintu ini tidak bisa lagi di buka tutup seperti sebelumnya. "


"Kita kini terjebak di sini, tidak bisa keluar lagi.."


ucap Fei Yang kecewa.


"Apa tidak ada cara lain kak, selain menggunakan kunci itu.."


tanya Wei Wen sambil menunggu jawaban Fei Yang.


Fei Yang menghela nafas panjang dan berkata,


"Aku akan mencoba dengan seluruh kekuatan ku, untuk mengangkatnya, bila tidak berhasil baru terpaksa ku ledakkan pintu ini.."


"Tapi aku juga tidak begitu yakin akan hal itu."


ucap Fei Yang ragu.


"Adik Wen nanti saat aku berhasil mengangkatnya, kamu tolong bantu aku, gunakan kedua pedang ku ini, untuk mengganjalnya."


"Kamu bisa kan..?"


ucap Fei Yang sambil mengeluarkan sepasang pedang pusaka nya, yang dia tancapkan di atas tanah.

__ADS_1


Wei Wen mengangguk cepat, tanpa banyak membantah.


Setelah mendapatkan kepastian dari Wei Wen,. Fei Yang mulai mengerahkan seluruh kekuatannya hingga titik puncak.


Kemudian sepasang tangannya menembus celah pintu bagian bawah.


"Hyahhhh,..!!'


Dengan sebuah teriakan keras, Fei Yang mencoba mengangkat pintu batu, yang sangat besar dan berat itu.


Pintu berat itu berderak hebat, perlahan-lahan terangkat keatas sedikit demi sedikit, oleh kekuatan Fei Yang yang luar biasa besarnya.


"Sekarang Wen Wen,.. cepat .!"


teriak Fei Yang.


Wei Wen dengan sigap menggunakan kedua pedang itu untuk mengganjal kedua batu besar itu.


Wei Wen dengan cerdik meletakkan kedua pedang itu secara terpisah di kedua ujung kiri dan kanan.


Selain itu kedua pedang itu, gagang pedang nya dibuat menghadap kebawah, sedangkan mata pedang menghadap keatas.


"Sudah siap kak,..!"


ucap Wei Wen sambil memberi tanda, dengan tangan nya kearah Fei Yang.


Fei Yang menarik kembali kekuatannya, membiarkan kedua pedang itu untuk menopangnya.


Pada awalnya terlihat cukup stabil, tapi begitu Fei Yang melepaskan kedua tangannya.


Batu itu langsung meluncur kebawah, karena batu keras itu tidak kuat menahan ketajaman kedua pedang pusaka Fei Yang.


Begitu batu bergerak meluncur kebawah, dengan cepat Fei Yang mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut pintu batu itu, sambil berteriak keras.


"Hyaahh,..!!"


Seiring dengan teriakan keras Fei Yang, batu besar itu kembali tertahan di udara.


"Wen Wen, tolong cabut kedua pedang itu, tukar posisinya dengan bagian tajam menghadap ke bawah.."


ucap Fei Yang cepat.


Wei Wen mengangguk cepat, lalu dia mencoba mencabut dan mengeluarkan kedua pedang itu, mengikuti petunjuk Fei Yang.


Wei Wen dengan tanpa kesulitan berhasil melakukan nya, sesuai arahan Fei Yang.


Wei Wen dengan mudah berhasil mencabut kedua pedang yang tertancap di pintu, karena kedua pedang itu memiliki ketajaman yang sangat luar biasa.


Begitu melihat kode dari Wei Wen, Fei Yang pun kembali melepaskan pegangan kedua tangan nya.


Tapi lagi lagi pedang itu dengan sangat mudah menembus tanah dan batu keras di bawahnya.


Melihat hal itu, Fei Yang dengan terburu-buru kembali mengulurkan kedua tangannya untuk menahan batu berat itu dan berkata,

__ADS_1


"Tidak bisa Wen Wen, cepat keluarkan kedua pedang itu..!"


__ADS_2