
Kim Hong tidak berani menganggap remeh lawannya, dia segera mencabut pedang dari sarungnya.
Sarung pedang dia lempar ke arah , Tang Lung.
"Singgg...!
"Wusss...!"
Baru dia terbang menyusul di belakangnya, memainkan jurus andalan nya.
Xue San Cien Fa ( Ilmu pedang Xue San )
Jurus pembuka,
Pedang Salju tiada dua ( Xue Cien Wu Suang ).
Tubuh Kim Hong dan pedangnya lenyap menjadi seberkas cahaya putih menerjang kearah Tang Lung.
Tang Lung bersikap tenang diam di tempat, saat saring pedang mendekat.
Dia baru melepaskan cakarnya yang di selimuti cahaya kebiruan menyambutnya.
"Crekkk,..!"
Sarung pedang langsung hancur berkeping-keping, begitu terkena cakar nya Tang Lung.
Tang Lung memutar cakarnya, lalu maju menerima tusukan pedang Kim Hong.
Kim Hong sedikit kaget melihat kekuatan cakar Tang Lung, yang dengan sangat mudah nya.
Menghancurkan sarung pedang nya, yang bukan terbuat dari kayu sembarangan.
Tapi dia tidak punya pilihan selain tetap maju menyambut serangan cakar Tang Lung yang jaraknya sudah terlalu dekat.
"Cringgg...!"
"Krekkk,..!"
Pedang Kim Hong langsung patah hancur berkeping keping, cakar Tang Lung masih terlihat terus meluncur.
Mengincar leher Kim Hong dengan ganas.
Kim Hong menggunakan ujung kakinya menendang cakar tersebut.
Cakar Tang Lung berhasil di selewengkan keatas.
Tapi seiring dengan hal itu, tubuh Kim Hong juga ikut terdorong mundur kebelakang.
Tang Lung tidak berhenti di sana, kini sepasang tangannya yang membentuk cakar bersinar kebiruan.
Meluncur datang mengikuti tubuhnya yang bisa hilang timbul, tahu tahu sepasang cakarnya sudah mencengkram ganas kearah dada Kim Hong.
Ini adalah serangan brutal, tidak sopan juga sadis.
Bila terkena cengkraman itu, niscaya nyawa Kim Hong akan melayang, kedua bukit indahnya akan rusak dan hancur oleh serangan Tang Lung.
Kim Hong sebisa mungkin menggunakan kedua telapak tangannya menangkis serangan tersebut.
Lagi lagi Kim Hong terdorong mundur kebelakang, Hingga mendekati batas garis arena.
Kim Hong merasa sepasang telapak tangannya, yang di gunakan untuk menangkis tadi, terasa ngilu dan sakit bukan main.
Seperti habis berbenturan dengan besi keras.
Di saat Kim Hong sedang menahan rasa sakit dan ngilu, di kedua telapak tangannya.
__ADS_1
Serangan dari Tang Lung kembali muncul.
Kini cakar kanan mengancam batok kepala, cakar kiri mengancam leher.
Kim Hong terpaksa membuang diri lagi kebelakang, hingga tanpa sadar, dia sudah keluar dari garis arena.
Kebetulan mendekat kearah bangku peserta pertandingan.
Tapi Tang Lung tetap mengejarnya, tidak bersedia menyudahi pertandingan sebelum serangannya mencapai sasaran.
Melihat hal itu, kedua kakak seperguruan Kim Hong, Kim Lan dari Kim Sin Sethai.
Mereka langsung maju memberikan pertolongan.
Pedang mereka meluncur dari kiri dan kanan mengancam bagian bawah ketiak Tang Lung dari kiri kanan.
Tang Lung terpaksa membatalkan serangan nya dari Kim Hong.
Dia menggunakan sepasang cakar nya menyambut kedua pedang yang datang.
"Krekkk,...!"
"Krekkk,...!"
Kedua pedang yang terkena cengkraman tangan Tang Lung langsung terpilih pilin dalam cengkraman Tang Lung.
Sekali di sentak oleh cakar Tang Lung, pedang Kim Lan dan Kim Sin hancur berkeping-keping.
Berikut tubuh kedua orang itu ikut terseret kedepan, sepasang cakar Tang Lung yang bersinar kebiruan.
Sudah siap meluncur kearah tenggorokan kedua gadis itu.
"Rooaaarrrrrrr...!"
"Plakkkk,..!"
"Plakkkk,..!"
Tubuh Tang Lung terpental kembali ketengah lapangan, jatuh terduduk di sana sambil memegang dadanya yang terkena hantaman tapak keras, terasa sakit dan nyeri luar biasa.
Baru setelah Dia memuntahkan seteguk darah dari mulutnya Tang Lung bisa sedikit bernafas lega.
Wajahnya yang pucat terlihat semakin pucat dengan bibir kemerahan karena noda darah segarnya sendiri.
Tang Lung sadar dirinya telah terluka parah, tidak mungkin bisa melanjutkan pertandingan lagi.
Dadanya terasa sangat sakit, hingga tangan nya dia gunakan, untuk memegangi dadanya sendiri dengan erat.
Nan Thian melangkah pelan berjalan memasuki lapangan arena.
Tadi di saat kritis, adalah Nan Thian yang maju menolong Kim Sin dan Kim Lan lolos dari maut.
Kedua cakar Tang Lung di tangkis oleh sepasang telapak tangan Nan Thian dengan jurus.
"Sepasang Naga keluar dari sarang.."
Di susul dengan sebuah tendangan yang tepat mendarat di dada Tang Lung.
Dengan jurus
"Naga mengibaskan ekor.."
Sehingga Tang Lung yang tidak kuat menyambut kedua jurus Nan Thian, harus merasakan nasib seperti sekarang ini.
Nan Thian maju memberi hormat kearah wasit Ye Sun dan berkata,
__ADS_1
"Kim Hong Kim Lan dan Kim Sun telah kehilangan senjatanya.."
"Aku rasa mereka sudah menyerah pada pertandingan ini, tidak bisa melanjutkan nya lagi.."
"Begitu pula orang ini, dia telah menyerang orang yang jelas sudah kalah dan keluar dari arena."
"Aku rasa dia tidak pantas ikut lagi pertandingan ini.."
"Tapi bila dia tetap ingin ikut biar aku menjadi lawan nya.."
ucap Nan Thian tegas sambil memberi hormat kearah Ye Sun.
Ye Sun mengangguk dan berkata,
"Kurasa ini cukup adil, bila pihak Xue San Pai setuju dan Tang Lung setuju.."
"Aku tidak berkeberatan.."
ucap Ye Sun sambil memberi hormat.
Tiba tiba pemuda cantik itu kembali bangkit dari tempat duduknya dan berkata,
"Tahan..!"
"Menurut ku ini kurang adil..!"
Nan Thian menoleh kearah pemuda berwajah cantik itu dan berkata,
"Coba jelaskan..?"
Pemuda itu dengan santai melangkah maju kedepan dan berkata,
"Pertama, gadis yang bernama Kim Hong meski kalah, dan keluar dari garis dia sana sekali belum mengaku kalah.."
"Otomatis pertandingan masih terus berlanjut hingga salah satu tewas atau menyerah, karena ini Pertandingan bebas.."
"Kedua,
Kedua gadis itu Kim Sin dan Kim Lan, mereka muncul dari tempat tak terduga, mencampuri pertandingan orang lain, apalagi melakukan pengeroyokan mereka jelas bersalah.."
"Dalam hal ini Tang Lung hanya bersikap membela diri, tidak pantas di persilahkan.
"Ketiga, kamu menyela di pertandingan orang lain dan melukai peserta, yang sedang bertarung secara curang, saat Tang Lung sedang tidak siap.."
"Ini jelas adalah salah mu, jadi kamu tidak berhak bicara.."
ucap pemuda cantik itu lantang, sambil menatap Nan Thian dengan penuh keberanian.
Nan Thian jadi terdiam oleh ucapan pemuda cantik yang pintar membalikkan fakta itu.
Melihat Nan Thian terdiam, pemuda itu pun kembali berkata,
"Jangan bilang kamu mau jadi si tampan, yang menjadi pahlawan menolong 3 gadis cantik.."
"Bila ya, guru mu dan guru mereka semua hadir disini, kalian tinggalkan saja tempat ini."
"Pergi saja, bicarakan perjodohan kalian bukannya lebih baik..?"
ucap Pemuda cantik itu sambil menahan tawa, menggunakan tangannya menutupi mulut.
Tingkahnya yang ke banci banci an dan pintar bicara, benar benar membuat Nan Thian kesal.
Tapi juga sulit untuk berdebat dengan nya.
Dengan wajah merah padam menahan malu, Nan Thian berkata,
__ADS_1
"Katakan saja apa mau mu..?'