PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
RANJANG GIOK IM YANG


__ADS_3

Karena dia juga sadar kondisi gurunya tidak memungkinkan untuk di ajak banyak berbicara.


Meski penasaran, Fei Yang menelan semua rasa penasarannya.


Dia hanya tahu satu hal, bila tidak tahu petunjuk langkah rahasia dari gurunya.


Mustahil dia bisa sampai kemari, mungkin hanya sebatas patung kayu saja, dia sudah babak belur.


Kalaupun kemampuannya pulih 100% paling hebat, dia hanya bisa sampai tahap patung baja saja.


Setelah melirik dan memperhatikan ke 7 patung itu dengan kagum, Fei Yang melanjutkan langkahnya menuju gerbang terakhir.


Gerbang terakhir ini sangat mewah dan megah, di kiri kanan pintu nya yang tertutup, ada ukiran 2 ekor naga.


Di sebelah kanan gerbang di ukir dengan gambar Naga Biru, sedangkan di sebelah kiri di isi dengan gambar Naga merah.


Di bagian tengah terdapat sebuah lingkaran Pat Kwa berwarna merah biru.


"Fei Yang kamu tekan sepasang tombol yang ada di tengah gambar Pat Kwa itu.."


"Nanti setelah masuk jangan kaget, bersikap tenanglah, buka tutup botol ini, dia akan membantu kita melewati rintangan dengan aman.."


ucap Yi Han Tao Se memberi penjelasan.


Fei Yang mengangguk, lalu dia berjalan kearah pintu gerbang, mengulurkan kedua tangannya kedepan dan menekan dua lingkaran kecil di tengah gambar Pat Kwa.


Sesuai dengan petunjuk dari gurunya barusan.


Perlahan lahan pintu batu tersebut terbuka, saat Fei Yang melangkah masuk kedalam gua yang remang remang, pintu batu berat pun menutup kembali.


Suasana pun berubah gelap gulita, dalam kegelapan Fei Yang melihat dua buah cahaya bola lampu, yang bersinar terang sedang menyorot kearah dirinya.


Fei Yang mengeluarkan sebuah tabung kecil, saat di buka tutupnya dan di tiup api kecil pun menyala.


Menerangi ruangan tersebut, sehingga Fei Yang bisa melihat dengan lebih jelas, benda apa yang berada di hadapannya.


Perlahan-lahan dari tempat asal kedua bola lampu kuning kemerahan itu, mulai terdengar suara geraman dari dalam kegelapan.


Suara itu begitu menyeramkan, dan menimbulkan angin yang sangat kuat menerpa wajah, dan seluruh tubuh Fei Yang.


Fei Yang terpaksa mengagkat tangan nya, melindungi wajah dan matanya, yang sulit terbuka.


Sesaat kemudian mulai terdengar pergerakan dari dalam kegelapan, suara langkah kaki yang berat.


Lalu dari arah kegelapan muncul sebentuk wajah yang mirip kadal purba, yang memiliki sepasang tanduk di kepalanya.


Bola cahaya kuning kemerahan itu ternyata berasal dari sepasang mata mahluk raksasa ini.


Mahluk ini memiliki 4 kaki dan ekor yang panjang, kulitnya sangat tebal dan bersisik berwarna coklat kehitaman.


Setelah mengeluarkan suara raungan yang menggetarkan seluruh tempat tersebut, mahluk itu berdiri di hadapan Fei Yang.


__ADS_1


Sambil mengepakkan sepasang sayap nya yang besar dan lebar, yang terletak di balik punggungnya.


Saat terkena angin hembusan sayap mahluk itu, sewaktu mahluk itu mengepak ngepakkan sepasang sayap nya.


Fei Yang hampir jatuh terguling bersama guru dalam gendongannya, tubuhnya sampai terhuyung-huyung mundur kebelakang.


Saking terkejutnya melihat mahluk yang tingginya hampir 20 meter itu, Fei Yang sampai lupa dengan pesan gurunya.


"Fei Yang cepat lepaskan penutup botolnya..!"


teriak Yi Han Tao Se di dekat telinga Fei Yang.


Fei Yang segera tersadar dari terkejutnya, dia buru-buru membuka penutup botol di arahkan tinggi tinggi, kearah mahluk raksasa itu.


Fei Yang dan Yi Han Tao Se yang sedang cedera sedikit ngeri, melihat tenggorokan mahluk itu bersinar mengeluarkan cahaya, seperti siap memuntahkan sesuatu kearah mereka.


Tapi saat tutup botol terbuka, harum semerbak keluar dari botol itu memasuki pernafasan kadal raksasa bersayap itu.


Cahaya di tenggorokannya sirna, sepasang matanya yang menyeramkan meredup, dia memejamkan matanya.


Lalu menghirup nafas dalam dalam seperti menikmati wewangian tersebut, perlahan-lahan tubuhnya, bergerak turun kebawah hingga Kepalanya tertelungkup di atas tanah.


"Fei Yang cepat lewati dia, segera masuk ke gua yang terletak persis di belakang nya,.. cepat...cepat..cepat..!"


ucap Yi Han Tao Se memberi petunjuk setengah berteriak pada Fei Yang.


Fei Yang mengangguk sambil berlari menuju gua, yang terletak di belakang kadal raksasa itu.


"Putar tonjolan di sebelah kanan itu, mengarah ke kanan setengah lingkaran."


Fei Yang segera mengikuti arahan gurunya, sebuah batu penghalang pun bergeser memunculkan sebuah lubang gelap.


Fei Yang tanpa berpikir panjang lagi, langsung melangkah masuk kedalam.


Setelah Fei Yang melangkah masuk, pintu gua tersebut pun tertutup kembali.


Setelah pintu gua tertutup, Fei Yang pun menutup tutup botol pengendali kadal itu, sambil menghela nafas lega dia berkata,


"Hampir saja,.. Hoff...!"


"Fei Yang teruslah maju ikutin jalan ini, di.persimpangan jalan, ambillah jalan sebelah kiri."


ucap Yi Han Tao Se sesaat kemudian, setelah melihat Fei Yang sudah mulai tenang.


"Baik guru.."


jawab Fei Yang patuh dan kembali melanjutkan langkahnya.


Saat tiba di persimpangan jalan sambil belok ke kiri, Fei Yang berkata,


"Bila belok ke kanan kemana itu guru..?"


"Ke kanan hanya ada jalan buntu, dan sebuah celah kecil mirip lubang anjing, guru juga tidak tahu nembus kemana.."

__ADS_1


"Guru sendiri belum pernah mencobanya,.jadi kurang tahu.."


ucap Yi Han Tao Se apa adanya.


Fei Yang mengangguk, lalu dia berkata,


"Kalau gua yang di tengah ini apakah akan membawa kita ke tempat penghujung gua ini,?"


"Dimana di bawahnya ada kolam bawah tanah, yang terhubung dengan sungai Gangga."


tanya Fei Yang penasaran.


Yi Han Tao Se mengangguk dan berkata,


"Tepat sekali Fei Yang.."


"Ayo cepat masuklah ke gua yang sebelah kiri.."


ucap Yi Han Tao Se dengan suara pelan.


Fei Yang mengangguk dan buru buru bergerak sesuai arahan gurunya.


Akhirnya mereka tiba di sebuah ruangan cukup luas, yang ada meja kursi batu, dan sebuah tempat tidur batu giok, yang terus mengeluarkan hawa panas dan dingin, di kedua sisi nya.


Di sudut kanan ruangan itu, ada sebuah rak buku, yang hanya berisi sebuah kotak kayu kuno.


Fei Yang memperkirakan tentu itulah tempat kitab pusaka Tanpa Tanding tersimpan dengan baik.


"Fei Yang tolong turunkan aku di ranjang batu Giok itu.."


ucap Yi Han Tao Se sambil menunjuk kearah sebuah ranjang batu giok.


Fei Yang mengangguk, lalu dia dengan hati-hati menurunkan gurunya, untuk duduk di atas ranjang giok yang bersinar kebiruan.


Setelah duduk bersila di atas batu Giok, yang mengeluarkan hawa sangat dingin itu.


Yi Han Tao Se kemudian kembali berkata,


"Fei Yang kamu juga ikut duduk di sisi ranjang yang merah itu.


Fei Yang menuruti permintaan gurunya, dia duduk bersila di atas ranjang batu giok yang saat diduduki terasa hangat.


Tapi semakin lama mulai semakin panas, Fei Yang hampir tidak kuat dan kembali melompat turun dari ranjang itu, bila tidak mendengar suara dari gurunya.


"Fei Yang ulurkan kedua tangan mu dengan telapak tangan terbuka kedepan.."


ucap Yi Han Tao Se.


Fei Yang mengangguk,


lalu mengulurkan kedua telapak tangan terbuka kedepan.


Yi Han Tao Se menyambut kedua telapak tangan terbuka Fei Yang yang menghadap ke depan.

__ADS_1


Yi Han Tao Se merubah posisinya menjadi menghadap kearah Fei Yang, lalu sepasang telapak tangan mereka saling menempel.


__ADS_2