
Nan Thian tetap berlutut di sana, melepas kepergian kedua orang tuanya, dengan tatapan mata sedih dan penuh sesal.
Nan Thian bukan menyesali keputusan nya, yang dia sesali adalah dia telah mengambil sikap yang tanpa sengaja menyakiti perasaan ibunya.
Xue Xue ikut berlutut di samping Nan Thian membantu membersihkan airmata yang menggantung di pipi Nan Thian dengan lembut.
Pai Wang dan Istrinya berduri dari tempat duduk mereka, dengan wajah penuh haru.
Dia menyentuh pundak Nan Thian dengan lembut, seolah olah ingin menguatkan Nan Thian.
Lalu dia membantu Nan Thian bangkit berdiri dan berkata,
"Thian Er terimakasih, maafkan guru dan ibu guru yang egois.."
Nan Thian menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Tidak perlu begitu guru, Nan Thian paham posisi dan kesulitan guru ."
Pai Wang tersenyum penuh haru sekali lagi dia menyentuh pundak Nan Thian dengan lembut.
Sambil tersenyum lembut dia berkata,
"Xue Xue bawalah Nan Thian kembali ke kamarnya untuk beristirahat.."
Xue Xue mengangguk, lalu dia membantu menuntun Nan Thian berjalan meninggalkan tempat tersebut.
Setelah Nan Thian dan Xue Xue pergi seorang murid berjalan masuk berbisik kepada Pai Wang.
Pai Wang mengangguk, Lalu dia memberi hormat kearah ketiga paman gurunya dan berkata,
"Paman guru Wang Er ada sedikit urusan, Wang er mohon permisi duluan.."
"Silahkan saja Wang er, kamu pergilah sibuk urusan mu saja.."
"Tak perlu perdulikan kami ."
Wang Pai mengangguk kecil, kemudian dia berlalu dari sana, bersama murid yang barusan datang melapor.
Sambil melangkah Pai Wang bertanya pada muridnya,
"Sudah berapa lama dia ada di sana..?"
"Sebenarnya dia sudah hampir tiga Minggu di sana, memohon bertemu."
"Tapi dia hanya datang pagi berlutut hingga sore, lalu pulang."
"Tapi 3 hari terakhir ini berbeda, dia terus berlutut di sana tak bergeming."
"Meski di usir, tetap tidak mau pergi."
"Aku khawatir dia mati beku di sana, makanya memaksa melapor ke ketua.."
"Apa dia ada sebut siapa namanya ?"
tanya Pai Wang sambil mengikuti langkah muridnya
"Sepertinya dia pernah sebut Hung apa Chi gitu tapi aku tidak begitu memperhatikan nya.."
jawab murid Pai Wang apa adanya.
__ADS_1
Pai Wang akhirnya tiba di depan halaman depan perguruannya.
Benar saja sesuai laporan muridnya, begitu tiba di lokasi.
Dia langsung bisa melihat, di sana ada seorang pemuda, yang berlutut dengan seluruh tubuh hampir tertutup salju.
Pai Wang memperhatikan wajah pemuda itu dengan lebih teliti, sekilas lihat dia seperti mengenalnya.
Tapi di mana pernah melihat, dia agak lupa, setelah di perhatikan dengan lebih teliti.
Akhirnya Pai Wang teringat, apalagi tadi murid nya ada mengatakan pemuda itu bermarga Hung.
Pai Wang buru buru menghampiri pemuda itu, berjongkok di sampingnya dan berkata,
"Kamu bukannya putranya Hung Si Yi dan Li Se Mei, Ciang Nan Suang Sia bukan..?"
"Mengapa kami bisa ada di sini?"
"Di mana kedua orang tua mu..?"
Pemuda itu tidak mampu menjawab, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Selain bibirnya terus bergemetaran, dengan gigi bergemerutukkan.
Melihat kondisi pemuda tersebut, Pai Wang langsung menoleh kearah muridnya dan berkata,
"Cepat panggil orang kemari.."
"Segera bawa dia kedalam, aturkan tempat tinggal untuk nya.."
"Nanti bila kondisinya sudah stabil, bawalah dia menemui ku."
Lalu sambil menunggu muridnya pergi memanggil rekannya yang lain, untuk datang membantu.
Pai Wang menotok beberapa jalan darah pemuda itu,.dan membantu mengalirkan tenaga sakti kedalam tubuh pemuda itu.
Terutama melindungi jantungnya jangan sampai membeku.
Bertepatan dengan hadirnya beberapa murid Qing Hai Pai di sana
Pai Wang yang merasa kondisi Hung Ping Chi sudah jauh lebih stabil.
Dua segera menghentikan bantuan tenaga dalam nya.
Membiarkan tubuh Hung Ping Chi, di gotong oleh muridnya, masuk kedalam perguruan mereka.
Di tempat lain Xue Xue sendiri setelah membantu Nan Thian kembali ke kamarnya.
Dia langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan obat buat Nan Thian.
Secara tidak sengaja dia menyaksikan beberapa saudara seperguruannya.
Terlihat sedang menggotong tubuh seorang pemuda, yang terlihat seperti orang pingsan.
Masuk kedalam salah satu kamar yang letaknya tidak terlalu jauh dari dapur.
Dengan heran Xue Xue bergerak menyusul mereka masuk kedalam kamar dan bertanya,
"Kakak kakak sekalian sedang apa,?
__ADS_1
Salah satu diantara mereka yang menoleh kearah Xue Xue segera menjawabnya.
"Kurang tahu juga Siau Semei, kami hanya menjalankan perintah guru untuk membawanya kemari ."
"Kemungkinan guru ingin menerimanya sebagai murid di sini.."
Xue Xue menatap dengan penasaran dan kembali bertanya,
"apa yang sedang terjadi dengan nya..?"
"Mengapa dia bisa begitu..?"
"Begini Siau Semei, 3 Minggu yang lalu, dia datang mohon bertemu dengan guru, ingin di terima sebagai murid disini.."
"Tapi seperti yang Siau Semei ketahui setelah kejadian yang menimpa Nan Thian Sexiong.."
"Guru sangat sibuk dan banyak pikiran, begitu pula para tetua.."
"Jadi kami mana berani pergi melapor dan menganggu guru, untuk hal hal seperti itu.."
"Tapi pemuda keras kepala ini, 3 hari terakhir tidak mau pergi, dia terus berlutut di depan halaman perguruan kita.."
"Tanpa makan tanpa minum, di guyur salju terus menerus, ya beginilah jadinya.."
ucap murid yang pergi melapor pada Pai Wang sebelumnya, memberi penjelasan.
"Ya sudah kalian tinggalkan saja dia, kebetulan aku sedang mau masak obat untuk Nan Thian Sexiong.."
"Biar aku saja yang nanti mengurusnya sekalian.."
ucap Xue Xue yang merasa kasihan dengan kondisi Ping Chi.
"Baiklah Siau Semei terimakasih banyak kalau begitu ."
ucap keempat murid yang menggotong Hung Ping Chi kedalam kamar tersebut.
"Bukan masalah cuma sekalian saja.."
ucap Xue Xue sambil tersenyum lembut.
Setelah keempat orang Sexiong nya pergi, dengan penuh penasaran Xue Xue mendekat untuk melihat lebih jelas wajah nya Hung Ping Chi.
Xue Xue sedikit tertegun melihat wajah Hung Ping Chi, yang ternyata parasnya sangat tampan.
Meski wajahnya terlihat agak pucat dengan bibir kebiruan dan sepasang mata terpejam rapat.
Tapi kulit wajahnya yang halus putih, di tunjang dengan alisnya yang hitam tebal dan agak panjang.
Terlihat sangat serasi dengan hidungnya yang kecil mancung, bibir tipis agak kecil, dengan bentuk wajah panjang lancip.
Semua ini benar benar membuat Hung Ping Chi terlihat sangat tampan.
Tap Xue Xue hanya sesaat saja memandang dan mengagumi ketampanan Hung Ping Chi.
Setelah itu dia sudah meninggalkan kamar tersebut, pergi memasak obat, sekalian menyiapkan sup hangat.
Untuk membantu menghangatkan tubuh Hung Ping Chi, agar cepat pulih kembali keadaan nya.
Xue Xue terlebih dahulu mengurus obat untuk Nan Thian, setelah selesai dia antarkan buat Nan Thian.
__ADS_1
Dia baru buru kembali untuk mengurus sup buat Hung Ping Chi..