PENDEKAR API DAN ES

PENDEKAR API DAN ES
HIDUP BERDUA


__ADS_3

Tapi di saat mereka berdua sedang larut dalam kehangatan dan kemesraan.


Di mana Fei Hsia terlihat semakin terbuai oleh ciuman Fei Yang, yang dari bibir, kini mulai berpindah kearah leher.


Tiba-tiba di dalam pikiran Fei Yang terlintas secara samar samar sosok yang ada dalam mimpinya.


Fei Yang mencoba mengabaikan nya, dan kembali mencoba meneruskan kegiatannya, bermesraan dengan istrinya.


Tapi bayangan itu tidak berhenti berseliweran dalam pikirannya.


Bahkan kini semakin jelas.


Tatapan mata kesedihan dan di penuhi kekecewaan mendalam, seolah olah sedang menonton apa yang sedang di lakukan oleh Fei Yang.


Perlahan-lahan membuat Fei Yang kehilangan moodnya, Fei Yang akhirnya menghentikan aksinya secara total dan berbisik ke samping telinga Fei Hsia.


"Istriku, kelihatannya masakan nya mulai masak.."


Fei Hsia bagaikan tersengat ular, mendengar bisikan Fei Yang.


Dengan wajah merah menahan malu, karena dirinya telah lepas kontrol.


Terlalu asyik menikmati kemesraan yang di berikan oleh Fei Yang.


Hingga dirinya terbuai, serasa di bawa terbang di awang awang.


Fei Hsia sampai lupa, dirinya sedang masak buat Fei Yang.


Fei Hsia buru buru melepaskan diri dari pelukan Fei Yang, lalu dengan gesit dia buru buru mengangkat masakan nya.


"Sayang tunggulah di depan sana, nanti kita makan bersama di depan sana sebentar lagi."


"Aku mau menyiapkan semuanya dulu.."


ucap Fei Hsia dengan kepala tertunduk pura pura sibuk.


Menghindari rasa canggung dan malu, yang menyelimuti seluruh perasaan nya


Fei Yang belum beranjak, dia menatap Fei Hsia secara diam diam dari belakang.


Dengan tatapan mata di penuhi rasa bersalah.


"Biar saya bantu ya ? kira kira apa yang bisa aku bantu sayang..?*


tanya Fei Yang untuk mengurangi rasa bersalahnya.


Fei Hsia menoleh kearah Fei Yang sambil tersenyum lembut dia berkata,


"Bantu aku bawakan nasi dan peralatan makan saja kedepan.."


"Sisanya aku bisa sendiri.."


Fei Yang mengangguk cepat, dia segera melakukan apa yang di pesan oleh Fei Hsia.


Setelah semua tersusun rapi diruang depan, yang menghadap kearah pepohonan dan laut.


Fei Yang duduk termenung menatap kearah lautan biru,


di dalam hati dia sangat menyesal dan merasa bersalah dengan Fei Hsia.


Fei Yang sambil termenung bergumam dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.


"Wanita yang begitu baik dan sangat cantik ini adalah istri sah mu. mengapa di saat momen terindah nya.?"


"Kamu tega sekali, di momen seperti itu, kamu malah memikirkan gadis lain."


"Terlepas gadis dalam bayangan itu juga tidak kalah cantiknya,

__ADS_1


Kamu juga tidak seharusnya memikirkannya, itu sangat tidak pantas."


"Terlepas siapa pun gadis itu, kamu benar benar tidak layak bersikap seperti itu."


"Kali ini kamu beruntung karena dia kebetulan sedang masak, jadi kamu punya alasan cukup bagus."


"Bila tidak sedang masak, kamu pasti akan sangat menyakiti perasaannya.."


"Fei Yang oh Fei Yang,..kamu ini sungguh tidak mensyukuri apa yang sudah kamu dapatkan.."


"Apakah kamu baru akan sadar dan menyesal, bila sudah kehilangan dia.."


"Kamu pasti akan sangat menyesal nantinya.."


"Sadarlah Fei Yang, sadarlah.."


"Kamu tidak boleh menyakitinya dengan cara seperti itu.."


ucap Fei Yang dalam hati sambil terus menatap kearah laut biru, dengan wajah penuh rasa bersalah.


"Makanan datang.."


terdengar suara lembut Fei Hsia sambil menghampiri Fei Yang dari arah belakang.


Fei Yang segera tersadar dari lamunannya dan berkata,


"Mari saya bantu, istri ku kamu duduk lah.."


"Minum dulu, kamu pasti haus.."


ucap Fei Yang lembut, sambil menyodorkan semangkuk air buat Fei Hsia.


Fei Hsia menerimanya sambil tersenyum lembut dan berkata pelan,


"Terimakasih sayang.."


Fei Yang dengan lembut menggunakan ujung lengan bajunya.


Membantu menghapus keringat di kening dan di leher Fei Hsia.


Fei Hsia melirik kearah Fei Yang, dengan tatapan mata penuh terimakasih dan terlihat sangat bahagia.


Sehabis minum, sambil tersenyum bahagia Fei Hsia segera membantu mengambilkan nasi dan lauk buat Fei Yang dan berkata,


"Ciciplah, aku tidak tahu apakah masih sesuai dengan selera kakak Yang.."


Fei Yang tersenyum menerimanya, lalu berkata,


"Terimakasih sayang, apapun yang kamu masak aku pasti cocok.."


"Mari kita makan sama sama.."


Fei Hsia mengangguk cepat, dia terlihat sangat antusias menikmati makanan di hadapannya dengan penuh rasa bahagia.


Melihat Fei Yang sangat menikmati masakannya.


Sambil makan Fei Yang berkata,


"Sayang udang dan ikan ini luar biasa enak dan masih sangat segar dagingnya.."


Fei Hsia tersenyum dan berkata,


"Bila kakak Yang suka nanti sore aku akan masak lagi.."


"Di luar sana stoknya melimpah, tidak akan takut habis.."


"Takutnya kita yang tidak mampu menghabiskan nya.."

__ADS_1


"Besok aku akan ganti masak udang yang berukuran sebesar ibu jari.."


"Dagingnya bakal jauh lebih gurih dan manis ketimbang yang besar besar ini.."


ucap Fei Hsia penuh semangat.


"Aku bantu tangkap ya..?"


ucap Fei Yang antusias.


"Boleh tapi jangan pakai energi setrum mu ya..nanti daging udang nya hancur rasanya kurang enak lagi.."


ucap Fei Hsia mengingatkan sambil tersenyum.


"Siap tuan putri, semua mendengarkan pengaturan mu.."


ucap Fei Yang sambil tertawa


Fei Hsia pun ikut tertawa, melihat tingkah lucu Fei Yang.


Selesai makan Fei Yang pun berkata,


"Hsia Mei aku gerah mau mandi,kamu mau ikut..?"


Fei Hsia melirik kearah Fei Yang sambil tersenyum malu, dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Kamu saja duluan, aku mau bersihkan peralatan ini dulu."


"Nanti gantian saja.."


Fei Yang menatap Fei Hsia dan berkata,


"Aku bantu cuci ya..?"


"Gak usah, aku bisa sendiri.."


"Kakak Yang langsung aja duluan.."


ucap Fei Hsia sambil mendorong Fei Yang berjalan menuju jendela kamar tidur.


Dari sana dengan sekali dorong Fei Yang pun langsung terbang bebas jatuh kedalam kolam air terjun, dibawah sana.


Fei Hsia tertawa senang melihat Fei Yang sudah muncul kembali kepermukaan dengan seluruh pakaian ikut basah.


"Kakak Yang pakaiannya letakkan saja di atas batu, nanti aku bantu cuci sekalian..!"


teriak Fei Hsia dari atas sambil menahan tawa.


Fei Yang mengangguk, lalu dia melepaskan seluruh pakaiannya, dan meletakkannya di atas batu, di pinggiran kolam.


Fei Hsia yang malu melihat Fei Yang dalam keadaan polos di dalam kolam berair jernih.


Dia memilih buru buru pergi membereskan peralatan makan mereka berdua.


Dia membawa semua nya pergi cuci, termasuk perlengkapan dan peralatan masaknya.


Setelah Fei Hsia selesai mencuci dan merapikan semuanya.


Dia baru pergi ke pinggir kolam dengan jantung berdebar kencang.


Tapi saat tiba di sana.


Melihat kolam kosong tidak ada siapapun di sana.


Fei Hsia pun bisa bernafas lega, setelah melihat kesana kemari memastikan Fei Yang tidak sedang mengintipnya dari atas sana.


Fei Hsia baru melepaskan seluruh pakaiannya, bersembunyi dan mandi di balik sebuah batu besar di pinggir kolam.

__ADS_1


__ADS_2