
Xue Lian mencari semalam suntuk hingga fajar menyingsing, tapi gadis malang itu tidak berhasil menemukan petunjuk apapun di sana.
Xue Lian duduk termenung di depan sebuah pondok, yang sudah roboh berantakan bangunan nya.
Xue Lian dengan sedih termenung memikirkan kemana perginya Fei Yang.
Tiba-tiba sepasang matanya berbinar binar, dia segera bangun dan berlari menghampiri potongan tubuh Wu Hui Lao Jen.
Xue Lian berjongkok memeriksa potongan tubuh itu dengan meraba sana sini.
Tapi Xue Lian menghela nafas kecewa, karena dia tidak berhasil menemukan benda yang dia inginkan.
Sambil berdecak kesal, Xue Lian berjalan sambil menendang nendang apapun yang ada di hadapannya.
Tanpa sengaja kakinya menendang sebuah gundukan kecil, sebuah benda biru berkilauan terbang keudara.
Akibat terkena tendangan ujung sepatu Xue Lian yang sedang iseng, untuk mengurangi rasa kecewa dan kesalnya.
Melihat benda berkilauan terbang di udara, Xue Lian dengan ringan melayang keudara menyambar benda itu.
Ternyata benda itu adalah sebuah kalung dengan liontin batu permata biru.
Xue Lian langsung mengenakan kalung itu ke lehernya, dia mencoba fokus, seperti cara dia ingin melihat isi gelang penyimpanan nya.
Xue Lian terbelalak kaget saat melihat luasnya isi tempat penyimpanan kakek Wu Hui Lao Jen.
Saking luasnya tempat penyimpanan itu mirip suatu dunia lain.
Xue Lian melakukan fokus mencari cermin ajaib, seperti yang pernah dia dengar dari cerita kedua orang tua nya.
Akhirnya dia berhasil menemukan apa yang di carinya, tak lama kemudian benda itu sudah muncul di hadapan nya.
Xue Lian mengeluarkan cermin itu dari dalam gelang penyimpanan nya.
Xue Lian mencoba berulang kali mengaktifkan benda itu, tapi hasilnya nihil.
Setelah memeriksa cermin itu berulang kali, tetap saja tidak berhasil.
Xue Lian dengan lesu membawa benda tersebut kembali kehadapan kedua orang tua nya.
"Ayah Ibu aku kembali..!"
teriak Xue Lian dari depan pondok dengan ekspresi wajah kecewa lesu dan kesal.
Tak lama kemudian dari dalam pondok, terlihat ayah nya berjalan keluar dari dalam pondok, sambil di bantu oleh ibunya dengan hati hati.
"Anak ku syukurlah kamu sudah kembali, bagaimana dengan keadaan Fei Yang kekasih mu itu ?"
tanya Ayah Xue Lian ingin tahu.
"Dia bukan lagi kekasih ku ayah, dia sekarang adalah suamiku .."
__ADS_1
ucap Xue Lian dengan wajah cemberut.
Kedua orang tua nya saling pandang sejenak.
Ibu Xue Lian yang buka pembicaraan,
"Ini salah kita, kita yang tidak bisa hadir di pernikahannya."
"Bukan dia sengaja menikah tanpa ijin kita."
"Lagi pula suami pilihannya adalah pemuda yang luar biasa dan sangat tepat bersanding dengan putri kita.."
ucap ibu Xue Lian sambil tersenyum penuh pengertian.
Ayah Xue Lian mengangguk setuju dengan ucapan istrinya.
Dia kembali menoleh kearah putrinya dan berkata,
"Lian er, di mana suami mu,..? mengapa kamu cuma kembali sendirian, ? apa telah terjadi sesuatu dengan suami mu ?"
Xue Lian menghampiri kursi dipan di depan pondok, dengan wajah kesal dia menghempaskan pantatnya diatas dipan tersebut dan berkata,
"Kakak Yang hilang, aku tidak tahu dia pergi kemana, disana hanya ada potongan tubuh kakek Wu Hui Lao Jen.."
"Lain tidak ada, termasuk petunjuk kakak Yang kemana juga tidak ada."
Sambil menghela nafas kesal, Xue Lian mengeluarkan cermin ajaib dan meletakkan nya di hadapan kedua orang tuanya, lalu berkata.
"Tadinya aku berharap cermin ini bisa membantu ku menemukan kakak Yang.."
ucap Xue Lian sambil memandangi cermin di tangan nya dengan kecewa.
"Kemarikan nak, biar ibu lihat dan mencobanya.."
ucap ibu Xue Lian sambil mengulurkan tangannya kehadapan putrinya.
Xue Lian sambil mendengus kecewa, dia menyerahkan cermin di tangan nya.
Ibu Xue Lian menelitinya beberapa saat, sebelum dia menirukan gerakan yang pernah di tunjukkan oleh Wu Hui Lao Jen.
Saat dia menggunakan cermin itu mencari keberadaan Zhu Quanzong musuh bebuyutan suaminya.
Tak lama kemudian di dalam cermin mulai keluar gambar, jalan pertarungan akhir Fei Yang melawan Wu Hui Lao Jen.
Di mana Wu Hui Lao Jen terlihat tewas mengenaskan di tangan Fei Yang.
Sedangkan Fei Yang sendiri jatuh tak sadarkan diri, dan di bawa pergi oleh seorang pria berwajah cemerlang dan memegang sebatang suling hitam di tangan.
Sampai di sana semua pun berakhir.
Ternyata Ibu Xue Lian hanya berhasil mengaktifkan memori terakhir, yang di simpan oleh cermin itu di tempat kejadian.
__ADS_1
Di luar itu cermin itu tidak bisa memberikan informasi lebih lengkap.
Xue Lian dan ayah ibunya yang melihat tayangan kilas balik itu.
Mereka hanya bisa menduga duga siapa kiranya, tokoh berwajah cemerlang itu.
Tiba-tiba Xue Lian yang sedang mencoba mengingat ingat satu persatu kejadiannya selama di lembah.
Dia menepuk pahanya sendiri dengan keras dan berkata,
"Pasti dia,.. pasti ada hubungannya dengan dia, tidak salah lagi..!"
"Selain dia tidak akan ada orang lain yang akan membawa pergi Fei Yang.."
"Siapa nak,..? apa maksud mu dengan dia orangnya ? apa kamu mengenal pemuda tadi..?"
tanya ibu Xue Lian penasaran.
Xue Lian menatap kedua orang tua nya secara bergantian dan berkata,
"Ayah ibu, tokoh yang membawa kakak Yang tentu aku tidak mengenalinya.."
"Tapi suling hitam di tangannya itu, aku yakin dia pasti ada hubungannya dengan tokoh penjaga lembah yang kami kalahkan sebelumnya.."
"Senjata dan ilmu yang mereka gunakan sangat mirip, aku yakin mereka pasti punya hubungan."
"Siapa tokoh yang kalian kalahkan nak ?"
tanya ayah Xue Lian ingin tahu.
"Kakek Wu ayah, dia adalah pemilik pulau pelangi, istri dan cucunya tinggal di lembah menjadi tetangga ayah. "
"Aku yakin pasti mereka yang membawa pergi kakak Yang."
"Mereka memanfaatkan situasi kakak Yang sedang tidak sadarkan diri."
"Lalu mereka membawa kakak Yang pulang ke pulau pelangi..'
"Apa yang membuat mu begitu yakin nak ? lagipula suami mu Fei Yang bukan orang lemah, bila dia sadar dan menyadari dirinya di culik orang.."
"Orang orang itu pasti akan dalam masalah besar.."
ucap ayah Xue Lian.
"Ayah mu benar, kalau benar mereka membawa suami mu pergi, mereka pasti akan dalam masalah, suami mu tetap saja akan kembali kemari mencari mu.."
ucap Ibu Xue Lian menguatkan ucapan suaminya.
Tapi Fei Hsia menggelengkan kepalanya dan berkata,
"Xue Lian yakin karena cucu kakek Wu itu, kelihatannya sangat menyukai dan menaruh perhatian khusus terhadap kakak Yang ."
__ADS_1
"Dari awal pertemuan aku sudah menyadari hal itu, tapi aku tidak terlalu ambil perduli.."
"Tapi kini situasi berbeda, jadi aku yakin pasti mereka."