
Pangeran Wuluzhen tidak menghiraukan teriakan penolakan Siao Tie yang ketakutan.
Dia memegangi kedua tangan Siau Tie dengan kuat menelikung nya kebelakang.
Lalu dia menciumi leher Siau Tie yang jenjang dan putih mulus dengan kasar dan rakus.
Siao Tie terlihat sangat jijik dan menderita, dia terus menggeliat dan berusaha menghindar dengan menggelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Brewok kasar Wuluzhen yang panjang dan kasar, menusuk nusuk menimbulkan rasa geli dan kurang nyaman bagi Siau Tie.
"Ahhh,...! tuan jangan.. hentikan lepaskan aku..!"
teriak Siao Tie semakin panik ketakutan, karena ciuman ganas Wuluzhen mulai bergerak menurun kebawah.
Sepasang tangan yang ditelikung kebelakang pun kini mulai di kunci oleh satu tangan Wuluzhen.
Sedangkan tangan Wuluzhen satunya lagi yang bebas mulai bergerak liar meremas kemana mana.
Fu Ma Ma yang sudah tiba di sana ingin maju mencegah Wuluzhen bertindak terlalu jauh.
Dia malah terkena tamparan dari Lim Ping Chi.
"Plakkkk..!"
"Aduhhhh..!"
jerit Fu Ma Ma kesakitan, wajahnya yang sebelumnya, sudah bengkak di pipi kanan, kini menjadi seimbang.
Kiri kanan bengkak, dengan kedua ujung bibir robek berdarah.
Dia terpelanting jatuh diatas lantai hingga sulit bangun dan bicara.
Melihat nyonya besarnya mengalami penganiayaan, tentu saja beberapa pengawal dan pelayan peliharaan Fu Ma Ma tidak terima.
Mereka segera mencabut senjata, siap maju menyerang Lim Ping Chi.
"Berhenti,! mundur kalian,..! jangan ikut campur..!"
bentak Lim Ping Chi dengan tatapan mata mengancam.
"Wutttt..! Wutttt..! Wutttt..!"
"Wutttt..! Wutttt..! Wutttt..!"
"Wutttt..! Wutttt..! Wutttt..!"
Senjata para pengawal dan pelayan Fu Ma Ma, berseliweran menyerang Lim Ping Chi.
Mereka tidak menghiraukan bentakan Lim Ping Chi.
Mereka hanya tahu melindungi tuan mereka dari pengunjung tidak sopan dan pembuat onar.
Mereka sama sekali tidak tahu latar belakang ketiga orang itu.
mereka tidak sadar yang mereka serang adalah penguasa kota itu.
Fu Ma Ma yang tidak sempat mencegahnya, karena mulutnya tidak bisa di gunakan untuk berbicara.
Dia terpaksa hanya bisa melihat hal itu berlangsung di depan matanya dengan wajah pucat ketakutan.
"Plakkkk,.! Plakkkk,.! Desss..!"
"Plakkkk,.! Plakkkk,.! Desss..!"
"Plakkkk,.! Plakkkk,.! Desss..!"
Lim Ping Chi bergerak cepat, hilang menyelinap diantara sambaran senjata, yang datang.
__ADS_1
Sambil membalas menyerang mereka kembali, dengan tamparan sepasang telapak tangannya, yang mengeluarkan cahaya kehijauan.
Para pengawal dan pelayan bernasib sial itu, langsung bergelimpangan merintih rintih diatas lantai menyusul Fu Ma Ma, tidak sanggup berdiri lagi.
Sesaat kemudian rombongan pria berbaju hijau masuk kedalam ruangan.
Mereka langsung menarik semua pengawal dan pelayan Fu Ma Ma meninggalkan ruangan tersebut dengan kasar.
Para pengawal berbaju hijau ini, tadinya sedang bersenang senang di kamar lain.
Sehingga mereka telat menghalau kedatangan Fu Ma Ma dan para pengawal itu.
Dengan adanya insiden keributan tersebut, Lim Ping Chi sekalian mengusir dan menghalau semua orang meninggalkan ruangan tersebut.
"Ayo keluar semua nya, tinggalkan ruangan ini..!"
bentak Hung Ping Chi.
Sehingga Fu Ma Ma dan semua orang yang hadir di sana terpaksa meninggalkan tempat itu.
Qi Lian Lao Koai guru Hung Ping Chi, dia terlihat ikut keluar dari sana sambil menyeret Siau Lan dan Siau Cui ikut dengan nya.
Kedua gadis itu tidak sanggup melawan kakek yang pegangan tangannya sangat kuat itu.
Bagaimana pun mereka meronta, mereka tetap tidak bisa melepaskan cengkraman kuat tangan kakek tua itu.
Sehingga selain menangis dan mengikuti langkah kaki kakek tua, yang setengah menyeret paksa mereka mengikuti nya.
Mereka berdua tidak bisa apa-apa.
Sementara keributan sedang berlangsung, di ruangan depan, di ruangan belakang, Wuluzhen justru sedang beraksi mengerayangi tubuh Siao Tie yang montok, dengan bernafsu.
Di mana Xiao Tie yang terlihat menyedihkan, hanya bisa menjerit dan berusaha meronta-ronta, ketakutan
Wuluzhen sendiri sambil menggerayangi tubuh Siao Tie, dengan penuh nafsu.
Xiao Tie yang tidak tahu harus bagaimana mencegah binatang itu melecehkan dirinya.
Dengan nekad, dia mengigit daun telinga Wuluzhen, dengan sekuat tenaganya.
"Aduhhh,..!"
jerit Wuluzhen kesakitan.
Secara reflek, dia langsung melepaskan pegangan tangannya, yang mengunci kedua tangan Siao Tie.
Lalu bergerak mundur menjauhi Siao Tie, sambil memegangi daun telinga nya yang sedikit sumbing terkena gigitan Siao Tie..
Siao Tie juga buru buru meludahkan bagian daun telinga Wuluzhen, yang ada di mulutnya keatas lantai.
Sesaat kemudian Wuluzhen dengan sangat marah kembali maju menangkap Xiao Tie dengan kasar.
"Aduhhhh, lepaskan aku..! jangan..!"
Jerit Siao Tie ketakutan.
Tapi Wuluzhen tidak menghiraukan nya, dia langsung memanggul tubuh kecil Xiao Tie ke pundaknya.
"Tolong...!tolong...! jangan lepaskan aku bajingan jahat,..aku tidak mau..!"
jerit Siao Tie histeris, sambil memukul-mukul punggung Wuluzhen, dengan kedua tinju kecilnya, yang tidak terasa oleh Wuluzhen.
Wuluzhen memanggul Siao Tie hingga tiba di depan ranjang.
"Brukkkk..!"
Wuluzhen membanting tubuh Siao Tie dengan kasar keatas kasur.
__ADS_1
"Ahhhh...!"
jerit Siao Tie kaget.
Wuluzhen langsung melompat menerkam kearah Siao Tie.
Tapi Siao Tie masih sempat menghindar dengan menggulingkan tubuhnya kesamping.
Lalu dia hendak bangkit berdiri meninggalkan ranjang.
"Breeet...!"
Saat Siao Tie mencoba melarikan diri, baju bagian punggungnya sempat tertangkap oleh Wuluzhen.
Sehingga robek besar hingga menampilkan lekuk lengkung bagian punggungnya yang indah putih mulus.
Menurun hingga mendekati lekuk bokongnya yang mulus.
"Aihhhh..!"
Siao Tie sambil menjerit kaget, berusaha memegangi bagian depan pakaian depannya, agar jangan sampai melorot kebawah.
Melihat pemandangan itu, Wuluzhen semakin gila, sebelum Siao Tie sempat kabur.
Wuluzhen sudah menarik kedua pundak Siao Tie, yang berkulit lembut membantingnya dengan kasar keatas kasur.
"Brukkk..!"
"Ahhhhh..!"
jerit Siao Tie kaget.
Sekali ini Siao Tie tidak berkutik lagi, Wuluzhen sudah mengunci kedua tangan nya keatas, sambil menindih tubuh Siao Tie yang kecil di bawah sana.
"Jangan,..! Jangan...! lepaskan aku,.. tolong...! tolong...!"
"Kakak tampan tolong aku...!"
"Kakak tampan,.. tolong selamatkan aku kak...!"
"Tolong...!"
teriak Siao Tie sambil meronta ronta dan menendang kesana kemari dengan penuh ketakutan.
Gerakan menendang kesana kemari Siao Tie, tanpa sadar, malah memuluskan, posisi Wuluzhen, masuk kebagian tengah nya.
Menyadari kesalahannya, Siao Tie pun melotot dengan sepasang mata, yang seperti mata seekor kelinci yang sedang ketakutan.
"Ahhh,..Jangan..jangan..!"
teriak Siao Tie ketakutan dengan airmata bercucuran.
"Berteriak lah sesuka hati mu kuda betina liar,"
"Sebentar lagi aku akan memberi mu kenikmatan terindah, kamu tidak akan berteriak lagi.."
"Kamu justru akan ketagihan, dan minta tambah,.. ha..ha..ha..!"
ucap Wuluzhen sambil tertawa seram.
"Breeet...!"
kembali terdengar kain robek, kini pakaian bagian depan Siao Tie pun terbang melayang keluar dari balik ranjang.
"Ahhh jangan... jangan...jangan..aduh sakit jangan..!
"Kakak tampan,..! ku mohon, tolonglah Siao Tieeeee...!!!!"
__ADS_1